Kisah Dokter yang Positif Covid-19: Saya Sudah Pasrah jika Harus Gugur... - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Andre menjadi salah satu tenaga kesehatan yang terinfeksi COVID-19, meski begitu ia tidak menyerah

Pencerah Nusantara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Agustus 2020

Jumat, 4 Desember 2020 05:46 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kisah Dokter yang Positif Covid-19: Saya Sudah Pasrah jika Harus Gugur...

    Saya resmi menjadi pasien Covid-19 pada 6 November lalu tidak lama setelah ibu saya didiagnosis mengalami hal serupa. Semua ini berawal ketika tim surveilans Puskesmas Cijerah memberitahukan hasil swab test kedua saya. Dengan penyakit bawaan yang ada, yakni penyakit jantung, saya sudah pasrah. Tapi isolasi dan interaksi dengan sesama pasien selama karantina, membuat saya bangkit...

    Dibaca : 1.192 kali

    Andre menjadi salah satu tenaga kesehatan yang terinfeksi COVID-19, meski begitu ia tidak menyerah. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

    Saya resmi menjadi pasien Covid19 pada 6 November lalu tidak lama setelah ibu saya didiagnosis mengalami hal serupa. Semua ini berawal ketika tim surveilans Puskesmas Cijerah memberitahukan hasil swab test kedua saya. Ketika hasil tes itu menunjukkan positif, saya tertawa sejadi-jadinya.

    Dunia begitu tidak adil karena beberapa hari sebelumnya, ibu saya pun terkonfirmasi positif.  Saya lantas segera memutuskan ke rumah singgah isolasi mandiri dan tidak lupa meminta observasi tenaga medis, mengingat saya memiliki riwayat penyakit jantung. Gejala Covid-19, demam, nyeri tenggorokan, dan batuk kering yang saya alami benar-benar mengganggu.

    Isolasi

    Mobil penjemput terparkir di depan puskesmas. Sang sopir mengenakan APD lengkap yang kerap saya gunakan ketika bertugas. Hati saya bergetar, mengingat petugas-petugas kesehatan itu menyemangati saya. “Andre yang kuat jangan terlalu dipikirkan,” ujar salah seorang petugas.

    Di rumah singgah saya bertemu perawat dan dokter yang berusaha sebaik mungkin melayani. Berdasarkan keterangan mereka, pasien dengan gejala perlu melaksanakan isolasi mandiri selama 13 hari. Artinya, selama 13 hari saya perlu berinteraksi seminimal mungkin dengan orang lain.

    Menjadi pasien Covid-19 menumbuhkan empati saya. Terkadang, sebagai tenaga kesehatan, kami memang memandang enteng persoalan stigma. Kami pikir isolasi bisa dilaksanakan dengan mudah. Padahal, ada stigma yang mengikutinya. Beberapa rekan tenakes kerap mengganggap saya lalai menerapkan protokol kesehatan dan itu benar-benar mengganggu saya. Selain menyakitkan, pernyataan itu juga tidak adil. Sebab, selama berkontak dengan puluhan hingga ratusan orang setiap harinya, saya tidak mungkin bisa menebak dari mana saya tertular.

    Beratnya Isolasi

    Selama isolasi, pikiran saya teralihkan kepada ibu saya yang kabarnya alami demam tinggi. Saya tentu jauh lebih beruntung karena hanya alami gejala ringan. Infeksi ibu justru sebaliknya, meluas hingga ke kedua paru-paru. Ia alami happy hypoxia, saturasinya turun mencapai 93%. Meski tidak mengalami sesak napas sama sekali, kondisi ini tidak bisa ditebak prognosisnya.

    Dikarenakan stres yang tak tersalurkan, beberapa kali aritmia saya muncul. Pikiran saya selalu menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya. Bahkan denyut nadi saya pernah mencapai 200 kali per menit, jantung saya berdebar terus, dan tekanan darah naik hingga 160/90 mmHg. Saya berusaha menghubungi dokter yang bertugas untuk meresepkan obat jantung yang biasa saya konsumsi.Ketika itu jujur saja, saya pasrah jika akhirnya menjadi dokter yang gugur karena Covid-19.

    Isolasi mandiri perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan semangat pasien dalam menjalani proses penyembuhan. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

    Bangkit

    Isolasi mandiri, mendorong saya bangkit perlahan-lahan. Di rumah singgah, saya bertemu tenakes terkonfirmasi Covid-19 lainnya, mulai dari dokter hingga perawat. Suasana kebersamaan setiap kali berjemur, perlahan-lahan menenangkan saya. Interaksi yang singkat setiap harinya kami maksimalkan untuk membagi cerita dan kesedihan.

    Selama 13 hari isolasi saya belajar banyak, terutama tentang penanganan Covid-19 di tingkat individu. Biasanya, saya bertugas menangani Covid-19 di level komunitas dan jarang berinteraksi dengan pasien Covid-19 yang menjalani isolasi.

    Isolasi adalah momentum terbaik merasakan yang dirasakan pasien ketika jauh dari orang-orang yang dicintai. Dari sana saya sadar pendampingan psikologis adalah kebutuhan mutlak bagi pasien. Tenaga kesehatan harus mendengarkan semua keluhan pasien, tanpa banyak berkomentar sekaligus memberikan dukungan dan semangat. Sebab, membangun energi positif selama isolasi adalah kunci menuju kesembuhan.       

    Setelah 13 hari berjuang, saya diperbolehkan pulang. Dengan itu, saya resmi menjadi penyintas Covid-19 dan ini saatnya bertugas ke medan perang kembali. Trauma? Mungkin ada. Tetapi itu tidak menjadi alasan mundur. Sudah sepantasnya tenaga kesehatan berjuang sampai akhir, memutus rantai penyebaran Covid-19 hingga pandemi ini selesai. Terhadap siapapun yang menolong saya selama isolasi, saya ucapkan terima kasih atas pengalaman ini.

     

    Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

    Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

     

    Penulis

    Andre Patar Saroha Situmorang (Dokter)

    Pencerah Nusantara Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.