Apa Makna Sebenarnya di Balik Karangan Bunga untuk Pangdam Jaya? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Karangan bunga

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 24 November 2020 06:45 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Apa Makna Sebenarnya di Balik Karangan Bunga untuk Pangdam Jaya?

    Bagaimana dengan papan-papan karangan bunga saat dulu dikirim untuk Ahok dan kali ini untuk Pangdam Jaya? Masyarakat tentu dapat menilainya untuk kepentingan apa, terlebih bagi rakyat biasa tentu akan berpikir puluhan kali demi sekadar membeli karangan bunga yang harganya mahal. Jadi, karangan bunga itu dari rakyat yang mana?

    Dibaca : 933 kali

    Bicara tentang karangan bunga, maka pikiran kita akan langsung berkonotasi terutama kepada ucapan bela sungkawa. Namun, seiring waktu berjalan, karangan bunga juga identik dengan ucapan selamat happy wedding, happy anniversary, wisuda, peresmian gedung, peresmian tempat usaha, hingga ucapan kenaikan pangkat atau jabatan dan ucapan sukses bagi pebisnis.

    Selain itu, karangan bunga ternyata kini juga menjadi ucapan dukungan. Faktanya, pada Senin (23/11/2020), seputar Markas Komando Daerah Militer (Kodam) Jayakarta, di Cililitan, Jakarta Timur, dipenuhi karangan bunga. 

    Sebab karena pemberian karangan bunga yang bermaksud mendukung ini memang  mungkin ditujukan untuk mencari dan mencuri perhatian publik terutama media massa, demi suatu "kepentingan", maka entah karena kebetulan atau tak sengaja, karangan bunga itu hadir di saat yang bersamaan seperti sudah ada yang mengatur. Dan, ternyata tak salah, berbagai media massa pun langsung mewartakan peristiwa ini.

    Saat saya menelisik foto-foto dari media massa yang menayangkan berita karangan bunga ini, nampak jelas bahwa puluhan karangan bunga yang ditampilkan berjajar di depan pagar Kodam Jaya itu dikirimkan oleh berbagai elemen masyarakat.  Dari diksi ucapan yang ada dalam papan-papan karangan bunga, tersurat jelas, si pengirim mendukung langkah TNI mencabut sejumlah baliho yang dipasang simpatisan pemimpin organisasi masyarakat (ormas) Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

    Pemberian papan-papan karangan bunga oleh berbagai pihak sebagai bentuk apresiasi ini adalah buntut dari pernyataan dan sikap tegas Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mayjen Dudung Abdurachman dalam menghadapi Habib Rizieq dan Front Pembela Islam (FPI).

    Atas peristiwa ini, mengingatkan kita  pada kejadian saat Gubernur Jakarta Basuki T Purnama di akhir jabatannya juga mendapat kiriman papan-papan karangan bunga. Kala itu, karangan bunga dikirim ke Balaikota DKI, atas kekalahan
    Ahok dalam Pilkada yang dianggap tak wajar.

    Sorotan dan kepentingan

    Peristiwa pemberian papan-papan bunga baik yang terjadi untuk Ahok maupun untuk Pangdam Jaya, tak pelak langsung mendapat sorotan berbagai pihak. Beberapa tokoh publik atau pejabat publik atau elite partai politik pun langsung mengomentari peristiwa ini, baik mencuit sendiri di media sosial maupun dimintai komentar atau pendapat oleh media massa.

    Salah satu contoh cuitan menyoal karangan bunga yang serupa dengan kiriman ke Ahok, mengungkapkan yang intinya mending uangnya dikasih kepada rakyat membutuhkan dari pada buang-buang uang.

    Berikutnya, juga ada yang mengungkapkan bahwa, sepertinya pemberian karangan bunga ini memang sudah ada skenario dan sudah di-setting.

    Melihat wujud papan-papan karangan bunga baik untuk Ahok maupun Pangdam Jaya, bukanlah papan-papan karangan bunga yang harganya murah dan dapat mudah terjangkau oleh "rakyat biasa" untuk membelinya. Pasalnya, dalam kondisi sulit seperti sekarang ini, bagi rakyat Indonesia pada umumnya untuk membeli beras saja susah.

    Karenanya, logikanya papan-papan karangan bunga itu memang disiapkan oleh masyarakat/pengusaha/pemodal yang uangnya tetap tak berseri meski sedang zaman sulit. Ujungnya jelas, karangan bunga yang diksinya mendukung, tetap saja dimainkan oleh pihak-pihak yang memang memiliki "kepentingan".

    Rakyat Indonesia sudah banyak yang cerdas, sudah tahu arah dan permainan kepentingan, sehingga peristiwa menyoal karangan bunga yang kembali terjadi di tengah situasi politik Indonesia yang terus bersengkarut ini, menjadi sesuatu yang sudah tak populer, bahkan membikin perasaan rakyat biasa yang berakal sehat menjadi jengah (malu).

    Yang pasti, karena sejak Indonesia merdeka, kini sudah banyak lahir masyarakat akademisi, ahli, praktisi, politisi, pengamat, dan lainnya, maka sebaik apa pun sebuah skenario yang didasari oleh "kepentingan", pasti sangat mudah terbaca dan dibaca.

    Kitah karangan bunga

    Berbagai sengkarut yang terus menggerus Republik ini, memang pada ujungnya akan selalu dicari kambing hitam dari akar sebuah masalah. Bahkan teraktual, media sosial juga sedang dijadikan kambing hitam atas berbagai peristiwa yang mengkoyak perasaan dan pikiran rakyat negeri ini.

    Setali tiga uang, tanpa disadari, kini juga sedang ada "pihak" yang membuat citra karangan bunga menjadi negatif. Karangan bunga sudah dieksploitasi sebagai alat propaganda/provokasi yang tentu saja ditujukan untuk menggeser psikologis, pikiran, dan hati rakyat menjadi terus terbelah.

    Harus diingat, bahwa bunga adalah simbol keindahan serta dijadikan sebagai media untuk menyampaikan perasaan kepada seseorang. Ketika pada akhirnya bunga dirangkai menjadi karangan bunga dan diberikan kepada pihak lain sebagai ucapan, maka peristiwa yang terjadi seharusnya pesan ucapan melalui bunga atau karangan bunga itu terhenti pada si pemberi dan si penerima, tidak melibatkan pihak lain apalagi malah untuk mencari perhatian atau pamer kepada pihak lain atau karena kepentingan.

    Bagaimana dengan papan-papan karangan bunga saat dulu dikirim untuk Ahok dan kali ini untuk Pangdam Jaya? Masyarakat tentu dapat menilainya untuk kepentingan apa, terlebih bagi rakyat biasa tentu akan berpikir puluhan kali demi sekadar membeli karangan bunga yang harganya mahal. Jadi, karangan bunga itu dari rakyat yang mana?

    Yang kini sudah lazim, sesama pengusaha dan koleganya, sudah terbudaya saling mengirim karangan bunga demi jalinan bisnis saat pengusaha yang satu meresmikan gedung atau tempat usaha. Dan, itu istilahnya tidak gratisan, karena ada nilai-nilai bisnis di dalamnya.

    Dengan begitu, khusus di Indonesia, model karangan bunga untuk Ahok dan Pangdam Jaya apakah ada nilai bisnisnya? Atau nilai lain?

    Sepertnya, atas peristiwa ini, kitah karangan bunga juga sudah mulai identik menjadi simbol kepentingan politik, alat politik.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.