Waspada DBD, Mahasiswa KKN Undip Melakukan Edukasi di Masa Pandemi dan Membagikan Boombastik - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Rachel Benevita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Januari 2021

Sabtu, 23 Januari 2021 15:22 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Waspada DBD, Mahasiswa KKN Undip Melakukan Edukasi di Masa Pandemi dan Membagikan Boombastik


    Dibaca : 659 kali

     

    Pedalangan, Semarang (14/01/2020). Merebaknya virus Covid-19 di Indonesia membuat seluruh kegiatan di Indonesia lumpuh total termasuk di ranah pendidikan khususnya dipelaksanaan KKN di Universitas Diponegoro. KKN periode kali ini hampir sama pada KKN periode tahun kemarin yang melaksanakan KKN di daerah asalnya masing masing dikarenakan masih banyak kasus kejadian Covid19 di Indonesia.

    Penerjunan ke desa asal bukan tanpa alasan melainkan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 dan mahasiswa KKN ikut berkontribusi aktif membangun wilayah tempat tinggal mereka. Pelaksanaan KKN di desa sendiri berlangsung mulai tanggal 4 Januari – 16 Februari 2021. Dengan adanya program KKN Pulang Kampung diharapkan mahasiswa lebih peka dan peduli dengan wilayah tempat asal mereka tinggal sehingga peranan mereka sebagai mahasiswa dapat dirasakan dampaknya bagi lingkungan wilayah dan warganya.

    Mahasiswa KKN Tim I Universitas Diponegoro bimbingan dr. Rani Tiyas Budiyanti,M.H. yang berlokasi di Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang melakukan kegiatan penyuluhan edukasi kepada warga RT VI RW V terkait kewaspadaan masyarakat mengenai penyakit DBD di masa Pandemi Covid-19. Pada bulan Januari ini dimana merupakan musim penghujan sering kali demam berdarah menjadi wabah. Sebab, selama hujan turun terdapat banyak genangan air yang merupakan breeding place dari seekor nyamuk. Oleh sebab itu, di musim hujan biasanya dilakukan berbagai pencegahan agar penyebaran virus demam berdarah tidak merajalela terutama di masa Pandemi COVID-19.

    Mencari referensi terkait upaya – upaya pencegahan DBD di masa Pandemi COVID-19. 

    Demam Berdarah Dengue atau biasa dikenal sebagai DBD merupakan penyakit epidemi yang sudah lama ada di Indonesia terkhusus di Kelurahan Pedalangan. Di tengah masa pandemi, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia meningkat hingga kini.

    Laporan Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus DBD mencapai lebih dari 700 ribu kasus. Gugus Tugas Nasional meminta masyarakat waspada ancaman DBD di saat masih melawan Covid-19. Nyamuk aedes aegypti memiliki ciri–ciri berwarna hitam dengan loreng putih pada seluruh tubuh. Mereka mampu terbang sejauh 100 meter dan menyukai tempat yang lembab dan gelap. Selain itu, nyamuk hinggap di benda yang tergantung.

    Adapun jentik-jentik selalu bergerak aktif di air dari bawah ke atas secara berulang. Mereka aktif menggigit pada pagi hari pukul 09.00-10.00 dan sore pada pukul 16.00 – 17.00, dan lebih senang bersarang di air yang bersih yang dibiarkan tergenang.

    Langkah pencegahan dengan melakukan 3M+, yakni menguras penampungan air bersih atau mengeringkan genangan air, menutup kolam atau wadah penampungan air dan mengubur barang bekas atau mendaur ulang limbah bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk dan melakukan kegiatan tambahan yaitu memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan obat pengusir nyamuk, tidak menggantungkan pakaian di dalam kamar,  menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air, dan memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar. 

    Pembuatan leaflet mengenai kewaspadaan DBD di masa Pandemi COVID-19 dan mempersiapkan BUBASTIK yang akan di berikan ke warga RT VI RW V.

    Di masa era new normal ini kita menjalani kebijakan pengaturan waktu kerja, penggiliran hari kerja, pergantian hari berkantor, dan bisa bekerja dari rumah atau work from home, memberikan kita waktu untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar rumah kita.

    Gejala awal DBD ditandai dengan badan yang lemah dan lesu, sering terasa nyeri di ulu hati, timbul bintik – bintik merah pada kulit dan mendadak panas tinggi selama 2–7 hari. Selanjutnya gejala lanjut DBD kadang terjadi pendarahan di bawah kulit atau hidung, terjadi muntah atau berak darah, dan jika penderita sudah parah, penderita akan merasa gelisah, tangan dan kaki dingin serta berkeringat.

    Dikarenakan belum ada obat spesifik untuk melawan DBD. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengurangi gejalanya, misalnya demam, nyerinya, serta mencegah komplikasi. Selain itu, penderita DBD dianjurkan untuk banyak istirahat dan cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi. Penyuluhan pemberian edukasi terkait kewaspadaan masyarakat dengan penyakit DBD diharapkan mampu mengurangi kejadian terjadinya penyakit DBD pada musim penghujan di masa pandemic Covid-19. 

    Edukasi ke masyarakat terkait kewaspadaan dengan penyakit DBD di masa Pandemi COVID-19 secara door to door. 


    penulis : Rachel Septia Benevita



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.