Babak Baru BBM Ramah Lingkungan, Green Diesel Segera Diproduksi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Selasa, 17 November 2020 06:42 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Babak Baru BBM Ramah Lingkungan, Green Diesel Segera Diproduksi

    Di belakang itu, masyarakat juga harus menyadari proses penting peralihan itu. Menerima adanya selisih harga jika memang harus dilakukan. Semua itu demi menjadikan bumi yang lebih baik di masa mendatang.

    Dibaca : 895 kali

    Perusahaan bahan bakar fosil sering kali dituduh sebagai biang pencermaran, terutama pencemaran udara. Apalagi tren di dunia internasional memang sedang bergeser dalam mewujudkan energi yang lebih ramah lingkungan. Praktislah perusahaan bahan bakar fosil semakin terpojok. Mereka dijadikan tertuduh utama pencemaran itu.

    Padahal faktanya, negara-negara di dunia, termasuk produsen bahan bakar fosil sedang getol mengubah cara pandang mereka dalam penggunaan energi. Cina sebagai contoh, yang dulunya penyumbang polusi terbesar sekarang telah melakukan revolusi habis-habisan. Indonesia juga berada dalam aras perubahan yang sama. Kebijakan energi masa depan negara ini berlandaskan energi yang ramah lingkungan.

    Perusahaan negara tentunya juga berada dalam jalur yang sama. Karena mandat yang mereka terima berasal dari penugasan pemerintah. Jika perintahnya beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, maka mereka harus patuh dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

    Pertamina juga melakukan proses itu. Perusahaan pelat merah yang mengurusi migas ini juga sedang getol mengupayakan energi masa depan yang ramah lingkungan. Energi yang tersedia melimpah dan tak habis digunakan.

    Misalnya biofuel, energi yang dihasilkan dari pengekstrakan saripati tumbuh-tumbuhan. Istilah lain yang dikenal adalah biodiesel atau Green Diesel (D-100) yang umumnya terbuat dari minyak kelapa sawit dan limbah industrinya.

    Pertamina melalui Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah tengah mengupayakan uji coba produksi Green Diesel pada akhir November 2020. Sesuai paparan sebelumnya, Green Diesel ini bahannya dari minyak sawit. Prosesnya biasa disebut dengan refined bleached deodorized palm oil (RBDPO).

    Tidak tanggung-tanggung, Pertamina berencana memproduksi Green Diesel sekitar 3.000 barrel per hari. Sebagai gambaran, untuk DKI Jakarta misalnya, kebutuhan BBM jenis gas oil (solar) rata-rata per hari sekitar 8.281 kiloliter atau sekitar 52 barel.

    “Di minggu keempat itu uji coba produksi sekitar 3.000 barrel. Kalau kita asumsikan, gampangnya kalau nanti jadi produk BBM-nya kira-kira 20 kilo liter per jam,” kata Unit Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Hatim Ilwan, sebagaimana dikutip Minggu, 15 November 2020.

    Bahan bakar ramah lingkungan tersebut memiliki karakter yang mirip seperti bahan bakar dari minyak fosil. Untuk menciptakan Green Diesel itu Pertamina menggunakan katalis yang bernama Katalis Merah Putih. Sesuai namanya yang heroik itu, katalis ini produksi dalam negeri. Hasil karya putra-putri Indonesia yang diproduksi di Bandung.

    Menurut proses penciptaan katalis itu, Pertamina bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Salah satu tokoh katalis yang sangat terkenal bernama Prof. Subagjo telah berhasil membuat katalis Merah Putih pertama, yang hasilnya jauh lebih baik dari katalis komersial. Sejak itu proses pembuatan katalis Merah Putih terus dikembangkan.

    Pertamina terus berupaya untuk mengembangkan bio fuel yang ramah lingkungan. Sebagai informasi, saat ini RU IV Cilacap tengah mengembangkan tiga produk green energy, yaitu Green Diesel, Green Gasoline, dan Green Avtur. Dengan kemampuan ini, kekhawatiran yang terus ditujukan pada perusahaan energi, khususnya Pertamina soal pencemaran lingkungan tidak bisa lagi dilakukan.

    Tentunya dengan catatan, proses pengembangan itu terus berlanjut dan diikuti akselerasi oleh segenap pihak, terutama Pemerintah. Pertamina harus mendapat dukungan penuh mulai dari penyediaan bahan baku dan diberikan subsidi harga penjualan agar bisa sebanding dengan harga solar yang ada di pasaran.

    Di belakang itu, masyarakat juga harus menyadari proses penting peralihan itu. Menerima adanya selisih harga jika memang harus dilakukan. Semua itu demi menjadikan bumi yang lebih baik di masa mendatang.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.