Kebut Pembangunan Kilang, Cita-cita Mandiri di Bidang Energi Sedang Diwujudkan - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Selasa, 15 Desember 2020 19:52 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kebut Pembangunan Kilang, Cita-cita Mandiri di Bidang Energi Sedang Diwujudkan

    Nelalui penugasan kepada Pertamina, Jokowi mengamanatkan untuk segera membangun kilang. Ada dua hal yang dijadikan jalan keluar, meningkatkan kemampuan kilang yang sudah ada dan membangun kilang baru. Dari pembangunan kilang itu, salah satunya, akan dihasilkan produk turunan petrokimia. Itu tentu akan jadi kabar baik, sebab impor petrokimia setiap tahun mencapai Rp323 triliun. Mengingat hal itu, pembangunan kilang sudah tidak bisa ditawar lagi.

    Dibaca : 1.483 kali

    Sejak Joko Widodo (Jokowi) terpilih sebagai presiden, keinginan untuk mandiri di bidang energi terus diupayakan. Di masa lalu, Indonesia terlena dengan kekayaan alam. Perusahaan tambang asing menguasai tambang dengan porsi lebih dari 50%, Freeport contohnya. Itu artinya, sejak lama kita telah menyalahi garis tegas yang telah diamanatkan UUD 45.

    Dalam hal pengolahan bahan bakar minyak juga demikian. Selama lebih dari tiga puluh tahun tidak ada pembangunan kilang baru. Akibatnya negara harus menambah jumlah impor BBM setiap tahunnya. Karena kilang-kilang lama tidak mampu memproduksinya. Sementara kebutuhan BBM dalam negeri terus bertambah.

    Fakta getir itulah yang hendak diubah di masa pemerintahan Jokowi. Maka melalui penugasan kepada Pertamina, Jokowi mengamanatkan untuk segera membangun kilang. Ada dua hal yang kemudian dijadikan jalan keluar, meningkatkan kemampuan kilang yang sudah ada (Refinery Development Master Plan/RDMP) dan membangun kilang baru (Grass Root Refinery/GRR).

    Untuk merealisasikan hal itu, Pertamina membutuhkan investasi yang sangat besar sampai dengan 2027. Jumlahnya mencapai lebih dari US$40 miliar atau lebih dari Rp566 triliun. Besarnya dana yang dibutuhkan itu membuat Pertamina harus menempuh berbagai strategi pendanaan. Menyiapkan langkah sistematis agar pembangunan kilang bisa segera diwujudkan.

    Misalnya dengan mencari mitra strategis, pendanaan projek (project financing), pinjaman perbankan, skema Build Operate Transfer (BOT) maupun Build Lease Transfer (BLT). Langkah-langkah itu ditempuh sesuai dengan koridor peraturan yang berlaku dan diselesaikan secepat-cepatnya. Sebab kebutuhan terhadap kilang mendesak sifatnya.

    "Ini semua agar pembangunan kilang dapat selesai sesuai dengan target yang ditetapkan," kata Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Refinery and Petrochemical Sub Holding Pertamina, Ignatius Tallulembang, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, Senin, 14 Desember 2020.

    Beberapa proyek telah dilakukan kerja sama dengan mitra, misalnya pada proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban, Pertamina menggandeng Rosneft. Dari sana dibentuk perusahaan patungan bernama Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP). Proyek lain Petrochemical Jawa Barat, Pertamina telah menjajaki kerja sama dengan partner CPC Taiwan dan juga LG Chem.

    Dari pembangunan kilang itu akan dihasilkan produk turunan petrokimia. Itu tentu akan jadi kabar baik, sebab impor petrokimia Indonesia setiap tahun mencapai Rp323 triliun. Mengingat hal itu, pembangunan kilang sudah tidak bisa ditawar lagi.

    Proses ke sana memang harus menempuh jalan terjal. Beberapa calon mitra seperti Saudi Aramco misalnya, memilih mundur dari kesepakatan membangun kilang Cilacap. Hal itu terjadi lantaran perusahaan minyak asal Arab Saudi itu menilai kilang eksisting yang mau dikembangkan terlalu rendah. Sehingga berpotensi merugikan negara.

    Namun proyek pembangunan kilang jalan terus. Kilang Balikpapan misalnya, sudah mencapai 17% konstruksinya. Dengan kondisi normal sesuai target yang ditentukan, nantinya hasil pembangunan itu akan meningkatkan kapasitas menjadi 360 ribu barel, yang akan beroperasi pada 2023.

    Sementara untuk kilang Balongan sudah masuk pembangunan tahap pertama. Sebagai informasi, ada tiga tahap pembangunan kilang Balongan. Tahap pertama adalah meningkatkan kapasitas. Tahap kedua optimalisasi produk. Tahap ketiga membangun pengembangan komplek kilang terintegrasi petrokimia di Balongan.

    Kilang lain seperti kilang Dumai misalnya, saat ini fokus pada perbaikan kualitas agar bisa menghasilkan produk berstandar Euro 5. Sedangkan kilang Plaju, saat ini fokus pada pembangunan greenfuel sambil melakukan efisiensi dan modernisasi kilang.

    Gambaran dari pembangunan kilang yang sedang berjalan itu adalah komitmen Indonesia untuk mandiri di bidang energi. Setelah semua kilang itu selesai dibangun, impian untuk menekan impor BBM akan segera jadi kenyataan. Di saat itulah, pelaksanaan amanat UUD 45, yaitu menggunakan sumber daya alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat telah sesuai dengan yang dicita-citakan oleh para pendahulu kita.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.