Gupak Pulute Ora Mangan Nangkane - Analisa - www.indonesiana.id
x

لماس فتوى lammas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Oktober 2020

Senin, 30 November 2020 17:12 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Gupak Pulute Ora Mangan Nangkane

    Pribahasa ini berasal dari Bahasa jawa, gupak pulute ( terkena getahnya ) ora mangan nangkane ( tidak makan nangkanya ) kurang lebih begitulah arti secara harfiah dari pribahasa tersebut. Pada masa lampau, Ketika Nangka belum dijual disupermarket dengan kondisi siap santap, setiap orang yang ingin merasakan manis dan lezatnya buah Nangka harus berjuang dulu, mulai dari membelah buahnya yang besar, kemudian memisahkan antara daging Nangka yang bisa dimakan dari bagian yang tidak bisa dimakan. Dengan proses yang spserti itu maka kita tidak mungkin bisa terlepas dari “gupak pulute”.

    Dibaca : 318 kali

    Pribahasa ini berasal dari Bahasa jawa, gupak pulute ( terkena getahnya ) ora mangan nangkane ( tidak makan nangkanya ) kurang lebih begitulah arti secara harfiah dari pribahasa tersebut. Pada masa lampau, Ketika Nangka belum dijual disupermarket dengan kondisi siap santap, setiap orang yang ingin merasakan manis dan lezatnya buah Nangka harus berjuang dulu, mulai dari membelah buahnya yang besar, kemudian memisahkan antara daging Nangka yang bisa dimakan dari bagian yang tidak bisa dimakan. Dengan proses yang spserti itu maka kita tidak mungkin bisa terlepas dari “gupak pulute”.

    Secara luas, pribahasa ini menggambarkan ungkapan untuk seseorang yang telah berperan dan berjuang serta bersusah payah untuk mencapai suatu keberhasilan, namun tidak dapat menikmati manisnya buah jerih payah itu. Betapa sialnya orang tersebut yang tidak merasakan manis hasil perjuangan justru hanya merasakan pedih dan pahit resiko yang harus dilalui.

    Dalam konteks agama, ada banyak sekali kejadian yang selaras dengan pribahasa jawa tersebut, diantaranya :

    1. Firman Alloh subhanahuwata’ala

     

    هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَة(4)

     

    “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari kiamat? Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina. (Padahal) mereka beramal berat lagi kepayahan. Mereka memasuki api yang sangat panas (neraka)”. QS. Al-Ghasyiyah (88): 2-4

     

    Beberapa ayat diatas mengisahkan bahwa ada Sebagian manusia yang Ketika didunia sudah bangga dengan amal baiknya (menurutnya) yang sangat banyak,namun Ketika hari kiamat dikumpulkan semua makhluk dipadang mahsyar mereka menundukan kepala mereka karena malu, ternyata amal yang telah dilakukan semasa hidupnya dengan susah payah itu tidak ada nilainya untuk bekal dia masuk syurga, malah justru orang itu masuk neraka karena apa yang diamalkannya tidak ikhlas karena Alloh subhanahuwata’ala dan tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam.

     

    1. Sabda Nabi Muhammad shollallohu’alaihiwasallam

     

    منْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

     

    “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha.

     

    Nah, maka dari itulah kita harus lebih berhati-hati dalam beramal, jangan hanya mememntingkan kuantitas tanpa memperhatikan kualitas sebagai prioritas. Maka Ketika kita hendak beramal, pastikanlah sudah ikhlas karena Alloh dan sesuai dengan ajaran Rosululloh.

    Begitu pula dalam hal duniawi, pekerjaan yang hanya mengedepankan kuantitas seringkali acuh terhadap kualitas, akhirnya kena marah atasan karena hasil kurang maksimal, atau kehilangan konsumen dalam hal perdagangan.

    Jadi, dalam beramal untuk akhirat ataupun pekerjaan duniawi perhatikanlah kedua hal penting tersebut. Alangkah baiknya kalau bisa mengerjakan banyak hal dengan kualitas yang tidak abal-abal. Bila tidak maka bersiaplah “gupak pulute ora mangan nangkane”.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.