Menyelesaikan Konflik Pasangan di Tengah Pandemi dengan Komunikasi Asertif - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Konflik dengan Pasangan

Ghoziyyah Ibnati Jamal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Januari 2021

5 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menyelesaikan Konflik Pasangan di Tengah Pandemi dengan Komunikasi Asertif

    Komunikasi asertif dibutuhkan dalam menyelesaikan konflik. Karena dengan menyalurkan perasaan dan fikiran kepada pasangan, dapat menjadi feedback yang baik. Dengan komunikasi asertif mental akan lebih sehat karena sudah melakukan mekanisme pertahanan mental. Dengan menyatakan emosi dan berinteraksi efektif, dapat meningkatkam rasa percaya diri dan merasa dihargai.

    Dibaca : 598 kali

     

     

    Pandemi yang sudah berlangsung kurang lebih setahun ini menimbulkan dampak negatif dan positif bagi semua orang. Banyak dari kita yang kehilangan berbagai hal, ada pula yang menganggap pandemi ini adalah suatu berkah.

    Situasi paceklik ini juga menimbulkan emotional conflict  bagi para pasangan muda mudi. Kita dipaksa untuk melakukan komunikasi melalui media sosial dengan keadaan yang sama tiap harinya. Yang biasanya bisa bertatap muka dan mengalami sedikit keterhambatan dalam komunikasi kini harus terpaksa menjalani long distance relationship. Bukan jarak yang memisahkan tetapi keadaan yang memaksa. Meskipun konflik di dalam hubungan sangat umum dan bisa dikatakan pasti terjadi, tidak ada satupun orang yang ingin berada dalam suatu konflik. 

    Kebanyakan muda mudi memulai hubungan pacaran sadar tidak sadar untuk mencari kesenangan. Ingin merasa dicintai dan dihargai, sementara mereka tidak cukup siap menyelesikan konflik. Hal  yang pasti terjadi dan akan menyulitkan hubungan.

    Konflik memiliki nilai positif seperti menjadi pembelajaran bagi pasangan yang ingin saling mengenal lebih dalam. Konflik menjadi sarana individu menunjukan cara mereka menyelesaikan suatu masalah. Dapat dibilang kepribadian seseorang dapat kita lihat dari cara mereka menyelesaikan konflik.

    Konflik juga mengasah mental seseorang. Layaknya sebuah test kemampuan, cukup mampukah mereka bertahan dalam hubungan yang tak hanya bermodalkan cinta tapi juga kedewasaan dalam menerima pasangan untuk menyelesaikan konflik? Maka dari itu konflik dapat menjadi solusi bagi pasagan yang berkomitmen untuk bersama dan ingin saling lebih mengenal satu sama lain lebih dalam.

    Langkah pertama untuk menyelesaikan dan meminimalisir kejenuhan atu pun konflik adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Dengan mengenali diri kita, siapa kita dan bagaimana cara kita berkomunikasii, dapat memahami dan bersimpati pada pasangan. When we know our worth we also appreciate people with our style in a good way. Knowing who you are isnt’t mean you know everything. You just have to know how’s your act when you face a conflict. When we heal we also help others. Self-compassionis necessary in times of transition/growth.

    Self compassion  adalah kemampuan untuk mengasihi diri sendiri ketika mengalami masa sulit, rasa sakit, atau pengalaman negatif seperti konflik. Dengan mengembangkan self compassion rasa  bahagia dan berharga akan meningkat maka akan meminimalisir konflik dengan pasangan. Kita tahu banyak konflik disebabkan oleh rasa insecure dan ketidakpercayaan diri, lemahnya sellf esteem.

    Konflik juga dapat terjadi karena rasa stres yang berlebihan. Maka dari itu self compassion diperlukan uuntuk mengurangi perasaan stres dan cemas. Mengingat hal baik dalam diri kita, belajar memahami perasaan apapun yang kita rasakan, juga belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri terhadap segala situasi buruk yang dialami. Dengan memahami diri sendiri maka kita akan dapat lebih mudah untuk memahami perasaan pasangan kita.

    Langkah kedua adalah melakukan komunikasi asertif. Konflik banyak terjadi karna individu saling melakukan komunikasi submisif yang memjadikan kondisi semakin memburuk terutama di tengah pandemi ini. Komunikasi tidak langsung mau tidak mau dilakukan dan komunikasi submisif adalah salah satu hambatan terbesar dalam mengkomunikasikan dan menyelesaikan suatu konflik dalam hubungan. Dengan saling menghargai pasangan juga melakukan komunikasi asertif konflik yang terjadi dapat berkurang.

    Asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang kita inginkan, rasakan dan pikirkan kepada orang lain dengan tetap menjaga dan menghargai hak serta perasaan pihak lain. Bersikap asertif artinya kiita merasa bebas untuk mengekspresikan segala hal tetapi juga tetap memahami hak juga dapat mengontrol kemarahan.

    Jika terjadi konflik bersikap asertif akan meminimalisir terjadinya bentrok dari dua individu yang saling bertahan pada keegoisan masing-masing. Orang yang kurang asertif dalam menghadapi konflik akan mengalami kesulitan memulai komunikasi dan mengekspresikan perasaan maupun fikiran mereka kepada pasangan. Akan menjadi hambatan besar jika salah satu dari pasangan adalah orang yang kurang asertif.

    Berhenti bersikap agresif ataupun submisif adalah cara untuk menyelesesaikan konflik. Dengan bersikap asertif berarti juga kita melibatkan perasaan juga kepercayaan oranglain sebagai bagian dari interaksi dengan mereka. Berkomunikasi secara asertif berarti pasan gan saling terbuka dan jujur terhadap satu sama lain ketika terjadinya konflik. Mencari solusi dan dapat mendiskusikan penyelesaiannya. Baiknya dengan win-win solution karna saling menghargai pendapat untuk mencari solusi hingga tercapainya win-win solution.

    Komunikasi asertif dibutuhkan dalam menyelesaikan konflik karna dengan menyalurkan perasaan dan fikiran kita kepada pasangan. Hal itu dapat menjadi feedback yang baik. Dengan komunikasi asertif mental kita dapat lebih sehat karna telah melakukan mekanisme pertahanan mental melalui sarana komunikasi asertif. Dengan menyatakan emosi kita dan berinteraksi dengan efektif kita dapat meningkatkam rasa percaya diri juga merasa dihargai.

    Jika kita merasa dihargai dan dicintai jiwa akan lebih sehat dan mental kita juga akan turut sehat. Maka dari itu untuk meminimalisir kejenuhan adalah menghindari konflik dan menyelesaikan konflik dengan komunikasi asertif.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.