Badrodin Haiti - Jenderal Polisi yang Pernah Menyelesaikan Masalah Sulawesi Tengah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Jenderal Badrodin Haiti

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 29 November 2020 17:48 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Badrodin Haiti - Jenderal Polisi yang Pernah Menyelesaikan Masalah Sulawesi Tengah

    Badrodin Haiti menjadi Kapolri karena salah satunya pernah menyelesaikan masalah pertikaian antar agama di Sulawesi Tengah.

    Dibaca : 843 kali

    Judul: The Dream of Paleran – Jenderal Bandrodin Haiti

    Penulis: Riznal Faisal dan Zulkifli Tanjung

    Tahun Terbit: 2016

    Penerbit: Elex Media Komputindo                                                                       

    Tebal: xv + 256

    ISBN: 978-602-02-9786-6

    Ketika Jenderal Polisi Badrodin Haiti dianggat menjadi Kapolri, diskusi menyeruak di media sosial. Banyak yang meragukan kelayakan beliau sebagai Kapolri. Benarkah Badrodin Haiti diangkat menjadi Kapolri karena beliau mempunyai kualifikasi yang memadai, atau pengangkatan beliau hanya karena situasi, dimana calon yang diusulkan tiba-tiba menghadapi masalah dengan KPK? Buku ini memberikan kesaksian siapa sebenarnya Badrodin Haiti dan pengalamannya yang luar biasa sebagai seorang polisi sehingga beliau memang layak menjabat sebagai Kapolri.

    Pengalamannya sejak masuk polisi sampai dengan menjadi Wakapolri menunjukkan bahwa Badordin Haiti adalah polisi yang lengkap. Ia menangani masalah kriminalitas kelas jalanan, terorisme sampai dengan kasus-kasus yang terkait dengan politik.

    Sederet pengalamannya menjadi polisi diuraikan dalam buku ini. Ia pernah bertugas di Kamboja sebagai pasukan UNTAC untuk menjaga perdamaian. Kisah kriminalitas penodong dalam angkot saat ia menjabat sebagai Kapolsek Sawah Besar, Jakarta Barat dan pembebasan Evelyn yang disandra oleh mantan sopir keluarganya adalah dua bukti kemampuannya menangani masalah kriminal. Ia juga berhasil membongkat sindikat penipuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Jawa Timur.

    Anak pasangan Ahmad Haiti dan Siti Aminah yang lahir di Paleran tanggal 24 Juli 1958 ini tertarik menjadi polisi sejak kelas 3 SMA. Saat itu ada sosialisasi dari Akabri di sekolahnya. Sejak saat itu dia tertarik untuk menjadi tentara. Selepas dari SMA ia mendaftar ke Akabri dan diterima. Saat Badrodin di Akabri, calon polisi masih dididik bersama dengan tiga angkatan lainnya. Badrodin pun masuk ke bagian kepolisian.

    Dalam jabatannya sebagai polisi, Badrodin Haiti berhasil meredam isu santet saat menjabat sebagai Kapolres Probolinggo. Kemampuannya untuk berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan pembuktian bahwa yang meninggal adalah disebabkan karena sakit yang dibuktikan oleh visum mampu mencegah terjadinya aksi anarkis. Ketika menjadi Kapoltabes Medan ia berhasil menangani teror bom natal dan premanisme.

    Kasus yang berbau politik yang ditanganinya adalah saat ia membongkar korupsi keluarga Atut di Banten. Keberaniannya berseteru dengan keluarga Atut berakibat ia kehilangan jabatan. Ia menangkap Syatibi Sochib, adik Chasan Sochib dalam perkara fee proyek fiktif. Meski keluarga Atut mencoba menyuapnya dengan sekopor uang, tetapi Badrodin tetap kuekueh memproses kasus tersebut. Sayangnya Syatibi meninggal di tahanan polisi karena sakit. Kematian papan Atut yang saat itu menjadi Gubernur Banten dan pengurus Golkar membuat Badrodin dipindahkan dari Banten. Selain kasus perseteruan dengan Atut, Badrodin punya pengalaman menangani kasus meninggalnya Ketua DPRD Sumatra Utara saat membahas permohonan pendirian Provinsi Tapanuli. Badrodin mampu mencegah kerusuhan antaretnis karena kasus tersebut.

    Saat menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah, Badrodin harus berhadapan dengan isu perang antaragama. Situasi dimana masing-masing pihak (Kristen dan Islam) yang sudah tidak saling percaya membuat suasana Poso menjadi demikian tegang. Badrodin berani mengeksekusi mati Tibo yang secara hukum hukumannya telah sah. Tentu ia meyakinkan pihak Kristen bahwa eksekusi tersebut harus dilakukan supaya polisi bisa menangani kasus-kasus lainnya. Betul saja eksekusi Tibo membuat polisi dipercaya pihak Islam. Dengan demikian Polisi bisa menangkap para perusuh dari pihak Islam yang selama ini berlindung kepada masyarakat. Badrodin Haiti dianggap berhasil meredam konflik agama yang mencekap di Poso, Sulawesi Tengah.

    Badrodin Haiti menjadi Wakapolri di era Sutarman pada tahun 2013 (dalam buku ini, di halaman 129, disebutkan Badrodin Haiti dilantik sebagai Wakapolri pada tanggal 4 Maret 2015). Sebenarnya ia telah masuk bursa calon Kapolri sejak tahun 2013. Namun sepertinya ia akan pensiun sebagai Wakapolri. Sebab saat Sutarman diberhentikan sebelum masa tugasnya selesai, nama Badrodin Haiti tidak masuk sebagai nama yang diusulkan. Tetapi nasib memang membawanya kepada keberuntungan. Budi Gunawan, calon yang sudah disetujui DPR ternyata dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK. Maka pada tanggal 17 Arpil 2015, Badrodin Haiti resme menjadi Kapolri.

    Langkah pertama yang dilakukan Badrodin Haiti adalah mengangkat Budi Gunawan sebagai Wakapolri. Keputusan ini tentu menimbulkan kegaduhan. Namun demi menyatukan kepolisian yang mulai terbelah, Langkah tersebut dilakukannya. Badrodin Haiti harus menghadapi perseteruan Kepolisian dengan KPK. Salah satu perseteruan tersebut adalah penangkapan Novel Baswedan oleh polisi. Penangkapan penyidik KPK ini tentu menambah keriuhan perseteruan tersebut. Pada akhirnya Badrodin mengeluarkan instruksi bahwa penindakan terhadap kasus yang melibatkan personil KPK harus seijin Kapolri. Maka kegaduhan antara KPK dengan Kepolisian dapat dicegah.

    Saat ia menjabat sebagai Kapolri, kasus Pelindo II, kerusuhan Tolikara, kebakaran hutan yang masif dan teror bom Thamrin terjadi. Badrodin juga menangani terorisme di Poso melalui Operasi Tinombala. Di sinilah Badrodin Haiti menunjukkan kapasitasnya sebagai Kapolri.

    Adrianun Meliala, mantan Komisiaris Kompolnas, sekaligus Anggota Ombusman RI memuji Badrodin Haiti. Adrianus menyatakan bahwa Badrotin Haiti adalah seorang polisi yang taat kepada atasan dan orang lapangan yang selalu mencari solusi. Meski ia bukan pemimpin yang kharismatik tetapi tenang dalam menghadapi masalah. Ia tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan keluarganya. Adrianus juga menyatakan bahwa program saat ia menjabat Kapolri berhasil mencapai target.

    Jadi, Badrodin Haiti memang layak menjabat Kapolri. (547)

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.