Pengalaman Mahasiswi Fisika UPI Mendampingi Guru dan Orang Tua Siswa Saat Pandemi - Analisis - www.indonesiana.id
x

sekolah

genesis freak

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Desember 2020

Senin, 28 Desember 2020 17:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pengalaman Mahasiswi Fisika UPI Mendampingi Guru dan Orang Tua Siswa Saat Pandemi


    Dibaca : 826 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Covid-19 telah mengubah cara-cara hidup kita. Perubahan besar-besaran terjadi khususnya pada bidang pendidikan dan ekonomi. Perubahan pada bidang pendidikan dimulai sejak ditutupnya sekolah dan perguruan tinggi sejak 24 Maret 2020 melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Metode pembelajaran di sekolah diubah menjadi dalam jaringan (daring).

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya kemunduran di bidang pendidikan. Selain itu, pandemi juga menyebabkan kemunduran di bidang ekonomi. Tercatat ada lebih dari 3,5 juta pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

    Dalam masa pandemi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Pendidikan Indonesia (LPPM UPI) telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebanyak dua kali. Untuk menanggulangi dampak pandemi khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi, LPPMĀ  UPI mengadakan KKN Pencegahan dan Penanggulangan Dampak (PPD) Covid-19.

    KKN PPD Covid-19 dilaksanakan sebagai wadah untuk mahasiswa dalam mengabdi pada masyarakat. Program utama yang harus diselesaikan oleh mahasiswa adalah program penanggulangan dampak Covid-19 di bidang pendidikan. Mahasiswa diharuskan mendampingi guru, siswa, dan orang tua siswa dengan target minimal 2 orang guru, 10 orang siswa, dan 10 orang tua siswa. Selain itu, mahasiswa juga diwajibkan untuk menyelesaikan satu buah kegiatan dalam program penanggulangan dampak Covid-19 di bidang ekonomi serta satu buah kegiatan dalam program edukasi pencegahan Covid-19.

    Jessie Manopo, mahasiswa program studi Fisika Universitas Pendidikan Indonesia juga telah melaksanakan KKN PPD Covid-19. Beliau telah melakukan pendampingan pada dua orang guru SMP Negeri 9 Bandung beserta siswa dan orang tua siswanya. Pendampingan tersebut dilakukan secara daring melalui grup Whatsapp.

    Pendampingan terhadap orang tua siswa juga sifatnya wajib untuk dilakukan. Beliau membuat angket bagaimana peran orang tua selama pembelajaran daring. Diperoleh bahwa orang tua siswa telah merasa cukup puas dengan hasil pembelajaran daring selama ini. Namun beberapa orang tua siswa masih berharap agar sekolah dapat melakukan pembelajaran yang lebih interaktif.

    Sebanyak 80% orang tua siswa mengaku membimbing anaknya selama belajar. Seluruh responden, yaitu orang tua siswa SMPN 9 Bandung juga mengaku telah memberikan fasilitas lebih dalam mendukung pembelajaran daring anak. Sebanyak 60% responden mengaku membantu mengajari anaknya di rumah.

    Pembelajaran daring juga memaksa anak untuk menggunakan gawai. Penggunaan gawai yang tidak wajar dapat menimbulkan dampak-dampak negatif. Oleh karenanya, beliau juga meneliti bagaimana pengawasan orang tua terhadap penggunaan gawai anak. Seluruh responden mengaku mengawasi penggunaan gawai anaknya. Sebanyak 80% responden mengaku mengontrol aplikasi apa saja yang digunakan anak. Sebanyak 80% responden mengaku mengontrol waktu pemakaian gawai pada anak. Sebanyak 80% responden mengaku mengawasi situs web yang dibuka oleh anak.

    Sebagai bentuk pemenuhan salah satu kegiatan dalam program edukasi pencegahan Covid-19, Jessie juga telah menyelesaikan 9 buah poster yang diunggah ke media sosial.

    Untuk memenuhi salah satu kegiatan dalam program penanggulangan dampak pandmei di bidang ekonomi, Jessie membuat video yang berisikan peluang usaha di masa pandemi.

    Dalam penyelesaian KKN ini, Jessie merasa kesulitan karena program wajibnya merupakan pengabdian di bidang pendidikan, sedangkan keahlian beliau bukan di bidang pendidikan. Tetapi akhirnya, Jessie berhasil menyelesaikan KKN ini.

    "Saya berterima kasih pada LPPM UPI yang telah memberikan kesempatan untuk mengabdi di masa pandemi Covid-19 ini," ujarnya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.