Sejumlah Persoalan Pembelajaran di Era Pandemi, Pandangan Seorang Guru SMP - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sebuah sekolah di Bekasi. Tempo/Hilman Fathurrahman

Winardi 28

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2020

Kamis, 19 November 2020 06:19 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sejumlah Persoalan Pembelajaran di Era Pandemi, Pandangan Seorang Guru SMP

    Kegiatan pembelajaran jarak jauh alias PJJ selama pendemi masih menyisakan banyak soal. Bukan hanya tak sedikit sekolah (terutama di pedesaan) yang memiliki kendala dalam pembalajaran daring ini. Persoalan juga menghadang dalam relasi antara guru dengan guru, juga antara pendidik dengan murid. Bagaimana mengatasi hal itu? Berikut pandangan seorang tenaga pendidik dari Kabuoaten Bogor.

    Dibaca : 521 kali

    Oleh : Winardi, Guru SMP Ma’arif NU Sukaraja Kabupateb Bogor

    Semua negara saat ini seakan sedang di-restart kembali dan mulai dari nol setelah dihantam gelombang virus Vovid-19. Hampir semua sektor lumpuh dan bahkan mengistirahatkan aktivitasnya. Kelumpuhan juga melanda bidang pedidikan yang notabene aktivitasnya bersentuhan langsung. Tak jarang sekolah-sekolah di pedesaan kebingungan melanjutkan kegiatan belajar-mengajar karena terhalang sarana prasarana. Mereka kebingungan menjalani proses pembelajaran jarak jauh (PJJ alias dalam jaringan) yang terkesan baru ditemui semenjak pandemi Covid-19 ini.

    Informasi dan komunikasi sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia terutama tenaga pedidik. Mereka harus menguasai penuh metode dan model belajar yang akan dilakukan. Akan tetapi dalam kondisi darurat ini guru dipaksa menguasai hal baru yang belum pernah diketahuinya. Pada proses PJJ ini masih banyak ditemui guru-guru yang belum menguasai cara mengoperasikan laptop, gadget dan otomatis aplikasinya juga. Karena sebelumnya tidak ada persiapan yang matang dan terkesan memaksakan.

    Tak hanya terkendala di pemahaman dan pengoperasian media, selama PJJ jelas terlihat tingkat kedisiplinan menurun drastis. hal itu terlihat dari jam yang tidak beraturan, tidak adanya konsistensi dalam pembelajaran. Bahkan banyak siswa yang menyepelekan dan lebih asyik bermain game dibanding mengikuti kegiatan pembelajaran malalui jaringan.

    Masih ada lagi hal yang harus diperhatikan, yakni minimnya sarana-prasarana pendukung dalam PJJ. Salah satunya adalah masih banyak guru dan siswa yang tidak memiliki laptop bahkan handpone, sehingga proses pembelajaran ini sangat tidak maksimal.

    Jika kita lihat dari kendala-kendala di atas, harus ada faktor pnedukung agar PJJ tetap berjalan walaupun harus terpincang-pincang. Komunikasi sesama guru dan kepala sekolah menjadi kunci utama agar terjaga hubungan harmonis. Hal itu akan menimbulkan energi positif untuk modal semangat dalam mengarungi perjalanan panjang PJJ .

    Kemudian dibutuhkan komitmen guru untuk terus mau belajar hal baru mengikuti situasi di lapangan. Hal ini dapat meningkatkan mutu belajar meskipun situasinya tidak memungkinkan sekalipun.

    Suntikan moril dan dorongan dari seorang kepala sekolah sangat dibutuhkan di kala sedang menghadapi situasi tidak biasa dan keadaan yang tidak baik-baik saja. Dalam konteks ini psikis dan pikiran akan terkuras dan drop. Saat itu peran kepala sekolah sangat strategis memberikan suntikan semangat dan men-charge dewan guru dalam kondisi full kembali. Sehingga aktivitas kegiatan belajar mengajar tetap berjalan semestinya.

    Solusi dari semua ini adalah kerja sama dewan guru bahu-membahu saling membaca situasi sesama pengajar. Kalau ada rekan guru yang mengalami kesulitan harus dibantu. Ini adalah salah satu kunci sukses agar kegiatan belajar-mengajar bisa berjalan meskipun dalam masa pandemi.

    Tidak hanya sesama guru, kita juga harus peka terhadap keadaan peserta didik atau siswa dalam melakukan pendekatan persuasif. Tujuannya agar terjalin hubungan harmonis antara guru dan siswa. Guru harus dapat membaca apa yang terjadi pada peserta didiknya dan lalu mengevaluasi diri berdasar apa yang telah dilalui dan dilakukan.

    Semua ini akan lebih efektif jika semua sarana dan prasarana pendukung sudah teratasi bagi guru, siswa, ataupun sekolah. Karena apalah daya jika semua SDM terpenuhi akan tetapi alat peraga dan pendukung tidak tersedia? Ini akan menghambat kegiatan PJJ di tengah pandemi virus Covid-19 ini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.