Pilkada di Tengah Pandemi, Bukan Pesta Demokrasi tapi Ujian - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Saiful Yamin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2020

Jumat, 20 November 2020 14:43 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Pilkada di Tengah Pandemi, Bukan Pesta Demokrasi tapi Ujian

    Kita tidak dalam pesta demokrasi, pilkada Ditengah Pandemi dan kelesuan ekonomi menjadikan pesta itu adalah ujian. Lembar soalnya akan kita buka bersama di 9 Desember 2020.

    Dibaca : 625 kali

    Tinggal tiga pekan voting day Pemilukada serentak digelar. Warga calon pemilih di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah mulai siap-siap tentang pilihan. Bermacam komitmen tentunya sudah ada dibenak masing-masing, sekalipun sebagian lagi masih belum bisa menentukan pilihan.

    Dari sumber KPUD setempat, logistik kertas suara sudah tertera tiga gambar pasangan calon yang mesti dipilih dengan cara dicoblos. 

    Didalam lipatan ada nomor urut 1, Hj Sulianti Murad - Zainal Abidin Alihamu, nomor 2 pasangan Ir. Amirudin - Furqanuddin M dan nomor urut 3 wajah petahana Ir. H Herwin Yatim - Mustar Labolo.

    Dikabupaten Banggai dengan wajib pilih hingga 200 ribu lebih, kini menjadi rebutan ketiga paslon. Siapa yang mampu meraih hati mereka itulah pemenangnya, itu kata pegiat politik lokal. Semua tim masing masing Paslon bergerak, ada yang massif ada yang sporadis. Semua terlepas dari kampanye tatap muka terbatas oleh masing masing kandidat.

    Karena terselenggara ditengah pandemi Covid-19 dan kelesuan ekonomi. Maka, harus diakui Pilkada Banggai kali ini tengah berjalan diatas kesulitan hidup, bahkan kesengsaraan. 

    Mindset pemilih pun mulai beraneka ragam, ada yang berdoa dan berharap usai pilkada ada keinginan ekonomi yang membaik, ada pula yang sedang menalar masa depan lewat penyampaian orasi politik yang kemudian baru bisa menentukan pilihan setiba minggu tenang. 

    Masih ada yang lain lagi, yakni berharap menjadi bagian pemenangan kandidat agar bisa sedikit menerima jasa ditengah kesulitan hidup. Dan yang terakhir dan paling  memilukan  adalah mereka yang menanti serangan fajar sebagai  barter suara. 

    Dari itu semua, ketahuan ini bukanlah pesta demokrasi, ini adalah ujian tentang demokrasi. Baik itu bagi konstituen maupun kontestan. Bayangkan biaya kampanye sangatlah besar dari pilkada pilkada sebelumnya, yakin diluar sana ada banyak relawan ingin digaji, banyak warga yang mengorder baliho dengan harap ada biaya pemasangan. 

    Akhirnya semua berubah menjadi mata pencaharian, pergeseran pun terjadi yang semula adalah relawan kini tersulap seolah karyawan. 

    Itulah kondisi pesta ditengah pandemi, kita tak lagi banyak belajar tapi kita lagi menanti pekerjaan dalam lingkup politik daerah.

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.