Memori Senyuman - Analisa - www.indonesiana.id
x

Istianah Billah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 September 2020

Sabtu, 28 November 2020 13:03 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Memori Senyuman

    Memang kalau tiada kesakitan, orang tidak mempunyai keinginan untuk mengejar kesenangan. Oleh itu tidak keterlaluan jika dikatakan bahwa sakit dan pedih adalah tangga menuju kejayaan.” -Buya Hamka-

    Dibaca : 1.157 kali

    لا تحزن إذا ضاقت بك أمور الحياة, فالقمر يزداد روعة كلما زاد الظلام حوله

    Janganlah tenggelam dalam kesedihan jika dunia tidak berpihak padamu. Lihatlah bulan, bukankah ia makin jelas indahnya jika malam makin semakin gulita? (Edgar Hamas)

    Semakin tua usia kita maka hidup akan semakin tak mudah. Begitulah saat kita memutuskan untuk hidup. Hidup adalah ruang dan waktu dengan problematika. Tanpa masalah kita hanya berdiri di tempat. Acapkali kesulitan yang kita hadapi membuat kita seolah orang yang paling sengsara di dunia. Tapi, di balik kesedihan yang kita alami, Allah pasti telah siapkan saat untuk kita tersenyum. ”Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (An-Najm : 43).

                Setiap orang pasti punya masalah. Bahkan setelah berkalang tanah pun manusia tetap menjumpai problem. Ya! Pertanyaan “Siapa Tuhan-mu?”, “Apakah agamamu?”, “Siapakah orang yang telah diutus untukmu?” merupakan problem pertama alam kubur bagi setiap jiwa yang putus.

                Tetapi, orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Justru biasanya yang membuat kita tersenyum adalah kenangan masa lalu kita yang pedih yang kita lalui dengan sabar. Hari-hari berat itu membuat kita lebih kuat, dan kita kan tertawa mengenangnya.

                Seperti halnya dahulu Rasulullah ﷺ diusir dari Mekah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.

                Ahmad bin Hambal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab.

                Ibnu Taimiyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya.

                As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid.

                Ketika Ibnul Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul جامع الأصول dan النهاية , salah satu buku paling terkenal dalam ilmu hadis.

                Ibnul Jauzy pernah diasingkan dari Bagdad, dan karena itu ia mengusai Qiraah Sabah.

                Begitulah ketika tertimpa suatu musibah, kita harus melihat sisi yang paling terang. Karena tentu ada hikmah yang mungkin kita belum tahu. Lantas, sambutlah hari di mana album kesedihan menjadi memori senyuman.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.