Bur Maras - Keturunan ke-13 Raden Patah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover buku Bur Maras

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 19 November 2020 16:44 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Bur Maras - Keturunan ke-13 Raden Patah

    Bur Maras adalah keturunan ke-13 Raden Patah, Raja Demak. Raden Patah yang kembali ke Palembang untuk memadamkan kerusuhan meninggalkan beberapa anak di Pagar Batu. Bur Maras adalah dari klan Pagar Batu.

    Dibaca : 638 kali

    Judul: Bur Maras Keturunan ke-13 Raden Patah

    Penulis: Robert Adhi Ksp.

    Tahun Terbit: 2015

    Penerbit: Bhuawa Ilmu Populer                                                                            

    Tebal: v + 146

    ISBN: 978-602-0885-19-3

    Buku tipis ini mengisahkan kehidupan Bur Maras sebagai keturunan Raden Patah yang ketigabelas. Bur Maras membuktikan bahwa dia adalah benar-benar keturunan Raden Patah. Ia menjelaskan tentang silsilah keturunan Raden Patah yang berada di Pagar Batu, Sumatra Selatan. Ia juga menunggah tulisan tangan Sang Ayahanda tentang silsilah trah Pagar Batu yang ditulis pada tahun 1989.

    Untuk menjelaskan mengapa Raden Patah bisa sampai di Pagar Batu, Bur Maras menuliskan hubungan Raden Patah dengan Sumatra Selatan, khususnya Palembang. Seperti telah banyak ditulis oleh para ahli sejarah yang merujuk kepada sumber-sumber yang sangat bisa dipercaya, Raden Patah adalah anak dari Kertabumi atau Brawijaya V dari selirnya seorang Putri Tionghoa. Ibu raden Patah dibuang ke Palembang atas permintaan Sang Permaisuri, yaitu Putri Champa, yang cemburu kepadanya. Putri Sio Ban Ci, demikian nama ibu Raden Patah kemudian menikah dengan Swan Liong yang mengambil nama Arya Abdillah (Dilah) setelah memeluk Islam dan diberi gelar Arya Damar oleh Raja Majapahit saat ditugaskan menjadi adipate di Palembang. Arya Damar adalah anak Raja Majapahit Wikrama Wardhana dengan seorang putri Cina dari Mojokerto. Dari Putri Sio Ban Ci, Arya Damar mendapatkan anak yang diberi nama Raden Husen, alias Kin San.

    Kin San alias Raden Husen yang pernah merantau ke Jawa dan menjadi Adipati di Terong inilah yang kemudian menurunkan sultan-sultan (termasuk Machmud Baharduddin) yang memerintah di Palembang.

    Banyak karya sejarah yang mengamini bahwa Raden Patah, putra Brawijaya V inilah yang mendirikan Kerajaan Demak yang menggantikan kejayaan Majapahit di Tanah Jawa. Lalu bagaimana Raden Patah yang sudah berada di Jawa sejak usia remaja tersebut bisa mempunyai keturunan di Pagar Batu, Sumatra Selatan?

    Ternyata, setelah Raden Patah lengser sebagai raja Demak, ia sempat balik ke Palembang untuk memerangi para perompak yang merajalela di Palembang. Raden Patah kembali ke Palembang bersama istri mudanya dan 120 prajurit pendayung. Saat sampai di Muara Enim, Raden Patah diserang oleh para perompak. Namun Raden Patah berhasil mengalahkan para perompak tersebut. Wilayah dimana Raden Patah mengalahkan para pencoleng tersebut sekarang bernama Desa Prabumenang. Selanjutnya Raden Patah menuju ke Desa Pagar Batu, Lahat. Raden Patah mendirikan Pesantren dan menyiarkan Agama Islam di sana.

    Raden Patah menikahi Komaladewa, seorang putri Champa keturunan Tionghoa. Dari Putri Komaladewa inilah Raden Patah memiliki Sembilan anak yang menetap di Pagar Batu. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang Bur Maras. Bur Maras adalah keturunan Raden Patah dari Pagar Batu yang pertama keluar dari daerah tersebut. Nama resmi Raden Patah di Sumatra Selatan adalah Ratu Prabu Sira Alam atau Ratu Prabu Surya Alam.

    Karena kekalahan Patiunus dari Portugis, membuat Raden Patah kembali ke Jawa. Saat ia akan kembali ke Jawa banyak orang berkumpul dan bertanya. Itulah sebabnya tempat tersebut disebut dengan nama Prabumulih. Maksudnya Raden Patah akan kembali ke Jawa. Tak lama kemudian Raden Patah wafat di Demak dan dimakamkan di Demak.

    Pria yang lahir pada tanggal14 Juli 1936 tersebut berkeinginan besar untuk bisa bersekolah ke luar negeri, tepatnya ke Amerika Serikat. Melalui kerja kerasnya, akhirnya cita-citanya terwujud. Bur Maras mempelajari perminyakan di Jacksonville, Texas sebelum kemudian pindah ke Oklahoma State University. Burhanuddin Maras sempat belajar di akademi militer dan mendapat pangkat Letnan Dua. Namun karena tidak berangkat ke Vietnam untuk ikut berperang, maka karier militernya selesai. Ia tetap memilih menjadi warga negara Indonesia daripada kalau berangkat ke Vietnam kewarganeraan Indonesianya dicabut.

    Karena memiliki kemampuan di bidang perminyakan, Bur Maras sempat bekerja di beberapa perusahaan perminyakan di Amerika Serikat. Setelah bekerja itulah Bur menemukan tambatan hati, bernama Pamela Rose Quinn. Bersama sang istri yang adalah bule ini Bur dikaruniaidua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak pertamanya bernama Derek Prabu Maras yang pada tahun 2005 dinobatkan sebagai pengganti Bur Maras sebagai Ratu Pagar Batu. Anak keduanya bernama Gregory Quinn Maras dan anak ketiganya, seorang perempuan bernama Ratu Melanie Angelina Maras.

    Bur Maras kemudian pulang ke Indonesia dan mengelola perusahaan yang bergerak di bidang pengeboran minyak. Ia sempat menjadi konsultan Pertamina di jaman Ibnu Sutowo. Ia juga sempat bekerjasama dengan Salim Group dan Ibrahim Risjad mengembangkan perusahaan yang bergerak di bidang offshore drilling. Namun selanjutnya ia memilih untuk bekerja sendiri membesarkan PT. Lekom Maras.

    Bur Maras dinobatkan menjadi Sultan di Pagar Batu pada tahun 1995, saat ayahandanya wafat. Ia bergelar Ratu Prabu Sira Alam Muda.

    Selain berjaya di bidang bisnis, Bur juga berkarier di politik. Ia sempat menjadi Anggota DPR. Ia ditempatkan di Komisi VII yang membidangi perminyakan, pertambangan dan lingkungan hidup. Beberapa hal yang berhasil diperjuangkannya adalah tentang aturan Cost Recovery yang menurutnya sangat membebani negara, meski akhirnya tidak berhasil. Namun ia berhasil memperjuangkan Indonesia keluar dari OPEC.

    Biografi ini sangat menarik, meski sangat pendek. Argumen yang ditampilkan untuk membuktikan bahwa ia adalah keturunan Raden Patah sangat menarik. Sayang sekali tidak dilengkapi dengan sumber-sumber di luar sumber keluarga. Seandainya banyak pihak yang mempunyai akar sejarah dengan para pembesar di masa lalu berani menulis biografi seperti Burhanuddin Maras, maka semakin banyak pengetahuan sejarah yang tidak hilang. Sayangnya ketekunan untuk menjaga sejarah keluarga bukan menjadi tradisi yang kuat di Indonesia. (544)

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.