Bagaimana Hitler Memanfaatkan Pintu Demokrasi Menuju Tirani - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Karikatyr Hitler. Gambar oleh vishnu vijayan dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 28 November 2020 07:01 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Bagaimana Hitler Memanfaatkan Pintu Demokrasi Menuju Tirani

    Hitler memenangkan pemilu dan menguasai mayoritas parlemen. Ketika sudah berada di kursi kekuasaan itulah Hitler mulai mewujudkan rencananya untuk membungkam demokrasi. Dengan mengambil contoh Jerman pada masa itu, 1932-an, Naomi Wolf mengingatkan kemungkinan penyelewengan sistematis dengan memanfaatkan aturan hukum untuk menggerogoti aturan hukum yang berlaku dan kemudian membangun ulang hukum demi memperkuat kekuasaan.

    Dibaca : 1.958 kali

     

    Tirani mungkin saja muncul di tempat yang tidak terduga, di antara orang-orang kaya, terdidik, serta berbudaya yang secara rasional terlihat aman dari gagasan otoritarian. Kemunculan semacam itu memang langka, tetapi bukan kemustahilan, dan secara historis memang sudah pernah terjadi. Jerman, umpamanya, pada akhir abad ke-19 dianggap sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia.

    Di masa itu, Jerman memiliki universitas terbaik, institusi riset yang sangat maju, meraih berbagai prestasi membanggakan di bidang sains: Karl Benz [menciptakan mobil bertenaga gas], Rudolf Diesel [penemu mesin], Heinrich Hertz [membuktikan adanya gelombang elektromagnetik], Wilhelm Conrad Rontgen [penemu sinar-X], Fridriech August Kekule [pengembang teori struktur kimia], Paul Ehrlich [pengobatan pertama untuk sipilis], dan Albert Einstein—siapa tak mengenalnya?

    Jumlah universitas di Jerman melonjak tajam dari 73 ribu sebelum Perang Dunia I (1914-1918) menjadi 120 ribu pada 1931. Beasiswa penuh tersedia untuk mahasiswa miskin yang pintar—tidak perlu membayar uang kuliah, sedangkan uang buku, bahkan juga pakaian, pengobatan, transportasi, serta tiket ke teater dan konser disediakan.

    Ketika itu, Jerman terlihat bukan tempat yang cocok bagi berkembangnya pandangan anti-Semit—sikap memusuhi kaum Yahudi. Sedangkan di Rusia lebih mungkin, lantaran kerusuhan anti-Yahudi sering terjadi. Mengapa warga Jerman yang berpendidikan tinggi kemudian berpaling kepada Adolf Hitler? Mengapa warga Jerman lantas memilihnya sebagai kanselir dalam pemilu yang disebut demokratis, padahal Hitler menggaungkan anti-Yahudi?

    Sejumlah analisis historis menilai bahwa kebijakan buruk pemerintahan Republik Weimar telah menyebabkan krisis ekonomi maupun politik dan membuat Jerman jadi tak nyaman untuk hidup. Orang-orang  kaya mulai putus asa lalu marah, sehingga mereka mendukung si gila yang tidak akan pernah mampu menarik perhatian umum manakala situasi normal.

    Sempat gagal melakukan kup, Hitler pun aktif dalam agitasi menentang pemerintahan Weimar. Ia bergabung dengan Partai Buruh yang kemudian berubah menjadi Partai Buruh Jerman Sosialis Nasional—yang disingkat menjadi NAZI. Partai ini menawarkan adonan nasionalisme, sosialisme, antisemitisme, dan antikapitalisme untuk mengobati kegelisahan masyarakat. Namun, kemampuan retorik dan agitasi Hitlerlah agaknya yang membuat rakyat Jerman berpaling kepada si gila yang menyerukan ‘Bangun kembali kebesaran Jerman!’ [di masa kini kita pernah mendengar slogan serupa ‘We make America great again!].

    Hitler memusuhi Yahudi, kapitalis, dan para penjahat kriminal. Tanpa perang yang kalah dan kebangkitan sentimen nasional, kata sejarawan Ian Kershaw, yang menulis biografi Hitler, Hitler tetap bukan siapa-siapa. Hitler memperoleh momentum, serta amunisi untuk menyerang, yang lebih besar tatkala inflasi tidak terbendung. Pembatasan perdagangan oleh Sekutu membuat perusahaan Jerman kian sukar memperoleh uang melalui ekspor, sedangkan tarif ekspor naik tiga kali lipat.

    Akhirnya tibalah momen pemilihan umum yang membukakan jalan bagi naiknya tirani totaliter. Partai dengan popularitas besar memperoleh momentum dan menangguk suara untuk menjadi penguasa secara melalui pemilu yang disebut legal dan demokratis. Ini terjadi di Jerman pada 1932 ketika tidak kurang dari 60% suara diberikan oleh rakyat kepada Partai Nazi.

    Dalam bukunya, The End of America (2007), Naomi Wolf mengutip sejarah bahwa Hitler naik ke puncak kekuasaan melalui cara demokratis, memenangkan pemilu dan menguasai mayoritas parlemen seperti jamaknya di negara demokrasi. Ketika sudah berada di kursi kekuasaan itulah Hitler mulai mewujudkan rencananya untuk membungkam demokrasi. Dengan mengambil contoh Jerman pada masa itu, 1932-an, Naomi mengingatkan kemungkinan penyelewengan sistematis dengan memanfaatkan aturan hukum untuk menggerogoti aturan hukum yang berlaku dan kemudian membangun ulang hukum demi memperkuat kekuasaan.

    Dan, yang terjadi pada hari-hari selanjutnya ialah Eropa terseret ke  pergolakan, dengan dampak yang terasa hingga ke seluruh belahan Bumi dan meninggalkan jejaknya hingga kini—tidak kurang dalam konteks gagasan tentang keunggulan kelompok yang tak kunjung sirna. Begitulah tiran yang cerdeik, yang naik ke jenjang kekuasaan melalui pintu demokrasi untuk kemudian mengkianati demokrasi. Karena itulah, sejarawan Snyder menasihati, jagalah baik-baik pintu demokrasi dan pertahankan jalan demokrasi agar tidak dibajak di tengah jalan. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.