Pakar Smelter Layangkan Tuduhan Ada Perusahaan Tidak Membayar Royalti - Analisa - www.indonesiana.id
x

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Selasa, 17 November 2020 13:21 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pakar Smelter Layangkan Tuduhan Ada Perusahaan Tidak Membayar Royalti

    Namun, fakta berkata sebaliknya. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah yang merilis Data Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah I-2020, perekonomian serta iklim investasi di Sulawesi Tengah berjalan dengan baik walaupun efek pandemi menggerogoti. 

    Dibaca : 1.320 kali

    Beredar opini dari seorang pakar di bidang perusahaan pemurnian mineral yang menyatakan bahwa smelter di Indonesia sama sekali tidak berkontribusi untuk negara. Opini tersebut berisi bahwa kebijakan Pemerintah Indonesia terlalu memudahkan pengusaha industri smelter mineral. Dirinya menilai bahwa smelter tidak menyerahkan royalti ke pendapatan asli daerah. 

    Opini tersebut bahkan menuduh bahwa Kementerian Keuangan RI melalui Peraturan Bank Indonesia  dianggap melindungi para pelaku usaha smelter saat melakukan transaksi niaga skala pasar internasional. 

    Namun, fakta berkata sebaliknya. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah yang merilis Data Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah I-2020, perekonomian serta iklim investasi di Sulawesi Tengah berjalan dengan baik walaupun efek pandemi menggerogoti. 

    Menurut data, total realisasi investasi smelter di Sulteng berkontribusi sebesar 90,70% terhadap target tahun 2020 yaitu Rp24,40 triliun. Kabar baiknya lagi, capaian realisasi investasi periode ini berhasil menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 7.085 orang. 

    Sektor Pertambangan dan Penggalian lah yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Sulteng. Sektor ini rupanya bertumbuh sebesar 10,0% dan berada di posisi ke-2 berkat aktivitas perniagaan smelter. 

    Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMP2ST) Sulteng, mencatat penyebaran smelter di Sulawesi Tengah, di antaranya adalah perusahaan-perusahaan smelter yang beroperasi di dalam kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). 

    Dari hilirisasi yang telah dilakukan oleh PT IMIP, pertumbuhan ekonomi Morowali bahkan naik sebesar 67,82 persen (2015) dan 13,18 persen (2016). Sedangkan Angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) Morowali juga terkatrol dari Rp 25,30 miliar (2014) menjadi Rp84,40 miliar (2015) beriring pembukaan pabrik di kawasan industri Morowali.

    Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Indonesia, PAD yang dihasilkan di tahun 2019 adalah 201,7 miliar dan tahun 2020 adalah 218,4 miliar. Sedangkan proyeksi pada tahun 2021 diperkirakan mencapai 227 miliar dan 2020 adalah 246,3 miliar. 

    Lantas, atas dasar apa pakar perusahaan pemurnian tersebut melontarkan opini tersebut? Padahal, pakar pemurnian tersebut telah lama ‘nyemplung’ di bisnis smelter.

    Mengapa dirinya seakan tidak mengetahui kebenaran yang terjadi di bisnis smelter Indonesia? Ada baiknya, kontribusi positif yang diberikan daripada hanya nyinyir semata.

    Sebab, melalui kontribusi nyata seperti turut membangun smelter maka akan memajukan ekonomi Indonesia pula. Jadi, tinggal pilih jalur yang mana. 

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.