Dimas, Sosok Khabib dari Universitas Esa Unggul - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Muhammad Khairur Rasyid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 9 November 2020 13:53 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Dimas, Sosok Khabib dari Universitas Esa Unggul

    Tidak hanya berprestasi di bidang Akademis saja, para mahasiswa Universitas Esa Unggul pun banyak berprestasi di bidang non akademis seperti yang dibuktikan oleh salah satu mahasiswa UEU yang menggeluti dunia bela diri MMA (Mixed Martial Arts). Jika Rusia memiliki Khabib Nurmagomedov, UEU memiliki Dimas wiradinata (20190401060) mahasiswa Fakultas Hukum. Dimas yang telah menggeluti berbagai macam jenis bela diri seperti Judo, Boxing dan Brazilian Jiu-jitsu menjatuhkan hatinya pada olahraga MMA.

    Dibaca : 2.606 kali

     


    Esaunggul.ac.id, Tidak hanya berprestasi di bidang Akademis saja, para mahasiswa Universitas Esa Unggul pun banyak berprestasi di bidang non akademis seperti yang dibuktikan oleh salah satu mahasiswa UEU yang menggeluti dunia bela diri MMA (Mixed Martial Arts).

    Jika Rusia memiliki Khabib Nurmagomedov, UEU memiliki Dimas wiradinata (20190401060) mahasiswa Fakultas Hukum. Dimas yang telah menggeluti berbagai macam jenis bela diri seperti Judo, Boxing dan Brazilian Jiu-jitsu menjatuhkan hatinya pada olahraga MMA.

    Dalam penampilan perdananya di ajang MMA Pride TV One, Dimas mengatakan dirinya mempersiapkan pertandingannya sejak dua bulan sebelumnya dengan melakukan latihan yang intensif. "Persiapan yang dilakukan lumayan intensif untuk pertandingan perdana saya, saya pun ingin memaksimalkan pertandingan ini dan bersyukur saya mampu tampil maksimal," ucapnya

    Dalam laga yang digelar pada 31 Oktober, Dimas berhasil mengalahkan lawanya lewat teknik Kuncian di ronde 1. Dengan kemenangan ini, Dimas berhasil melanjutkan kiprahnya di ajang MMA Pride TV one.

    Harus konsisten

    Dalam mempersipakan pertandinganya, Dimas harus mampu konsisten terhadap pilihannya, dirinya pun mesti mengatur antara jadwal latihan dengan kuliah. Karena hanya dengan konsisten Dimas mampu memaksimalkan latihan.

    "Pada saat ada jam kuliah saya izin kepada pelatih untuk mengikuti kelas online, kemudia saya latihan kembali, memang melelahkan namun jika saya menyerah, hal itu malah membuat semua hasil kerja keras saya sia-sia," ungkapnya.


    Dimas pun menerangkan Setelah pertandingan ini Ada pertandingan selanjutnya akan di panggil bertanding lagi dan menyiapkan diri untuk pertandingan selanjutnya untuk memperbaiki ranking. Rencana nya kedepan bisa juara di nasional dan mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.

    "Nikmatin semua proses yg kamu lalui jika ingin mendapatkan hasil yg memuaskan, Mengalahkan  diri sendiri adalah kunci kemenangan Saya bukan orang yang paling pintar Saya juga bukan orang yang paling kuat, Tapi apa yang membuat saya trus maju? Karena saya yg paling tekun dan menikmati proses tersebut Usaha yg trus dilakukan, walaupun Sesulit apapun situasinya dan  Usaha yg trus dilakukan,setidak nyaman apapun kondisinya" tuturnya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Supartono JW

    Sabtu, 6 Februari 2021 21:14 WIB

    Sepak Bola Akar Rumput Tak Bertuan, Orang Tua Cerdas dan Bijak Memilih Kompetisi

    Dibaca : 970 kali

    Bila anak Bapak dan Ibu, passionnya bukan sepak bola, terdeteksi tak memiliki Teknik, Intelegensi, Personaliti, dan Speed (TIPS) sebagai pesepak bola, jangan paksakan anak menggeluti sepak bola. Jadikan sepak bola olah raga hobi, dan biarkan anak berkembang sesuai.passion untuk kehidupannya kelak. Jangan anak di antar untuk bermimpi menjadi pemain timnas, bila di SSBnya saja tak masuk standar TIPS pemain. Jadilah orang tua yang bijak. Bila Bapak dan Ibu, menyadari bahwa anaknya ternyata passionnya di sepak bola dan memiliki TIPS yang memenuhi standar, jangan ambisi, jangan egois, jangan menyakiti SSB yang telah membina anaknya terlebih dahulu, dan penjadi petualang, masuk di berbagai tim yang mengimingi gratisan pun jumawa karena merasa anaknya hebat. Ini justru menjatuhkan kecerdasan dan personaliti anak, attitude anak. Hingga malah akan dikucilkan oleh berbagai pihak. Ingat, timnas itu hanya butuh 11 pemain, line-up 18 pemain atau didaftarkan  23 pemain atau 30 pemain dalam sebuah event. Kembali ke masalah ada operator kompetisi baru dari pihak swasta yang dihelat baik oleh pemain baru maupun dari Klub Liga 1, kepada para orang tua, lihatlah latar belakangnya, visi-misi dan tujuannya, lihat anggarannya. Kepada publik sepak bola nasional, hingga artikel ini saya tulis, inilah fakta sepak bola di Indonesia yang terus dibiarkan kusut. Menyedihkan.