Politik Figur: Tak Usah Mendewakan Tokoh - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Kepemimpinan. Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 29 Desember 2020 17:30 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Politik Figur: Tak Usah Mendewakan Tokoh

    Dalam politik, pemujaan yang berlebihan kepada figur tertentu mendorong awam, rakyat banyak, wong cilik, terbelah-belah karena keberpihakan mereka yang berlebihan kepada individu-individu yang dipuja. Sejarah manusia yang panjang sudah membuktikan betapa semua itu seringkali menjerumuskan masyarakat dalam pertentangan.

    Dibaca : 1.110 kali

     

    Pemujaan awam kepada sesama manusia yang dipandang unggul bukanlah hal baru dalam sejarah manusia. Adolf Hitler merupakan contoh sosok manusia yang dipuja-puja oleh bangsa Jerman pada masanya dan mungkin dianggap sebagai sejenis Ratu Adil yang mampu membangkitkan kejayaan ras Arya. Di Soviet masa lampau, ada nama-nama yang juga dipuja-puja awam dengan penuh rasa takut, sebutlah di antaranya Lenin dan Stalin. Di Korea Utara saat ini, pengalaman masa lampau semacam itu berulang.

    Pemujaan kepada sesama bahkan bisa berlebihan, hingga terkesan sosok-sosok seperti Hitler dan Lenin itu didewakan. Mereka dipuja oleh para pengikutnya hingga para pengikut ini kehilangan nyaris sepenuhnya sikap rasional yang logis dalam memandang figur-figur tersebut. Di hadapan orang yang didewa-dewakan itu, para pemujanya—secara sukarela atau penuh ketakutan—nyaris kehilangan kemampuan berpikirnya. Mereka terlelap dalam cengkeraman pesona kharisma atau karena alasan lain.

    Pemujaan yang berlebihan menjadikan figur tersebut sentral dalam relasi antara rakyat, awam, pengikut dan tokoh. Tokoh menjadi pusat perhatian, pusat relasi, pusat kewenangan, dan pusat pengambilan keputusan—mereka yang bukan pusat tidak berani mengambil keputusan. Atas nama berbagai alasan, terpusatnya pengambilan keputusan itu nyaris mutlak. Selain figur sentral adalah bidak yang dapat dimainkan tanpa beban.   

    Pemujaan yang berlebihan itu mendorong awam, rakyat banyak, terbelah-belah karena keberpihakan mereka yang berlebihan kepada individu-individu yang dipuja. Sejarah manusia yang panjang sudah membuktikan betapa semua itu seringkali menjerumuskan masyarakat dalam pertentangan. Dalam politik, pemujaan yang berlebihan membuat rakyat tercerai-berai akibat konflik tanpa memahami benar apa yang sesungguhnya terjadi.

    Di belahan bumi manapun, contoh-contoh mudah dijumpai. Rakyat banyak akhirnya jadi korban, terutama ketika rakyat tidak menyadari bahwa mereka telah dijadikan pion atau bidak dalam pertarungan di antara para elite. Sihir Hitler telah memporakporandakan Eropa, sihir Lenin dan Stalin telah menyengsarakan jutaan orang, dan betapa awam kerap menyadarinya setelah semua kekacauan itu berlalu.

    Sayangnya, sungguh tidak mudah mengikuti nasihat lama ‘Jangan mendewa-dewakan manusia’, terutama karena beberapa alasan. Pertama, karena para pemujanya tidak memiliki cukup ilmu bagaimana memperlakukan seorang tokoh secara proporsional—entah ditokohkan karena jabatan, kekuasaan, kekayaan, maupun karena ke-empu-annya dalam bidang tertentu. Rakyat banyak dininabobokan oleh narasi-narasi yang seolah benar, atau terlihat benar, sementara rakyat kabur dalam melihat substansinya.

    Kedua, pemujaan ala pendewaan itu lazimnya disertai motif tertentu, yaitu ikut menikmati keuntungan dari pemujaan seorang tokoh. Orang-orang yang ndompleng keuntungan ini biasanya berusaha sekuat tenaga selalu menyenangkan hati seorang figur sentral yang dipuja-puja awam. Apabila figur sentral ini mampu bertahan di tangga kekuasaan, katakanlah hingga puluhan tahun, orang-orang ini akan ikut menikmati keuntungan untuk dirinya sendiri selama puluhan tahun pula. Seorang empu pun sanggup mengorbankan integritasnya demi menyenangkan orang yang ia dewa-dewakan. Empu ini memiliki ilmu, tapi ia lebih menyukai bertindak layaknya pelayan bagi figur yang dipuja-puja.

    Ketiga, pendewaan atas seorang figur bisa jadi dilakukan secara terpaksa lantaran awam, rakyat, atau pengikut ini dicengkeram ketakutan—di negara diktatorial dan otoriter, inilah yang terjadi. Dalam lingkup organisasi yang lebih kecil dibanding negara pun bisa pula terjadi. Sebagian orang sanggup melakukan apapun yang diperintahkan oleh yang didewakan, bahkan tanpa bertanya dan tanpa cadangan sikap kritis sekalipun ia tahu sesuatu itu keliru. Pokoknya, ia menuruti saja apa yang dititahkan, bahkan selalu membenarkan apa yang dikatakan ataupun dilakukan oleh sang figur. Ketimpangan relasi yang begitu dalam menyebabkan pendewaan seakan tak terelakkan dan sistem yang ada tidak mampu melahirkan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.

    Apakah hal itu terjadi dalam masyarakat kita? Dalam sejarah kita di masa lampau maupun yang sedang kita jalani sekarang? Jika terjadi, mungkinkah itu bertahan hingga generasi mendatang sebagai warisan kultural? Menurut Anda? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.