Jika Kegiatan Un-faedah-mu Dikonversi Jadi Membaca Buku - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi membaca buku. Dok: Pexels.com

Muthyarana Darosha

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 April 2020

Jumat, 20 November 2020 17:43 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Jika Kegiatan Un-faedah-mu Dikonversi Jadi Membaca Buku

    Banyak waktu yang kita habiskan untuk mengakses internet dan media sosial. Motifnya agar tetap terhubung dan mendapat berbagai konten hiburan. Mengapa tidak mencoba mengubah kebiasaan scrolling tersebut menjadi kebiasaan membaca buku? Yakinlah membaca buku bukan sebuah kegiatan yang sia-sia. Daripada terus-terusan menikmati kesenangan yang unfaedah.

    Dibaca : 774 kali

    Mungkin kalimat “membaca pangkal pandai” sudah sering kita dengan. Atau kalimat yang lebih familiar, yaitu “buku gudang ilmu”. Berkaca pada kalimat tersebut, tak heran jika banyak orang yang rajin dan senang membaca. 

    Namun, masalahnya tidak semua orang suka membaca buku. Tidak semua orang menyempatkan untuk membaca buku setiap harinya. Bahkan banyak orang yang melewatkan harinya tanpa membaca barang satu halaman buku. 

    Jangan heran pula bila banyak orang Indonesia yang melewatkan harinya begitu saja tanpa membaca satupun halaman buku dalam sehari.  Menurut UNESCO, lama waktu ideal membaca per hari adalah sekitar 4-6 jam. Sedangkan, sebuah survei menunjukkan bahwa rata-rata lama waktu membaca masyarakat Indonesia hanya sekitar 2-4 jam per hari. 

    Hal ini dikuatkan dengan hasil riset World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara lainnya terkait minat baca. Survei oleh UNESCO juga memperlihatkan kecenderungan minat baca yang sama. Survei tersebut menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan dua terbawah soal literasi dunia. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia dapat dibilang sangat rendah, yakni hanya 0,001%. Ini berarti hanya ada 1 orang Indonesia  yang rajin membaca di antara 1.000 orang lainnya. 

     

    Manfaat Membaca Buku

    Membaca buku memiliki berjuta manfaat. Manfaat paling utama, dan sudah akrab kita dengar, yaitu membaca akan menambah pengetahuan. Memang, buku sangat menjanjikan dalam memberikan manfaat dari segi kognitif pembacanya. Sekecil apapun hal yang pengetahuan yang didapatkan dari membaca, tidak boleh dianggap sepele. Informasi baru yang didapatkan ketika membaca buku, akan memenuhi kepala.Semakin banyak pengetahuan yang diterima oleh otak, maka kita akan semakin bisa menghadapi berbagai permasalahan.  Walaupun kita tidak pernah benar-benar tahu kapan informasi itu dapat digunakan, setidaknya kita sudah punya sedikit bekal untuk menghadapinya.

    Selain memberikan manfaat dalam segi kognitif, membaca secara teratur juga akan mempengaruhi pola pikir dan kinerja otak. Saat membaca, kita memfungsikan otak untuk mengingat kosakata, karakter, pokok bahasan, serta alur dalam sebuah bacaan. Otak sangat mudah dalam merekam dan mengingat hal-hal tersebut. Setiap mengingat informasi baru, otak akan membentuk ‘jalur otak’ atau sinapsis baru. Selain membentuk jalur baru, sinapsis lainnya juga akan semakin menguat. Dalam artian. Membaca juga dapat memperkuat memori yang telah direkam otak sebelumnya. 

    Sebuah penelitian juga mengatakan, bahwa kegiatan membaca akan menstimulasi metal. Tetap terstimulasi secara mental dapat meminimalisir potensi terserang penyakit Alzheimer dan Demensia. Seperti bagian otot lainnya pada tubuh, otak juga perlu dilatih agar fungsinya tidak menurun. Salah satu latihan yang tepat untuk otak adalah dengan membaca. Saat membaca, otak akan bekerja secara aktif dan akan mengurangi potensi penurunan fungsi otak. Tentunya, membaca buku juga akan membantu pembacanya lebih fokus.

     

    Penyebab Rendahnya Minat Baca

    Lalu mengapa tren membaca buku belum menjadi budaya pada masyarakat Indonesia? Salah satu aspek utama yang diyakini menjadi penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia adalah aspek aksesibilitas. Masyarakat Indonesia tidak mendapatkan akses yang mumpuni untuk mendapatkan bahan bacaan, terlebih di daerah terpencil. Kurang berkualitasnya bahan bacaan juga turut berkontribusi dalam aspek ini. 

    Beda hal jika dibandingkan dengan aksesibilitas pada kota-kota besar. Fasilitas berupa perusahaan dan toko buku yang lengkap bukan lagi tantangan bagi masyarakat kota. Namun, permasalahan muncul dari aspek daya beli. Tidak semua warga kota mempunyai daya beli yang sama terhadap buku-buku berkualitas yang dijejalkan di toko-toko buku.

    Berbeda lagi jika dikaji dari sisi betapa ramainya kunjungan saat pameran buku digelar. Bisa dibilang, tidak sedikit masyarakat yang menyambangi pameran buku bahkan juga membeli beberapa buku. Lantas mengapa minat baca masih saja rendah? Salah seorang peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud menjelaskan adanya korelasi antara akses dengan kebiasaan. Ia dan pegiat literasi lainnya melihat adanya kecenderungan minat baca yang cukup tinggi pada masyarakat Indonesia. Namun, potensi itu belum terwujud menjadi sikap, kebiasaan dan budaya dalam masyarakat. 

     

    Jika Kegiatan Un-faedah-mu Dikonversikan

    Belakangan, banyak waktu yang kita habiskan untuk mengakses internet dan media sosial. Salah satu motifnya adalah agar tetap terhubung dan mendapat berbagai konten hiburan di sela-sela sibuknya kuliah dan sekolah daring. Lantas mengapa tidak mencoba mengubah kebiasaan scrolling tersebut menjadi kebiasaan membaca buku. Bukan menjadi kegiatan yang sia-sia jika menghabiskan waktu dengan membaca buku. Daripada terus-terusan menikmati kesenangan yang unfaedah ―berupa kegiatan yang kurang bermanfaat― mending diganti saja menjadi kegiatan baca buku!

    Menurut Storial.co, rata-rata hanya dibutuhkan satu menit saja untuk membaca 200 kata. Dalam satu halaman buku, rata-rata terdapat sekitar 200 kata. Artinya, untuk membaca satu halaman buku rata-rata hanya membutuhkan waktu satu menit saja!  

    Kalau dikonversikan… Kalau scrolling TikTok selama satu jam, jika memilih untuk membaca buku sebetulnya kita sudah baca sebanyak 60 halaman! Atau mendengar 1 album full Bohemian Rhapsody yang berdurasi satu jam 19 menit, artinya sama dengan membacanya sebanyak 79 halaman buku. Atau, menonton 1 episode drama korea sebetulnya sama dengan membaca sebanyak 90 halaman. Dan kalau rebahan tanpa alasan selama dua jam penuh sebetulnya sama dengan membaca buku sebanyak 120 halaman, wow!

    Wah, bayangkan saja sudah berapa banyak halaman yang rampung kita  baca jika lebih memilih untuk membaca buku ketimbang rebahan, scroll TikTok, atau marathon drakor. Daripada waktu kamu terbuang untuk hal-hal yang un-faedah, mendingan jadikan lebih bermakna saja. Salah satunya dengan membaca buku!

     

    Tips Memulai 

    Untuk memulai kebiasaan membaca buku, bisa dimulai dengan membaca buku yang sesuai dengan hobimu. Biasanya kita akan lebih berminat karena berkaitan dengan sesuatu yang kita sukai.  Jika sudah bosan dengan hal-hal yang berkaitan dengan hobi, cobalah membaca buku dengan genre-genre lain. Selain menambah wawasan, membaca genre lain berpotensi meningkatkan ketertarikan untuk membaca. Atau jika masih bingung dalam menentukan buku apa yang akan dibaca, berangkatlah dari rekomendasi teman dekatmu. Rekomendasi buku juga bisa kamu dapatkan melalui fitur searching di internet. 

    Jika sudah mendapatkan buku bacaan, kamu tidak perlu membacanya rampung sekali duduk.  Mulailah dengan  rutin membacanya setiap hari. Mulai membacanya sedikit demi  sedikit hingga kamu menemukan keasyikan tersendiri saat membaca. Jangan lupa untuk menentukan target yang tidak mengganggu kegiatanmu sehari-hari. Minimal 10 lembar per hari. Target ini nggak banyak kok, hanya akan memakan waktu sekitar 10 menit saja, sesuai yang telah dipaparkan sebelumnya. 

    Tapi… jika belum berniat untuk membaca buku sama sekali, bisa mulai dengan mengkonversikan waktu yang kamu habiskan untuk melakukan hal-hal unfaedah menjadi banyak halaman buku dengan perhitungan sebelumnya. Siapa tau bisa tergerak hehe!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.