Kenapa Pemberitaan tentang KPK Menurun? - Analisa - www.indonesiana.id
x

KPK

Pandu Pribadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Januari 2021

Selasa, 12 Januari 2021 06:54 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kenapa Pemberitaan tentang KPK Menurun?

    Pemberitaan yang dilakukan oleh berbagai media turut andil menunjang citra suatu rezim dalam masa pemerintahannya.

    Dibaca : 576 kali

    Pemberitaan yang dilakukan oleh berbagai media turut andil menunjang citra suatu rezim dalam masa pemerintahannya.

    Tapi kenapa pemberitaan KPK sekarang sedikit?

    Begitu kira-kira pertanyaan yang ditanyakan kawan saya yang sudah langganan beberapa surat kabar nasional secara daring. Memang saya akui pemberitaan korupsi secara jelas sangat turun angkanya. Penurunan pemberitaan ini mulai terasa semenjak pergantian pimpinan KPK 2019 silam; dari kepemimpinan Bapak Agus Rahardjo ke Bapak Firli Bahuri.

    Seperti pada tahun 2021 ini, hingga hari ini televisi dan media cetak hanya baru menyumbang pemberitaan perihal korupsi sekitar 195 berita. Angka ini saya dapatkan dari salah satu perusahaan monitoring pemberitaan yang menangani pemberitaan KPK.

    Ketika saya mencari lebih dalam pemberitaan KPK pada tahun 2019 dan 2020 saya belum bisa mendapatkannya karena perusahaan yang saya tanyakan ini juga baru memegang monitoring pemberitaan KPK pada tahun 2021.

    Namun, ada beberapa pernyataan dari ICW (Indonesia Corruption Watch) menyatakan hal serupa. ICW mencatat tren penindakan kasus korupsi pada 2019 menurun bila dibandingkan 2018. Dari 454 kasus yang ditangani menjadi 271 kasus.

    Lalu kenapa pemberitaannya bisa turun?

    Lah? Mana saya tau? Memang saya bapaknya? Heuheu

    Jadi begini, ada kemungkinan besar pemberitaan korupsi turun memang karena kasus mulai menurun, atau memang pemberitaan tentang penanganan Covid-19 sangat banyak dan menurunkan intensitas pemberitaan dengan tema lain.

    Menurut Andi Fachruddin (2012: 99), Semakin banyak orang yang terpengaruh terhadap suatu berita, maka berita itu akan mendapatkan prioritas utama untuk disiarkan.

    Media televisi dan cetak yang terbatas ruang pemberitaannya juga dapat menjadi penyebab pemberitaan terkait korupsi menurun. Tentu mereka juga punya daftar berita yang menjadi prioritasnya, seperti penanganan Covid-19 dan berita terkait vaksinasi yang dilakukan oleh KPC-PEN di awal semester ini, terlihat pemberitaannya mendominasi di dua media tersebut sehingga memungkinkan terbatasnya slot untuk pemberitaan dengan tema lain.

    Tapi jika memang kasus korupsi menurun, agaknya kita harus mengapresiasi dan berpikir bijak dalam menilai pemerintah untuk pemberantasan korupsi tiga tahun terakhir ini. Namun, setelah mendengar penjelasan saya terkait pemberitaan ini, kawan saya bertanya lagi.

    Terus, Juliari Batubara bagaimana kelanjutannya?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.