Ikke Nurjanah - Sukses Berdangdut Tanpa Goyang Seronok - Seleb - www.indonesiana.id
x

cover buku Diary Dangdut Ikke Nurjanah

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 26 November 2020 12:36 WIB

  • Seleb
  • Berita Utama
  • Ikke Nurjanah - Sukses Berdangdut Tanpa Goyang Seronok

    Perjalanan karir Ikke Nurjanah sebagai yang sukses menjadi penyanyi dangdut tanpa goyang seronok. emilih genre musik dangdut tetapi menghindari keseronokan adalah sebuah pilihan yang rumit dan sulit. Bukankah musik dangdut memang diidentikkan dengan penyanyi yang seronok berlenggak-lenggok? Ikke Nurjanah membuktikan bahwa ia bisa menjadi sohor dalam pilihannya tersebut.

    Dibaca : 1.390 kali

    Judul: Diary Dangdut

    Penulis: Ikke Nurjanah

    Tahun Terbit: 2014

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

    Tebal: 186

    ISBN: 978-602-03-0540-0

     

    Buku ini berkisah tentang perjalanan Ikke Nurjanah sebagai pesohor dangdut yang tidak seronok. Memilih genre musik dangdut tetapi menghindari keseronokan adalah sebuah pilihan yang rumit dan sulit. Bukankah musik dangdut memang diidentikkan dengan penyanyi yang seronok berlenggak-lenggok merangsang para lelaki yang teronggok di depan panggung? Bagaimana bisa seorang penyanyi dangdut perempuan sukses jika ia mengabaikan “syarat” yang terlanjur menempel pada identitas musik dangdut tersebut? Kalau penyanyi dangdut lelaki masih mungkin jadi. Penyanyi perempuan? Tetapi Ikke Nurjanah membuktikan bahwa ia bisa menjadi sohor dalam pilihannya tersebut.

    Ikke Nurjanah memilih bercerita dengan format diary. Pemilihan format catatan harian ini membuatnya bebas mengungkapkan perasaannya karena ia sedang bercerita pada dirinya sendiri yang diwakili oleh buku (laptop?) Namun karena kisah ini dilempar ke ranah publik sebagai sebuah buku, maka sepertinya Ikke Nurjanah melakukan banyak penyuntingan. Tidak seperti lazimnya sebuah diary yang spontan, penuh ungkapan perasaan dan emosi, catatan harian yang ada di buku ini terasa sopan dan sangat santun.

    Ikke Nurjanah mengisahkan bagaimana hingga akhirnya ia memilih berkarir sebagai penyanyi dangdut. Saat ia masih seorang anak, ia suka menyanyi. Suaranya dianggap sangat mirip dengan suara Ida Laila. Karena suaranya yang sangat mirip itulah dia mendapat julukan “Ida Laila Kecil.” Bakatnya menyanyi ini kemudian direngkuh oleh sang tante. Adik ibunya sering mengajak Hartini Eppi Nurjanah (nama asli Ikke Nurjanah) untuk menyanyi di perhelatan. Anak pasangan Batak-Sunda ini masih sangat kecil ketika mendapat pengalaman tersebut. Dari Kampung Pademangan Timur ia mulai mengisi acara-acara hajatan tetangga-tetangganya.

    Pertemuannya dengan Imam Badawi telah mengubah Ikke Nurjanah dari seorang anak yang hobi menyanyi menjadi benar-benar menekuni dunia dangdut profesional. Imam Badawilah yang mengajaknya rekaman. Imam Badawi mempunyai peran yang besar dalam karir Ikke Nurjanah. Nama Ikke Nurjanah sebagai nama profesionalnya pun tak lepas dari Iman Badawi. Imam Badawilah yang mengenalkan pengusaha rekaman bernama Koh Hui. Koh Huilah yang mengubah namanya menjadi Ikke Nurjanah. Maka, sejak itu tak ada lagi nama Eppi. Ia berkisah bagaimana rumitnya rekaman saat itu. Sebab ia tinggal di Jakarta, padahal rekaman harus dilakukan di Surabaya.

    Selain dari Imam Badawi, ibu kandung Ikke Nurjanah juga sangat berperan. Sebab ibunyalah yang menjadi manager pertamanya. Ibunya selalu mengawal kemanapun ia berpentas. Bahkah sang ibu pernah harus dirawat di ICU beberapa hari dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat kecelakaan saat mengantar Ikke Nurjanah berpentas.

    Ikke Nurjanah mengupas panjang lebar mengapa ia memilih untuk menjadi penyanyi dangdut tanpa goyang. Ia benar-benar hanya mengandalkan suaranya yang merdu untuk menuju puncak karir. Dalam buku ini ia tumpahkan pandangannya tentang keseronokan yang melekat pada musik dangdut. Ikke Nurjanah sama sekali tidak mengecam atau mengkritik para penyanyi lain yang membangun karir dengan lenggoknya. Ia menghargai pilihan tersebut. Namun ia juga ingin membuktikan bahwa dangdut bisa dinikmati tanpa goyang seronok.

    Karena pilihan tersebut, pelantun “Sun Sing Suwe” ini pernah ditimpuk sandal karena menyanyi tanpa goyang. Namun karena ia rajin belajar dari para senior dan menuruti nasihat ibunya yang sekaligus mamanya dalam berperan di panggung, maka akhirnya ia berhasil menjadi pesohor. Ia membuktikan bahwa suara yang bagus dan lagu yang tepat mampu membawanya ke puncak kesuksesan sebagai penyanyi dangdut.

    Keberhasilannya di dunia menyanyi diikuti dengan karirnya di bidang periklanan. Ikke Nurjanah menjadi bintang iklan. Setidaknya ada 13 iklan berbagai produk yang pernah dibintanginya, mulai dari produk sampho, makanan dan minuman, sampai ke iklan sebuah kementerian.

    Ikke Nurjanah juga berkisah tentang rumah tangganya. Ia mengupas tentang perjalanan citanya dengan Aldi Bragi. Perkawinannya membuahkan seorang putri bernama Dira. Sayang rumah tangga ini kandas. Ikke Nurjanah harus menjadi single parent yang membesarkan anaknya sendirian. Saat perkawinannya kandas, ia sedang dalam kondisi kesulitan ekonomi. Di sinilah Ikke menunjukkan diri sebagai seorang perempuan yang kuat. Pelantun “Terlena” ini mampu bangkit dan kembali berkarir.

    Diary singkat Ikke Nurjanah ini memberikan gambaran bagaimana seseorang menjadi sukses. Keberaniannya untuk memilih jalur, selalu belajar kepada senior dan ketahanannya menjalani hidup telah membuat Ikke Nurjanah sampai ke puncak. Puncak Dangdut tanpa goyang seronok. Dan ia ternyata bisa. (546)

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.