Invasi Corona: Maukah Manusia Berdamai dengan Alam? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

KKN UNS

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 Desember 2020 12:26 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Invasi Corona: Maukah Manusia Berdamai dengan Alam?

    Di antara manusia yang paling rentan menghadapi semua dampak buruk eksploitasi Bumi ialah warga yang kurang berdaya: fakir, miskin, lansia, difabel, nirkuasa, nirpendidikan, hingga orang-orang yang tidak memiliki akses kepada berbagai sumber daya. Merekalah yang paling kurang menikmati hasil-hasil eksploitasi terhadap alam, namun yang justru paling merasakan dampak buruknya.

    Dibaca : 1.533 kali

     

    Pandemi Corona tampaknya menyadarkan sebagian orang untuk kembali ke alam—berdamai dengan alam serta mengurangi tingkat eksploitasi terhadap alam yang membuat alam ‘menyerang balik’ manusia. Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari pandemi yang entah kapan berakhir. Namun intinya ialah bahwa manusia tidak bisa lagi berlaku seenaknya terhadap bumi dan alam dengan menganggap diri sebagai satu-satunya makhluk yang berhak untuk menguasai bumi.

    Virus Corona, makhluk seukuran zarah dan tidak kasat mata telanjang itu, telah membuat manusia di bumi bertekuk lutut. Virus ini memaksa manusia mengubah perilaku dan kebiasaannya: menjaga jarak, memakai masker, sering mencuci tangan, tidak berkerumun, tidak bersekolah, tidak bebas bekerja di kantor, pabrik, dan banyak lagi hal lain. Manusia dipaksa berdiam di rumah berbulan-bulan. Manusia dipaksa tunduk oleh tantangan virus yang boleh jadi merupakan bentuk peringatan kepada manusia untuk menurunkan kadar keangkuhannya.

    Pandemi ini sebuah peringatan bagi manusia tentang bagaimana hidup yang semestinya, yang tidak eskploitatif terhadap alam—bumi khususnya. Nafsu manusia untuk menundukkan alam sama saja dengan melawan alam, yang pada gilirannya alam membalas balik kepada manusia. Bahkan, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengingatkan bahwa melawan alam tidak ubahnya tindakan bunuh diri. Lihatlah es alami yang mencair, sulitnya memperoleh oksigen yang bersih dari partikel pencemar, air sungai yang kental oleh limbah berbahaya, itulah serangan balik alam karena kerakusan kita, dan ini tak beda dengan tindakan bunuh diri.

    Menarik apa yang disampaikan Guterres dalam pidatonya, Situasi Planet Kita, di Universitas Columbia, New York, AS, 2 Desember 2020 lalu. Ia mengatakan: berdamai dengan alam merupakan tugas terpenting untuk ditunaikan pada abad ke-21. Eksploitasi berlebihan oleh manusia terhadap alam telah menciptakan dampak yang mengerikan: perang memperebutkan sumber daya alam, kehancuran dan kerusakan lingkungan yang berskala luas, ketimpangan yang dalam antara kaum kaya dan miskin, serta penyakit yang silih berganti dengan kebanyakan manusia tidak mampu mengakses fasilitas kesehatan.

    Di antara manusia yang paling rentan menghadapi semua dampak buruk itu ialah penghuni Bumi yang kurang berdaya: fakir, miskin, lansia, difabel, nirkuasa, nirpendidikan, hingga orang-orang yang tidak memiliki akses kepada berbagai sumber daya—ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Merekalah yang paling kurang menikmati hasil-hasil eksploitasi terhadap alam, namun yang justru paling merasakan dampak buruknya. Inilah ironi yang diakibatkan oleh keserakahan sebagian kecil manusia yang berdampak buruk kepada sebagian besar manusia.

    Di tingkat global, banyak seruan dikumandangkan yang mengajak penghuni Bumi untuk berdamai dengan alam—tidak eksploitatif, tidak serakah, tidak seenak udelnya bertindak demi menimbun cuan dengan menambang sebebas-bebasnya, membabat rimba sesuka-sukanya, menguras laut sekenyangnya, dan mengotori bumi sesuka hatinya. Sayangnya, seruan ini kurang bergema di sini. Kita membiarkan manusia-manusia eksploitatif itu memuaskan hasrat duniawinya belaka, namun melupakan nasib anak-cucunya sendiri di masa depan. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.