Demi Penghematan, Anak Perusahaan Pertamina Gunakan Listrik PLN - Analisa - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Selasa, 17 November 2020 13:19 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Demi Penghematan, Anak Perusahaan Pertamina Gunakan Listrik PLN

    Konversi dari diesel ke listrik PLN merupakan salah satu jalan yang ditempuh. Menurut Indarwan Harsoni, Field Manager Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field, konversi itu menyebabkan efisiensi biaya operasional dari penurunan konsumsi BBM. Jika ditotal jumlahnya sebesar Rp625.575.848 per bulan dari biaya operasional sebelumnya sebesar Rp1.166.632.745 per bulan.

    Dibaca : 852 kali

    Listrik PLN memang memiliki nilai guna yang lebih murah jika dibandingkan dengan sumber energi lain. Dibandingkan tenaga diesel misalnya, listrik yang dipasok dari PLN jelas lebih hemat. Hal itu disebabkan pembangkit PLN menggunakan bahan bakar yang murah, misalnya PLTU (batu bara), PLTGU (gas), PLTA (bayu) dan PLTS (surya).

    Sudah semestinya perusahaan besar berhitung cermat ketika hendak menggunakan energi listrik di luar PLN. Selain mahal, pasokannya juga tidak ada jaminan berkelanjutan. Keandalan pasokan itu ditentukan kualitas mesin pembangkit dan jumlah mesin yang disediakan. Jika salah satu pembangkit mengalami kerusakan atau sedang dalam perawatan, harus ada pembangkit cadangan untuk menyuplai daya.

    Pertamina EP, salah satu anak perusahaan Pertamina EP di wilayah kerja Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field, juga melakukan hal yang sama. Demi mewujudkan efisiensi dalam kegiatan operasional hulu migas, perusahaan menggunakan pasokan listrik dari PLN. Sebelumnya listrik yang mereka peroleh berasal dari mesin generator diesel. Berhubung mereka mengalami triple shocks, yakni terkena dampak harga fluktuasi minyak dunia, penurunan penjualan dan fluktuasi nilai tukar rupiah, maka efisiensi dijadikan jalan keluarnya.

    Konversi dari diesel ke listrik PLN merupakan salah satu jalan yang ditempuh. Menurut Indarwan Harsoni, Field Manager Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field, konversi itu menyebabkan efisiensi biaya operasional dari penurunan konsumsi BBM. Jika ditotal jumlahnya sebesar Rp625.575.848 per bulan dari biaya operasional sebelumnya sebesar Rp1.166.632.745 per bulan.

    PLN memang gencar melakukan penawaran listrik pada perusahaan besar dengan paket khusus. Biasanya perusahaan seperti itu mementingkan keandalan pasokan. Mereka mengeluarkan biaya lebih dari tarif biasanya agar bisa menikmati pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan.

    Kerja sama PLN dengan Pertamina dan anak perusahaannya bukan hal baru. Sebelumnya PLN juga menyuplai listrik ke kilang-kilang Pertamina. Bahkan tercatat di luar Jawa-Bali, Pertamina EP Asset 5 Tanjung menggunakan produk layanan Super Ultima dengan daya sebesar 10.380 kilo Volt Ampere (kVA). Produk layanan Super Ultima ini merupakan perpaduan antara produk layanan premium yang dikombinasikan dengan perangkat khusus yang disebut Diesel Rotary Uninteruptible Power Supply (DRUPS).

    Langkah yang dilakukan oleh anak perusahaan Pertamina itu sudah tepat. Dalam kondisi tak menentu seperti ini memang sudah semestinya perusahaan melakukan penghematan. Tentunya hal itu bisa dilanjutkan untuk masa yang akan datang, sebab PLN juga memiliki kesiapan untuk menyedikan pasokan listriknya dengan harga yang lebih murah.

    Hari ini PLN tidak sama dengan kondisi 2015 lalu. Peningkatan pembangunan pembangkit listrik dilakukan besar-besaran. Tidak hanya daerah dengan populasi penduduk banyak, PLN juga mempercepat program elektrifikasi di daerah terpencil dengan membangkitkan potensi sumber energi yang dimiliki daerah tersebut. Misalnya menggunakan angin, mikro hidro atau energi matahari.

    Semua itu dilakukan agar dalam waktu dekat tidak ada lagi, siapa pun yang tinggal di ujung wilayah Indonesia yang tidak menikmati listrik. Sebab listrik adalah kebutuhan pokok masyarakat modern. Tanpanya, orang-orang akan kembali ke zaman kegelapan. Masa di mana anak-anak hanya bermain di pelataran saat bulan purnama datang.

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.