Jalan Pulang - Sebuah Refleksi Terhadap Diri Melalui Ziarah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Jalan Pulang Maria Hartiningsih

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 7 Januari 2021 05:59 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Jalan Pulang - Sebuah Refleksi Terhadap Diri Melalui Ziarah

    Perjalanan reflektif Maria Hartiningsih saat melakukan ziarah dari Camino Santiago – Lourdes - Plum Village - Oran dan Mostaganem.

    Dibaca : 514 kali

    Judul: Jalan Pulang

    Penulis: Maria Hartiningsih

    Tahun Terbit: 2018 (cetakan keempat)

    Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

    Tebal: xix + 479

    ISBN: 978-602-424-222-0

     

     

    Buku ini mengisahkan perjalanan Mbak Maria Hartiningsih (Mbak Maria) saat melakukan perjalanan ziarah ke Camino Santiago – Lourdes - Plum Village - Oran dan Mostaganem. Sebuah perjalanan ziarah seorang Katholik yang Jawa, Jawa yang Katholik. Mbak Maria melakukan perjalanan ziarah di akhir masa kariernya (tetapi kemudian diperpanjang). Perjalan ziarah ini memberi kesempatan kepadanya untuk melihat kembali perjalanan hidupnya sebagai seorang perempuan Indonesia; “Kesempatan untuk berdialog intim dengan diri sendiri,” istilah yang dipakai oleh Mbak Maria.

    Sangat menarik bahwa Mbak Maria menjuduli buku catatan reflektif saat melakukan perjalanan ziarah ini dengn “Jalan Pulang.” Seakan Mbak Maria ingin menyampaikan sebuah perjalanan menuju ke asal. Sebuah perjalanan menuju ke titik berangkat. Buku ini memang menggambarkan tentang perjalanan hidup Mbak Maria secara reflektif. Sebuah refleksi kepada sangkan paraning dumadi. Sebuah upaya untuk mencari “Jalan Pulang.”

    Mbak Maria melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ziarah umat Katholik di Eropa, pada tahun 2013-2014. Di saat akhir tugasnya sebagai seorang wartawan. Ia membuat catatan tentang tempat-tempat yang dikunjunginya, proses perjalanannya dan refleksi dari apa yang ditemuinya kepada pengalaman hidup dan ajaran-ajaran keluarganya. Terutama ajaran dari Sang Ibu yang melahirkannya.

    Tentang Sang Ibu, Mbak Maria menulis: Ibuku sering memberikan gambaran tentang perjuangan menemukan makna hidup dengan berkelana, dalam ungkapan: “Jajah desa milang kori, jajah kuta milang loji, lelana jajah negari, mubeng tepining samodra, semengka agraning wukir, anelasak wana wasa, tumuruning jurang tebis” (hal. 62).

    Perjalanan diawali dari Bandara Internasional Barajas, Madrid Spanyol. Dari sana ia menempuh perjalanan ke Camino Santiago dengan jalan kaki sejauh 108 km (hal 5). Selanjutnya ia menuju Lourdes dan berakhir di Mostagamen. Perjalanan ziarah dengan jalan kaki memberinya kesempatan untuk berefleksi. Tidak buru-buru dan tidak diburu-buru. Awalnya ia dan rombongannya berupaya mematuhi jadwal. Tapi kemudian ia memilih untuk mengikuti tubuh dan hatinya. Ia bisa menjadikan semua yang ditemuinya menjadi cermin terhadap apa yang telah dilakukannya, dirasakannya dan dimaknainya selama ini. Terutama terhadap sepak terjangnya selama 30 tahun sebagai wartawan dan penulis.

    Selama perjalanan Mbak Maria belajar dari kegembiraan dan keluhan para anggota rombongannya. Keluhan dan kegembiraan teman seperjalanannya adalah gaung keluhan dan kegembiraan yang sama yang sesungguhnya dialami oleh Mbak Maria.

    Sebagai seorang jurnalis dan penulis, Mbak Maria juga memeriksa perjalanan para ziarawan yang telah melakukan perjalanan sebelumnya. Terutapa para ziarawan yang melakukan perjalanan di jalur yang sama, yang dijalaninya. Ia membaca laporan perjalanan Paulo Coelho dan Shirley MacLaine. Ia juga menggunakan pertanyaan-pertanyaan dan gagasan-gagasan para filsuf sebagai cermin; misalnya Nietzche, Kalvin, Weber dan sebagainya.  

    Ia juga menyarikan ajaran-ajaran baik dari semua yang punya, tak memandang asal dan agama. Ia meneguk Ignatius Loyola, Ajahn Bram, Syeikh Khaled Bentounes, Henri Antoine Marie Teissier dan Christian Delorme, Syeikh Abdul Aziz Bukhari dan Thomas Merton. Dari para pejuang perdamaian ini Mbak Maria menyiram kedahagaannya tentang dunia yang damai dan tentang diri yang damai.

    Ketika menyinggung tentang holocaust Yahudi oleh Nazi Jerman, Mbak Maria ingat akan tragedy serupa yang terjadi di Tanah Airnya. Indonesia. Tragedi kemanusiaan adalah sebuah tragedy, tidak penting itu dilakukan oleh siapa, bangsa apa, agama apa.

    Mbak Maria itu sungguh Jawa. Meski ziarah ini dilakukan di wilayah Eropa, tetapi refleksi yang muncul adalah gaya Jawa. Konsep harmoni dipegangnya sangat erat. Lihatlah komentarnya tentang keyakinan mistis dan fatalis saat membahas “predestinasi” berhadap-hadapan dengan “kehendak bebas.” Ia menulis: “Menurutku, baik pemahaman yang bersifat ‘either or” maupun “neither nor” sama bahayanya. Keyakinan berlebihan pada pendekatan mistis membuat orang cenderung fatalis dan menyerah pada takdir. Sebaliknya, keyakinan berlebih pada kebebasan cenderung menganggap diri superior. Keduanya membuat kesadaran terus tertidur, karena seakan-akan manusia adalah subyek yang paling berkuasa atau sebaliknya, obyek yang hanya menghamba.” (hal. 119).

    Perjalanan ziarah memang sebuah perjalanan untuk berdialog dengan diri sendiri. Perjalanan untuk memaknai apa-apa yang telah terjadi dalam hidup. Perjalanan untuk memeriksa sejauhmana kita sebagai manusia telah memberi makna. Setidaknya makna bagi diri sendiri, kalau belum bisa memberi makna bagi manusia dan buminya.

    Dalam buku ini Mbak Maria sungguh sangat berhasil mulat salira hangrawa wani, memeriksa diri sendiri dengan sangat teliti dengan berbagai perjumpaan dengan pengalaman pribadi, teman, peristiwa, tokoh-tokoh yang dikaguminya dan buku-buku yang dibacanya.

    Terima kasih Mbak Maria Hartiningsih. (561)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.