5 Pilar Transformasi Ekonomi Wajib Diterapkan di Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

sumber gambar: matamatapolitik.com

Aisyah Hetra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Januari 2021

Jumat, 22 Januari 2021 06:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • 5 Pilar Transformasi Ekonomi Wajib Diterapkan di Indonesia

    Indonesia, tak Ingin terjebak dalam middle income trap? Sudah saatnya menerapkan 5 pilar tranformasi ekonomi ini: optimalisasi pembangunan infrastruktur, implementasi pemerataan ekonomi, merampingkan ketergantungan terhadap modal asing jangka pendek, efisiensi pasar tenaga kerja, dan konfigurasi investasi untuk mendukung pertumbuhan.

    Dibaca : 1.939 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Indonesia tengah berupaya untuk keluar dari middle income trap saat ini. Salah satunya dengan kebijakan transformasi ekonomi. Jika kebijakan tersebut diterapkan, maka diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, dan siap menyongsong visi Indonesia Maju 2045.

    Terdapat lima pilar utama yang dijadikan landasan transformasi ekonomi Indonesia Maju 2045 yang dipaparkan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian. Satu sama lainnya memiliki kaitan dan membentuk dasar pembangunan yang berkelanjutan. Berikut adalah kelima pilarnya: 

     

    1. Optimalisasi Pembangunan Infrastruktur

    Pilar ini berfokus pada mengoptimalkan manfaat yang diperoleh dari pembangunan infrastruktur. Sejak tahun 2016 hingga 20 November 2020, sebanyak 100 proyek strategi nasional (PSN) senilai Rp588,9 triliun telah diselesaikan oleh pemerintah.

    Basuki Hadimuljono selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur di berbagai daerah harus saling terintegrasi dengan kawasan industri terutama skala industri mikro, kecil, dan menengah sekaligus kawasan pariwisata sekaligus dibutuhkan pembangunan infrastruktur penghubung seperti jalan, pelabuhan, jembatan, bandara, terminal, dan kebutuhan industri lainnya.

    1. Implementasi Pemerataan Ekonomi

    Pilar kedua dapat dilakukan dengan menumbuhkan industri baru, khususnya di kawasan luar Pulau Jawa. Agus Gumiwang Kartasasmita selaku Menteri Perindustrian, mengungkapkan aktivitas industrialisasi memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.

    "Keberhasilan dari percepatan pengembangan kawasan industri memerlukan sinergisme dan koordinasi yang luar biasa, baik dari pemerintah maupun swasta," papar Menteri Agus seperti yang dikutip dari laman resmi Kemenperin.go.id.

    Tak hanya meningkatkan nilai tambah serta bahan baku dalam negeri, industri juga menyerap banyak tenaga kerja lokal hingga sumber devisa dari aktivitas ekspor.

    1. Merampingkan Ketergantungan Terhadap Modal Asing Jangka Pendek

    Pemerintah mulai mawas diri dari munculnya banyak investasi yang diterima oleh Indonesia agar tidak bergantung pada PMA (penanaman modal asing) berjangka pendek dalam rangka mengatasi saving-investment gap. Saving-investment gap ini menunjukkan kebutuhan investasi dalam perekonomian Indonesia tidak dapat dipenuhi dengan ketersedian tabungan dalam negeri.

    Untuk menuntaskan masalah tersebut, pemerintah menerapkan inklusi keuangan yang berkaitan dengan kemudahan dalam mengakses dan menggunakan jasa keuangan (Sarma 2012; Demirguc-Kunt dan Klapper 2012; Gerdeva dan Rhyne 2h011; BI 2012). Inklusi keuangan tersebut akan diterapkan melalui utilisasi aset yaitu pemanfaatan aset agar akses masyarakat terhadap perbankan meningkat.

    1. Efisiensi Pasar Tenaga Kerja

    Iklim industri 4.0 yang menghadirkan tantangan bagi pemerintah dalam rangka menyiapkan regulasi bagi Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yaitu perlu adanya efisiensi dan peningkatan SDM-nya. 

    Caranya dengan revitalisasi kurikulum agar sesuai kebutuhan industri, menambah instruktur, membakukan standar kompetensi, membangun platform Job Matching antar lembaga vokasi dan industri, pembangunan informasi pasar kerja yang efektif dan berkelanjutan, serta membentuk komite vokasi baik di pusat dan daerah.

    1. Konfigurasi Investasi untuk Mendukung Pertumbuhan

    Kelima adalah investasi yang masuk perlu dimanfaatkan untuk industri prioritas yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, elektronik, otomotif, serta kimia yang didorong sebagai industri berorientasi ekspor.

    Kelima pilar kebijakan transformasi ekonomi ini tentunya membutuhkan dukungan dari seluruh sektor. Dampak dari integrasi itu kedepannya akan memberikan dampak yang luas untuk seluruh wilayah pelosok di Indonesia. 

    Pelaksanaan kelima pilar tersebut tidak mudah, dibutuhkan industrialisasi dan pembangunan ekonomi yang sesuai dengan iklim perekonomian dan sosial di Indonesia serta memungkinkan potensi produk dalam negeri agar dapat bersaing di pasar global.

    Ikuti tulisan menarik Aisyah Hetra lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.