Cinta, Rasa Memiliki, dan Ancaman di NKRI - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ancaman

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 22 November 2020 12:27 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cinta, Rasa Memiliki, dan Ancaman di NKRI

    Semoga ancaman yang kini mengemuka menjadi berita hanya sekadar narasi, pengisahan suatu cerita atau kejadian saja yang bisa jadi tak nyata, tapi lebih dari sekadar ungkapan cinta dan rasa memiliki, sebab tak mau "kehilangan" yang milik atau bukan milik  

    Dibaca : 667 kali

    Siapa yang sebenarnya mengancam Indonesia? Itulah pertanyaan yang wajib diapungkan, mengingat semakin hari, suasana dan situasi di Indonesia terus bergejolak, terlebih sejak kepulangan tokoh sebuah Ormas ke Indonesia.

    Bahkan atas kepulangannya, berbagai masalah dan polemik langsung timbul. Buntutnya ada kepala daerah yang langsung kena getah dan harus berurusan dengan polisi terkait masalah kerumunan massa di tengah pandemi yang melanggar protokol kesehatan.Tidak berhenti di situ, bahkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun langsung ikut turun tangan membantu petugas yang berwenang demi menurunkan Baliho sang tokoh karena tak mampu meladeni ormas bersangkutan.

    Turun tangannya TNI, tak pelak menjadi kontroversi di tengah masyarakat hingga menjadi bahan diskusi, perbincangan, dan perdebatan di media massa dan televisi karena menjadikan masyarakat juga turut bergejolak. Banyak pihak yang mendukung, pun ada pihak yang kontra.

    Sebelum TNI turun tangan, sebelum kepala daerah dipanggil polisi akibat dari efek kepulangan tokoh ini, bahkan ada perseorangan yang tahu-tahu justru ikut mengomentari sehingga langsung memanaskan situasi dan menggerus masalah dengan menggunakan media sosial sebagai medianya.

    Banyak pihak yang menuding, perseorangan yang tiada angin tiada hujan tiba-tiba ikut masuk ke ranah yang bukan bidangnya, benar-benar mampu membikin masyarakat terbelah. Ada yang mendukung, pun banyak yang menghujat. Pasalnya, perseorangan ini nampak jelas, keikutsertaannya dalam polemik ini, mungkin hanya sekadar demi konten dan demi mendulang uang untuk kepentingan pribadi.

    Pertanyaannya, apakah tokoh yang baru pulang dan para pendukungnya sudah dianggap ancaman bagi Republik Indonesia? Lalu, kira-kira apa ancaman dari ormas ini? Apakah akan merebut kekuasaan dan menggulingkan pemerintahan yang sah, hingga TNI sampai turun tangan?

    Lalu, kira-kira bagaimana dengan ancaman yang dirasakan rakyat hingga mahasiswa, rakyat, dan buruh sampai turun berdemo menolak berbagai kebijakan dan Undang-Undang (UU) yang dibikin pemerintah dan parlemen karena menyadari ada ancaman bagi rakyat dan tanah air dari kebijakan dan UU tersebut yang akan membikin negeri ini menjadi bukan milik rakyat, tapi milik investor dan pihak aseng dan asing?

    Bahkan dalam beberapa hari ini juga viral berita menyoal foto/gambar pulau Kalimantan dari udara yang memprihatinkan karena sudah dieksplorasi hingga hutannya telah hilang lebih dari 50 persen atau lebih.

    Fakta ini pun, jelas sebuah ancaman nyata bagi hutan Kalimantan yang justru akan dijadikan Ibu Kota RI.

    Di sisi lain, dunia politik Indonesia kini juga sudah menjadi milik para pemodal yang secara terang-terangan sudah diakui oleh tokoh di parlemen dan pemerintahan, sehingga partai politik dan para elitenya yang diberikan amanah oleh rakyat duduk di parlemen dan pemerintahan daerah hingga pusat, semuanya sudah bukan lagi menjadi harapan rakyat. Apakah ini bukan ancaman bagi demokrasi Indonesia hingga kini berbagai pihak juga menyebut Indonesia sudah dikuasai politik dinasti dan oligarki.

    Setali tiga uang, hadirnya para influencer, buzzer, media massa "bayaran" juga semakin memperkeruh suasana dan malah nampak mengancam disintegrasi bangsa dengan berbagai pernyataan, komentar, berita, dan sejenisnya yang justru terus menambah panas suasana.

    Di tengah semua semua sengkarut yang tak jauh dari siapa yang mengancam dan terancam, hadirnya pandemi Covid-19 juga terus mengancam segenap nyawa masyarakat Indonesia yang hingga kini juga tetap konsiten merajalela di nusantara.

    Namun, di luar masalah corona, sejatinya siapa yang kini nyata mengancam rakyat, mengancam tanah air Indonesia? Siapa?

    Apa rakyat? Atau tokoh masyarakat dan ormas? Atau para influenser dan buzzer? Atau media massa dan media sosial? Atau partai politik dan para elite partainya? Apa parlemen dan pemerintahan? Atau para aseng dan asing yang jadi pemodal?

    Atau sebenarnya tidak ada yang mengancam Indonesia, namun hanya sekadar kritik, saran, dan pengingatan yang dimaknai sebagai ancaman?

    Atau tidak ada yang mengancam, sebab regulasi kebijakan dan UU yang diciptakan, benar demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia sesuai amanah Pembukaan UUD 1945?

    Jadi, semoga ancaman yang kini mengemuka menjadi berita hanya sekadar narasi, pengisahan suatu cerita atau kejadian saja yang bisa jadi tak nyata, tapi lebih dari sekadar ungkapan cinta dan rasa memiliki, sebab tak mau "kehilangan" yang milik atau bukan milik
     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.