Tanah Mandarku Berguncang, Sulbarku Berduka - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

husnul khatimah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Oktober 2020

Jumat, 22 Januari 2021 06:24 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Tanah Mandarku Berguncang, Sulbarku Berduka

    Tulisan ini kudedikasikan untukmu Pa'banua dan Lita' Pembolongan Lita' Mandar (Masyarakat dan Kampung Halamanku Tanah Mandar), Sulawesi Barat. حفظكم الله جميعا

    Dibaca : 565 kali

    Awal tahun 2021 merupakan tahun ujian bagi negeri kita tercinta, rentetan cobaan terus menerpa negeri zamrud katulistiwa ini. Belum usai pandemi Covid-19 yang melanda seluruh belahan dunia termasuk Indonesia yang menelan ribuan korban jiwa dan mengancam stabilitas ekonomi bangsa, disusul dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB penerbangan Jakarta-Pontianak tepatmya di Pulau Laki Kepulauan Seribu provinsi DKI Jakarta.

    Bersamaan dengan itu banjir merendam sebagian besar wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan dibarengi dengan terjadinya gempa di Kabupaten Majene dan Mamuju Sulawesi Barat pada 14 Januari 2021 Pukul 14:35:49 WITA dengan kekuatan gempa skala 5,9 magnitudo dan kedalaman 10 km terletak pada 4 km Barat Laut Majene-Sulbar yang disusul dengan gempa berkekuatan 6,2 magnitudo pada 15 Januari 2021 pukul 02:28:17 WITA dengan kedalaman 10 km terletak pada 6 km Timur Laut Majene Sulbar atau lebih tepatnya berpusat di Kecamatan Malunda Kabupaten Majene Sulbar yang berdampak sampai ke beberapa kecamatan di Kabupaten dan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat.

    Penulis tidak akan berfokus pada sejumlah rentetan bencana di pembuka tahun ini. Penulis ingin menyajikan  salah satu provinsi yang dapat dikatakan masih terbilang muda di negara ini, sebuah provinsi yang berada di bagian barat pulau Sulawesi, yaitu provinsi Sulawesi Barat yang berdiri pada kurang lebih 16 tahun silam atau tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2004. Sebuah daerah yang sebelumnya masih tergabung dalam wilayah provinsi Sulawesi Selatan, sehingga tidak heran jika memiliki keterikatan historis yang tak dapat dipisahkan.

    Sebelum menjadi provinsi sendiri, wilayah yang dihuni oleh mayoritas etnis Mandar ini hanya terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Polewali Mamasa kini bernama Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju yang kini menjadi Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat. Di bawah naungan provinsi baru terjadi beberapa pemekaran wilayah yang terbagi menjadi enam kabupaten, yaitu Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju sekaligus Ibu Kota, Kabupaten Mamuju Tengah, dan Kabupaten termuda, yaitu Kabupaten Pasangkayu.

    Di sini saya tidak akan bercerita tentang sisi historis maupun geografis provinsi termuda di wilayah Celebes ini, karena bukan kapasitas penulis di dalamnya. Terlebih lagi generasi muda Mandar ada yang khusus concern memperkenalkan budaya dan adat istiadat etnis ini melalui bidang literasi, yaitu Muhammad Ridwan Alimuddin yang beberapa karya beliau telah dibukukan sekaligus salah seorang pegiat literasi di Sulawesi Barat, sepeninggal almarhum Husni Jamaluddin seorang budayawan Mandar, semoga kelak penulis dapat mengikuti jejak langkah beliau mengenalkan budaya Mandar di seluruh Nusantara bahkan dunia.

    Salah satu di antara buku beliau menuliskan bahwa ketika ia menyebutkan asalnya dari Mandar saat menempuh studi di UGM, mereka masih merasa asing dengan etnis ini bahkan tidak pernah mendengar namanya. Kejadian ini juga saya alami sebagai perantau di Tanah Pasundan. Pertama kali saya membaca karya beliau di perpustakaan kampus UIKA Bogor saat menempuh studi magister di sana, sebuah buku yang baru saya baca setelah saya jauh pergi meninggalkan Lita’ Pembolongan Lita’ Mandar (Kampung Halamanku Tanah Mandar), yaitu buku berjudul Orang Mandar Orang Laut. Buku ini benar-benar menggambarkan kondisi orang Mandar yang sesungguhnya ditunjang dengan tulisan yang disampaikan secara secara ilmiah berdasarkan referensi yang valid dan kredibel, studi analisis yang menggunakan metode penelitian lapangan dan literatur, interview dengan narasumber dan observasi langsung di lapangan, secara tidak langsung mengingatkan kampung halaman saya di pesisir pantai Kota Majene sana. Tulisan itu membuat saya terhenyak dan tergugah untuk ikut mengambil peran seperti beliau, namun karena kesibukan pada akhirnya melalaikan dari tujuan awal.

    Sampai pada akhirnya peristiwa gempa yang mengguncang daerah ini mengembalikan memoriku ke masa kurang lebih 16 tahun silam dengan salah seorang sahabat yang kini entah di mana, semasa masih berseragam putih abu-abu dulu. Kami lose contact sejak meninggalkan bangku SMA tuk meraih mimpi kami, masa itu belum marak penggunaan ponsel apatah lagi social media. Pada saat itu bertepatan dengan Bencana Gempa dan Tsunami berkekuatan 9 SR mengguncang provinsi Aceh dan sekitarnya bahkan berdampak pada beberapa wilayah pesisir Asia Tenggara pada 26 Desember 2004 silam.

    Sahabat ini yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis sangat mengidolakan salah satu reporter stasiun TV swasta yang kala itu terjun langsung meliput kondisi bencana, Rosiana Silalahi. Aktivitasnya setiap hari sebelum dan waktu jeda pembelajaran pasti digunakan untuk mempraktekkan gaya reporter favoritnya melaporkan suatu peristiwa dan ia habiskan untuk membaca koran dan bercerita tentang idolanya tersebut. Tidak jarang ia menjadi bahan tertawaan dan hiburan sendiri bagi teman-teman sekelas bahkan anak-anak kelas lain ikut menonton pertunjukkannya, sebuah lelucon khas remaja masa itu yang gadget dan internet belum terlalu booming.

    Sebuah celetukannya hari itu yang kini tiba-tiba hadir kembali di memoriku terkait dengan peristiwa yang mengguncang kampung halamannya saat ini, bahwa ia menginginkan agar bencana serupa agar dapat terjadi juga di daerahnya agar ia bisa bertemu dengan idolanya. Ide gilanya itu langsung kusanggah saat itu juga dengan mengatakan untuk tidak berkata yang tidak-tidak. Sebuah perkataan yang tentu tidak pernah kami duga akan benar-benar terjadi belasan tahun kemudian, bahkan ia sendiri mungkin sudah melupakannya. Aku menuliskan ini bukan untuk menjustifikasi kesilapan seseorang terlebih lagi sahabatku sendiri, akan tetapi menjadikannya ibrah bahwa sebuah ucapan adalah doa, untuk itu kita senantiasa dituntut untuk mengucapkan hal-hal yang baik. Semoga Allah Jalla Wa ‘Ala menjagamu wahai sahabat.

    Dimaklumi saat itu bisa jadi ia berpikiran seperti itu karena keterbatasan kondisi ekonomi keluarganya, mungkin baginya sangat mustahil untuk bisa bertemu dengan idolanya di Jakarta sana, berjarak ribuan kilometer dari tempat tinggal kami. Tempat tinggalnnya di Kecamatan Malunda di atas pegunungan, mengarungi gunung dan lembah layaknya ninja hatori untuk sampai ke kota menuntut ilmu seperti yang selalu dituturkannya sendiri ketika merasa letih dan jenuh dengan beban akademik, karena sekolah kami merupakan sekolah unggulan di Kabupaten Majene. Sekalipun ia tidak pernah mengeluh dan terus bersemangat meski terkadang ia menjadi bahan cibiran beberapa teman karena ia sedikit berbeda dari kebanyakan siswa di sekolah kami. Semangatnya untuk meraih sukses juga turut memotivasi saya untuk terus mengejar asa dan cita yang hasilnya kini telah aku rasakan sedikit demi sedikit.

    Menuliskan ini bukan aku tidak peduli dengan kondisi yang sedang menimpa saudara-saudariku di Sulbar sana, melainkan sebagai pengingat bahwa seseorang akan selalu menghadapi ujian dalam hidupnya sampai ia bertemu dengan Rabbnya dalam keadaan suci dari dosa. Suka dan duka dipergilirkan dalam kehidupan manusia sebagai bentuk ujian sekaligus ganjaran pahala bagi orang-orang yang senantiasa beriman kepada Rabbnya Allah Rabuul ‘Alamin. Sebagaimana dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala,

    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Quran Surah al-Baqarah: 155)
    Atau dalam hadist Rasulullah Sahallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa beliau Sahallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

    Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya”. (Hadist Shahih Riwayat Imam Muslim, No. 2999 (64); Ahmad, VI/16; Ad-Darimi, II/318 dan Ibnu Hibban No. 2885, at-Ta’lîqatul Hisân ‘alâ Shahîh Ibni Hibbân).

    Semoga Allah 'Azza Wa Jalla senantiasa mengaruniakan perlindungan kepada negeriku Indonesia tercinta pada umumnya beserta penduduk di dalamnya dan terkhusus warga Sulbar semoga bala’ ini segera diangkat dan dikaruniakan kesabaran di dalamnya serta kekuatan dan ketangguhan untuk bangkit kembali membawa provinsi ini pada kemajuan.

    اللهم احفظ منطقة  وأهل سولاويسي الغربية

    Doaku dari Tanah Pasundan untukmu Pa’banua dan Lita’ Pembolongan.

     

    Sukabumi, 21 Januari 2020

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.