Tumbelo Tohe, Tradisi Asli Gorontalo Menyambut Lailatul Qodar - Travel - www.indonesiana.id
x

HendriyantoPakaya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 November 2020

Sabtu, 26 Desember 2020 10:04 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Tumbelo Tohe, Tradisi Asli Gorontalo Menyambut Lailatul Qodar


    Dibaca : 549 kali

    Tumbilo tohe adalah perayaan berupa memasang lampu di halaman rumah-rumah penduduk dan di jalan-jalan, terutama jalan menuju masjid, yang menandakan berakhirnya Ramadan di Gorontalo.[1] Perayaan ini dilakukan pada tiga malam terakhir menjelang hari raya Idul Fitri. Pemasangan lampu dimulai sejak waktu magrib sampai menjelang subuh.[1][2]

    Tradisi ini diperkirakan sudah berlangsung sejak abad ke-15. Ketika itu penerangan masih berupa wango-wango, yaitu alat penerangan yang terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohe tutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala.

    Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat. Malam tumbilo tohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di Gorontalo. Saat tradisi tumbilo tohe di gelar, wilayah Gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap. Gemerlap lentera tradisi tumbilo tohe yang digantung pada kerangka–kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota Gorontalo. Di atas kerangka di gantung sejumlah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan dan kemuliaan hati menyambut hari raya idulfitri.

    Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama. Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah sendiri tanpa subsidi dari pemerintah. Tanah lapang yang luas dan daerah persawahan di buat berbagai formasi dari lentera membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Tradisi tumbili tohe juga menarik ketika warga Gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bunggo dan festival bedug.[2][Wiki pedia]

    Menurut seorang sejarawan kenapa tradisi ini di laksanakan pada 3 malam terakhir di bulan ramadhan alasannya karena pada 3 malam terakhir ini keadaan bumi sangat gelap karena bulan akan terbit pada pertengahan malam. Oleh karena itu masyarakat Gorontalo berinisiatif untuk melakukan sebuah penerangan agar memudahkan masyarakat untuk datang kemasjid dalam rangka melaksanakan shalat berjamaah di masjid maka di adakan acara pasang lampu atau di kenal dengan Tumbelo Tohe.

    Pada awalnya tradisi ini hanya sebatas tradisi saja dan tidak ada kaitannya dengan ibadah. Namun semakin lama tradisi ini di kaitkan dengan ibadah karena pelaksanaan tradisi ini bertepatan dengan malam Lailatul Qodr. Sebagian masyarakat meyakini acara pasang lampu dilaksanakan untuk menyambut para malaikat yang akan turun pada malam Lailatul Qodr. Sehingga pemasangan lampu harus diawali dengan bacaan surat al-Qodr dan menggunakan minyak kelapa. Juga ada kapas sebagai sumbu dan menggunakan wadah seperti botol bekas dan sebagainya agar penerangan yang didapatkan dari api lebih sakral.

    Tapi kepercayaan ini keliru karena proses penyambutan malaikat dengan menggunakan api sebapai penerang kurang tepat. Karena malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan syetan di ciptakan dari api, maka timbul pertanyaan berarti siapa yang sebenarnya mereka sambut?

    Kesimpulannya bahwa tradisi ini tidak bisa di kaitkan dengan ibadah secara mutlak, namun hanya sebatas kekayaan dan keberagaman budaya di Indonesia dan terkhusus sebagai tradisi asli masyarakat Gorontalo.

    Adapun nilai ibadahnya tidak terdapat pada tradisi itu sendiri melainkan pada niat dari pelaksanaan tradisi tersebut. Jika tradisi dengan niat untuk memudahkan masyarakat dalam melaksanakan shalat berjamaah di masjid maka hal ini bernilai ibadah. Namun jika pelaksanaan tradisi ini di yakini atau diniatkan untuk menyambut malam Lailatul qodar maka hal ini tidak ada contonya dari Rasulullah ﷺ dan termasuk dalam perkara menambah-nambah dalam urusan agama yang menjadikan amal trsebut tertolak dan pelakunya akan mengalami kerugian dengan tertolaknya amal yang dia lakukan.
    والله أعلم بالصواب



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.