City of Intellect, Mengapa Jadi Amburadul? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Amburadul

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 12 November 2020 21:12 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • City of Intellect, Mengapa Jadi Amburadul?

    Bila Jakarta meraih kota dengan predikat transportasi terbaik, di bilang dari hasil kerja pemimpin sebelumnya, bukan pemimpin yang menjabat sekarang. Maka, amburadulnya Jakarta berarti juga hasil kerjanya pemimpin sebelumnya, bukan pemimpin sekarang. Mungkin?

    Dibaca : 518 kali

    Bila Jakarta meraih kota dengan predikat transportasi terbaik, di bilang dari hasil kerja pemimpin sebelumnya, bukan pemimpin yang menjabat sekarang. Maka, amburadulnya Jakarta berarti juga hasil kerjanya pemimpin sebelumnya, bukan pemimpin sekarang. Mungkin?

    Gara-gara Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan survey dan akhirnya menghasilkan nama kota di Indonesia yang masuk ke dalam kriteria City of Intellect, Kota Jakarta jadi disebut kota amburadul. Mirisnya, dasar pernyataan menyebut kota amburadul malah tidak nyambung dengan kriteria City of Intellect seperti yang dimaksud oleh UNJ.

    Dalam tayangan Sapa Indonesia Malam Kompas TV, Rabu, 11 November 2020, salah satu narasumber, yaitu Ketua Senat sekaligus Guru Besar UNJ, Hafid Abbas yang mengungkapkan apa kriteria city of intellect sehingga juaranya adalah Semarang disusul Solo dan Surabaya, ternyata disimpulkan oleh pembawa acara Aiman, tak nyambung dengan sebutan Kota Jakarta amburadul oleh Megawati.

    Amburadul adalah

    Lalu apa City of Intellect itu? Masyarakat harus paham dan tidak semakin bertambah amburadul memahaminya. Sebab, amburadul sendiri maknannya centang perenang; berantakan; porak-poranda.

    Masa, Jakarta yang baru terpilih sebagai kota terbaik dalam acara penganugerahan Sustainable Transport Award 2021 atas kemajuan yang terjadi pada sistem transportasi publik dan mobilitas, disebut berantakan atau porak-poranda?

    Jadi, masyarakat pikirannya jangan ikut-ikutan "amburadul" porak-poranda memahami City of Intellect. Hati-hati mengeluarkan pernyataan atau komentar bila tak memahami makna pernyataan atau komentarnya sehingga dapat menunjukkan dirinya intelek atau tidak.

    Seperti telah terpiblikasi di media massa, sebelum penghargaan ‘City of Intellect’ diselenggarakan, ada satu diskusi di kampus UNJ yang membahas tentang konsep tersebut.

    Diskusi dengan judul ‘Dari Rawamangun untuk Indonesia: Menapaki Jejak Pemikiran Soekarno tentang City of Intellect’, dihelat pada Rabu 4 November 2020 dan Ketua Senat sekaligus Guru Besar UNJ, Hafid Abbas, mengajak peserta untuk kembali ke Rawamangun pada 15 September 1953. Mengapa kembali ke Rawamangun?

    Ternyata, saat itu Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Asrama Daksinapati dan meninggalkan prasasti bertuliskan ‘Kota Mahasiswa Djakarta’.

    Kampus yang berdiri di Rawamangun pun adalah kampus Universitas Indonesia (UI) karena UNJ atau sebelumnya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta belum lahir. Kampus UI juga khusus untuk fakultas non-eksakta seperti fakultas ekonomi, hukum, hingga sastra.

    Uniknya, prasasti peninggalan Soekarno di Rawamangun itu mendahului zamannya pada 1953. Pasalnya, di tingkat global, gagasan tentang kota mahasiswa (city of student) baru dikenal kalangan akademisi pada tahun 2010 saat Quacquarelli Symonds(QS) bersama Times Higher Education (THE) mempublikasikan hasil studi pemeringkatan kota-kota mahasiswa terbaik di dunia.

    Singkat cerita, dalam diskusi tersebut, sejumlah pembicara di UNJ sepakat bahwa Soekarno telah meletakkan dasar konsep city of intellect. Latarbelakang inilah yang membuat UNJ berinisiatif memberikan penghargaan kepada kota-kota yang dianggap ramah terhadap mahasiswa.

    Sejatinya, istilah city of intellect bukan sesuatu yang asing. Bahkan di tingkat global, istilah ini telah  dikemukakan oleh ekonom AS Clark Kerr sekitar tahun 1960. Clark menggambarkan city of intellect sebagai kota dengan variasi tak terbatas.

    Dalam buku ‘The Future of City of Intellect: The Changing American University’, Clark membayangkan ‘City of Intellect’ sebagai universitas riset. Riset di sini yang terkait langsung dengan masyarakat. Logika kampus semestinya, menurut Clark, berfokus pada penelitian terapan, kontribusi pembangunan ekonomi, dan investasi.

    City of intellect adalah sebuah kota di mana hubungan kampus dan masyarakat tak terpisahkan. Sebuah hubungan yang penuh dialog. Kampus harus menciptakan intelektual terampil yang bisa diterima oleh industri. Sejumlah inovasi di berbagai sektor akan memberikan satu benefit yang besar untuk masyarakat kota. Bahkan, benefit itu akan mengalir ke wilayah-wilayah lain di sekitar kota tersebut. Karenanya kampus harus berbenah. Mahasiswa perlu terjun langsung melihat bagaimana industri itu bekerja. Kualitas pendidikan pun mesti ditingkatkan untuk menciptakan kota intelektual.

    Dengan penjelasan tersebut, mengapa tiba-tiba Jakarta yang ternyata berdasarkan hasil survei UNJ menduduki peringkat ke-6 city of intellect malah dibilang kota amburadul?

    Malah Megawati Soekarnoputri menyebut kondisi Jakarta amburadul karena Jakarta tidak menerapkan konsep city of intellect. Konsep tentang ‘kota mahasiswa’ yang ditawarkan Soekarno.

    Bahkan pernyataan itu disampaikan Mega saat menerima penghargaan ‘City of Intellect’ untuk Kota Semarang yang dipimpin oleh kader PDIP Hendrar Prihadi.

    Anugerah perdana di Indonesia

    Penghargaan itu diberikan oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah ajang penghargaan bagi kota dengan iklim pendidikan tinggi terbaik dan merupakan yang pertama diselenggarakan di Indonesia.

    Meski Mega tak merinci apa sebetulnya konsep city of intellect itu yang ada dibenaknya dan menyayangkan UNJ di Rawamangun, Jakarta, sebagai inisiator penghargaan yang justru belum masuk kategori city of intellect, padahal prasasti tentang konsep tersebut justru berada di sana, tak seharusnya Mega menyebut Jakarta amburadul.

    Sebelum menyebut Jakarta amburadul, Mega juga telah membuat pernyataan kontroversial menyoal milenial. Hingga kini pernyataan tersebut juga masih hangat menjadi pembicaraan milenial dan perwakilan milenial pun banyak yang sudah bicara di berbagai ruang publik membalas dan membalikkan keadaan.

    Kembali menyoal Jakarta amburadul gara-gara tak dipilih oleh UNJ sebagai pemenang city of intellect karena prasastinya justru ada di Rawamangun, apakah UNJ harus memilih Jakarta sebagai juara meski tak masuk kriteria? Pastinya lagi, UNJ tentu juga tak amburadul, apalagi sebagai penyelenggara anugrah city of intellect perdana di Indonesia.

    Artinya, karena sebagai penggagas dan penyelenggara anugrah city of intellect perdana di Indonesia, maka Jakarta yang diwakili oleh UNJ, sudah terlebih dahulu lebih intelek dari yang lain, karena justru dapat menilai kota-kota di Indonesia yang sudah masuk katogeri city of intellect.

    Seharusnya, dengan anugerah ini, menjadi pemicu pemerintah agar seluruh kota di Indonesia dapat menuju city of intelect semua. Bukan jadi ajang pamer kota yang meraih predikat city of intelect karena dipimpin oleh kader partai tertentu.

    Ingat, dianggap berhasilnya Semarang, Solo, dan Surabaya, apa hanya pekerjaan dari pemimpin daerah dari kader partai yang kini menjabat? Tentu tidak. Keberhasilan itu tidak semudah mebalik telapak tangan. Apa keberadaan Universitas di masing-masing kota tersebut yang menjadi salah satu kriteria city of intellect baru berdiri di masa pemimpin sekarang?

    Bila Jakarta meraih kota dengan predikat transportasi terbaik, di bilang dari hasil kerja pemimpin sebelumnya, bukan pemimpin yang menjabat sekarang. Maka, amburadulnya Jakarta berarti juga hasil kerjanya pemimpin sebelumnya, bukan pemimpin sekarang. Mungkin?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.