Quarter Life Crisis dalam Perspektif Islam - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Istianah Billah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 September 2020

Selasa, 1 Desember 2020 16:59 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Quarter Life Crisis dalam Perspektif Islam

    Pada QLC ini seseorang akan bertanya tentang tujuan hidup, motivasi hidup, dsb. Seolah merasa frustasi, galau berhari-hari, tidak produktif, dan yang paling parah hingga menghindar dari kehidupan sosial di luar rumah dan pertemuan keluarga besar.

    Dibaca : 875 kali

         Oleh: Istianah*

    Lebih dari setengah millenial mengalami Quarter Life Crisis. Quarter Life Crisis (QLC) atau Krisis Usia Seperempat Abad merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional. Yang dimaksud krisis adalah adanya kebingungan, kecemasan, keraguan akan masa depan kehidupan. QLC ini rentan dialami muda-mudi di usia 20 hingga 30 tahun. Pada QLC ini seseorang akan bertanya tentang tujuan hidup, motivasi hidup, dsb. Seolah merasa frustasi, galau berhari-hari, tidak produktif, dan yang paling parah hingga menghindar dari kehidupan sosial di luar rumah dan pertemuan keluarga besar.

    Islam memiliki konsep tahapan umur, yang bertentangan dengan teori Quarter Life Crisis. Karena dalam Islam tahapan umur terbagi menjadi tiga; 1. Fase Kelemahan (meliputi janin dan masa kanak-kanak) 2. Fase Kekuatan (meliputi masa dewasa) 3. Fase Kelemahan dan Lanjut Usia (meliputi usia tua dan degenerasi).

    Islam tidak mengenal istilah masa remaja. Yang ada adalah fase sebelum dan sesudah akil balig. Masa sebelum akil balig termasuk dalam fase kelemahan (kanak-kanak), dan masa sesudah akil balig masuk dalam fase kekuatan (masa dewasa).

    Dalam konsep Islam, QLC sudah selesai sebelum akil balig. Karena dalam Islam seseorang yang sudah akil balig telah dibebani hukum syarak, apabila ia berakal dan mengerti hukum tersebut. Sangat berbahaya jika seseorang yang telah mencapai usia 25 tahun, belum mengetahui tujuan dan pedoman hidupnya. Karena hal itu rentan menjadi penyebab timbulnya dosa.

    Adapun bukti bahwa QLC tidak sesuai dengan konsep Islam adalah sebagai berikut:

    1. Nabi Muhammad ﷺ

    Saat berusia 7 tahun beliau ﷺ adalah seorang penggembala kambing, yang pergi dengan 100 ekor pulang, pun dengan 100 ekor. Semua kambing gembalaan gemuk dan subur. Beliau ﷺ sangat amanah dan tanggung jawab.

    Beranjak usia 12 tahun, berekspedisi dagang internasional. Telah belajar finansial sejak usia belia. Juga memimpin perdagangan internasional saat pamannya pensiun.

    Usia 25 tahun menikah dengan Khadijah binti Khuwailid sdengan mahar 20 ekor unta.

    Masa QLC telah diselesaikan oleh Rasulullah ﷺ sejak sangat dini.

    1. Zubair bin Awwam 

    Ia adalah penolong setia Rasulullah ﷺ, pembela Islam, pahlawan yang sangat tangguh, dan toggak kokoh yang sejati bagi dakwah Islam.

    Ia berikrar masuk Islam pada usia 15 tahun.

    1. Ali bin Abi Thalib 

    Pada usia 10 tahun, Ali bin Abi Talib telah mampu menyerap konsep keesaan Allah secara benar, menerima konsep kenabian dan risalah, perihal wahyu dan malaikat, perihal hari berbangkit dan hari kiamat, perihal keberadaan surga dan neraka, konsep beramal hanya karena Allah semata, hidup hanya di jalan Allah dan bahkan mati di jalan Allah. Ali bin Abi Talib telah menguasai semua konsep itu pada usia 10 tahun. 

    1. Muhammad Al-Fatih

    Saat usianya 8 tahun ia telah menyelesaikan hafalan Al-Quran. Rentang usia 8-11 tahun ia merupakan pelajar yang luar biasa. Belajar bahasa Arab, Turki, Ibrani, Yunani, Latin, Persia. Belajar ilmu Astronomi, Matematika, Fikih, Hadis. Juga latihan basic peperangan, teknik bermain pedang, berkuda, memanah, dan berenang.

    Usia 19 tahun telah diangkat menjadi seorang raja. Usia 21 tahun telah dapat membebaskan Konstantinopel. Ia telah mengetahui tujuan hidupnya sejak kecil. Saat masa kanak-kanak sang ayah sering mengajaknya ke suatu bukit yang di mana benteng Konstantinopel nampak dari atas bukit tersebut. “Jika kau besar nanti, kau akan membebaskan dan menghancurkan benteng itu!.”  Tanam sang ayah. Ia telah mengetahui dan paham, apa tujuan besar dalam hidupnya sejak kanak-kanak.

     

    1. Salahuddin Al-Ayyubi

    Ia telah mendeklarasi cita-citanya pada usia 8 tahun untuk membebaskan Palestina.

                Begitulah Islam membuat regulasi seperti ini, agar usia produktifitas manusia lebih panjang. Sehingga, dalam perspektif Islam, Quarter Life Crisis pada rentang waktu 20-30 tahun tidaklah wajar. QLC dalam Islam bukanlah sebuah masalah. Tetapi, QLC adalah sebuah fase seseorang berkembang atau fase naik kelas, yang selalu ingin melakukan banyak hal. Karena dalam kehidupan yang namanya Crisis (baca: tantangan) sudah ada sejak masa bayi. Saat ia lapar atau menunggu sang ibu pulang dari suatu tempat, dsb. Hal-hal tesebut merupakan krisis-krisis yang dialami manusia sejak masa kanak-kanak.

     

    Referensi :

    *)Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab STIBA ARRAAYAH Sukabumi



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.