Nadiem Melawan Kebuntuan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Citra Cita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Kamis, 12 November 2020 06:19 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nadiem Melawan Kebuntuan


    Dibaca : 580 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Telah 7 bulan Indonesia diterjang pagebluk virus Covid-19. Bahkan akan masuk 8 bulan. Keadaan yang menghantam segala lini. Kesehatan, ekonomi, dan pergerakan aktivitas. Salah satunya, ke aktivitas pendidikan nasional. Kegiatan belajar-mengajar seperti biasa jadi mandeg. Dihentikan dulu sementara.

    Alasannya sangat logis: menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik, orang tua serta para Guru dari terpapar virus Covid-19. Kemudian, bagaimana belajar-mengajarnya? Apakah murid tetap bakal berilmu cerdas kalau proses belajar-mengajar tatap muka sementara berhenti?

    Gelisah yang wajar. Indonesia --dan kita-- baru kali ini menghadapi krisis wabah yang harus menganggu pendidikan nasional. Tapi nyatanya keraguan, kegundahan, kecemasan tadi rasanya sirna begitu saja. Tidak jadi ketakutan yang berlebihan.

    Sebab satu sosok, Nadiem Makarim, Mendikbud di kabinet pemerintahan Presiden Jokowi jilid kedua. Faktanya murid tetap diberikan pengajaran oleh guru. Murid tetap seperti seolah di sekolah: menerima materi pelajaran. Guru juga tetap melakukan tugasnya: mengajar.

    Semua berproses seperti biasa. Tidak jadi kekhawatiran akut terhadap pendidikan di Indonesia. Karena kepiawaian Nadiem. Harus diakui begitu.

    Nadiem ini anak muda yang teruji. Dulu pebisnis transportasi online Gojek. Jelas, punya 'menta baja'. Sebab, pada akhirnya mampu menjadikan Gojek berstatus decacorn. Usaha yang tidak mudah. Makanya 'bermental baja'.

    Lalu, geliat bisnisnya yang bermodalkan teknologi digital, maka menuntutnya harus berpikir cerdas, kreatif, inovatif dan 'mendobrak'.

    Bayangkan saja, saat penggunaan jasa transportasi masih manual, Gojek --yang dirintis Nadiem-- muncul dengan terobosan baru. Karakter cerdas, kreatif, inovatif, 'mendobrak' dan 'bermental baja' inilah yang dibutuhkan untuk proses pendidikan di Tanah Air saat situasi pagebluk begini.

    Nyatanya, memang begitu. Kebebasan. Keleluasaan. Itulah yang diberikan Nadiem bagi murid dan Guru untuk proses belajar-mengajar selama keadaan pagebluk.

    Bagi Nadiem sangat sah hukumnya guru menciptakan kreativitas, inovasi dan 'mendobrak' untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ). Jangan harus kaku dengan aturan.

    Ketika Guru punya cara unik dalam PJJ, silahkan lakukan. Jangan takut berbeda dan berbenturan dengan aturan yang melekat selama ini seperti biasanya. Buka luas ide, gagasan, metode dalam PJJ. Asal tetap sesuai arah serta tujuan dari pendidikan nasional.

    Kiranya itulah kunci selama ini tentang tetap lajunya proses belajar-mengajar selama ini dalam keadaan pagebluk. Semangat dan karakter Nadiem yang 'ditularkan' ke wajah pendidikan Indonesia.

    Ketika terhambat dengan akses teknologi --internet misalnya-- Nadiem tidak mengikatnya dengan aturan baku. Lakukan dengan cara lain yang mengandalkan kreativitas, inovasi serta 'dobrakan'. Sehingga Guru dan murid punya kebebasan pada situasi kini yang sulit. Dan apa yang diinginkan dari proses pendidikan nasional tetap terealisasi.

    Nadiem juga bukan sepenuhnya diam. Meski menebar spirit kreativitas, inovatif dan 'mendobrak' tadi agar ada kebebasan PJJ. Nadiem tetap berupaya memfasilitasi. Bertanggungjawab.

    Menggandeng TVRI menayangkan program Belajar dari Rumah; subsidi pulsa internet bagi Guru dan murid; membolehkan dana BOS dipakai untuk kegiatan PJJ; dan lainnya.

    Itu semua teknis saja. Yang dapat dimanfaatkan selama PJJ akibat kondisi pagebluk. Ibaratnya: kebijakan pendukung proses PJJ saja.

    Jika Guru maupun murid punya sistem berbeda untuk PJJ, juga tidak masalah. Di situlah esensinya. Substansinya kreatif, inovatif, 'mendobrak'. Nadiem menyebarkan karakter tersebut. Saat memang dibutuhkan pada keadaan sekarang ini.

    Supaya proses pendidikan tidak buntu karena pagebluk.

    Nadiem melawan kebuntuan itu.*

    Ikuti tulisan menarik Citra Cita lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.