Bila Banjir, Jangan Salahkan Hujan dan Sungai - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Sejumlah relawan membantu pengendara sepeda motor agar tidak terbawa arus saat melintas di Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat 15 Januari 2021. Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor menyatakan peningkatan status siaga darurat menjadi tanggap darurat, keputusan itu diambil mengingat musibah banjir yang terjadi semakin meluas di beberapa daerah di Provinsi Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 20 Januari 2021 12:31 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Bila Banjir, Jangan Salahkan Hujan dan Sungai

    Alam sudah dirancang sedemikian canggih dengan hukum dan mekanisme yang mengaturnya secara cermat, yang mampu memulihkan kerusakan bila terjadi. Bila banjir dan longsor besar tak terbendung, itu berarti kerusakan telah melampaui batas yang masih ditoleransi oleh alam.

    Dibaca : 1.622 kali

     

    Manusia modern menyalahkan hujan dan sungai-sungai yang meluberkan air sebagai penyebab banjir. Mengapa manusia modern tidak mau becermin dan bertanya: apakah hujan dan sungai yang salah, ataukah saya? Mengapa manusia tak mau berendah-hati untuk mengakui bahwa dirinya mungkin keliru dalam mengelola alam yang diamanahkan kepadanya?

    Banjir bukan lagi fenomena langka, melainkan semakin mudah terjadi di kota-kota, di desa-desa, dan bahkan di gunung-gunung. Rumah-rumah berdiri di atas tanah yang rapuh, yang begitu mudah digusur oleh air deras dari langit. Sungai-sungai semakin dangkal dan tak mampu menampung air lalu meluapkannya ke jalan-jalan, sawah-sawah, ladang-ladang, hingga mal-mal dan gedung-gedung bertingkat.

    Tapi apakah salah hujan dan sungai bila banjir memburu manusia kemanapun kita berada? Alam semesta, termasuk bumi tempat kita hidup, sudah dirancang dan diciptakan dengan kecanggihan yang luar biasa. Dan bumi bukan bagian terpisah dari langit, dari matahari, dari rembulan dan bintang-bintang, sebab jika terpisah kita tak akan mengenal siang dan malam.

    Sayangnya, kita—manusia yang menyebut diri makhluk modern—merasa telah membangun ketika membabat rimba dan merobohkan jutaan pepohonan, mendirikan gedung pencakar langit, merangkai jalan-jalan tol beraspal yang menutup tanah, menguras tambang mineral hingga muka bumi bopeng-bopeng, mengangkut berton-ton batu dan pasir dengan menggangsir bukit dan gunung. Kita bangga mampu mencipta plastik, tapi kita bingung bagaimana menguraikannya agar tidak merusak bumi.

    Kita menyebut semua aktivitas itu sebagai pembangunan—tapi tepatkah istilah itu? Manusia modern barangkali tidak percaya bahwa perkara inipun telah diingatkan oleh Mahadesainer Alam Semesta, yang intinya: “Engkau mengatakan telah membangun, tapi sesungguhnya yang engkau lakukan adalah merusak.” Merusak ialah kategori tindakan yang menyalahi hukum yang mengatur alam. Manusia telah diperingatkan agar tidak membuat kerusakan di muka bumi.

    Kita manusia modern yang rakus. Kita menambang mineral hingga muka bumi berantakan, kita membabat pepohonan rimba bagai tak terpuaskan, kita menimbun sungai dengan sampah berbukit-bukit, kita menguras air bumi bagai raksasa kehausan, dan kita melakukan semua itu atas nama pembangunan. Pembangunan dianggap sebagai mantra untuk memodernkan manusia modern.

    Jika kita membangun, kota-kota tak akan sering diserbu air, banjir tak akan rutin menyapa kita dengan ganas. Sedihnya, mereka yang tak menikmati kerakusan manusia terhadap alam itu seringkali justru yang paling merasakan reaksi balik alam: banjir, longsor, kekurangan air bersih, pencemaran udara dan tanah, dan banyak lagi.

    Alam sudah dirancang sedemikian canggih dengan hukum dan mekanisme yang mengatur ekosistemnya secara cermat, yang mampu memulihkan kerusakan bila terjadi. Namun, bila banjir dan longsor besar tak terbendung, itu berarti kerusakan telah melampaui batas yang masih ditoleransi oleh alam; dan kerusakan itu terjadi sebagai akibat dari apa yang kita sebut dengan bangga: pembangunan. Bila kerusakan demikian parah, alam akan menunjukkan hal sebaliknya; alih-alih bumi pulih dari kerusakan, yang terjadi justru bencana.

    Marilah bersikap rendah hati untuk tidak bersikap bak penakluk. Pada mulanya, hujan dan sungai adalah anugerah. Jika banjir tiba, jangan salahkan hujan dan sungai. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.