Kerendahan Hati Pemimpin Kita di Tengah Pandemi dan Bencana, Memilukan? - Analisa - www.indonesiana.id
x

ilmu padi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 29 Januari 2021 15:29 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kerendahan Hati Pemimpin Kita di Tengah Pandemi dan Bencana, Memilukan?

    Perhatikan dan catat, siapa orang-orang di negeri ini yang tak pernah mendidik dan mengedukasi rakyat untuk menjadi rendah hati yang muaranya menjadi manusia Indonesia berkarakter karena berbudi pekerti luhur, sopan, santun, menjunjung etika, peduli, simpati, dan empati. Ciri-ciri itu adalah mereka-mereka yang menghargai diri sendiri secara berlebihan, tidak mau mendengar dan menanggapi saran orang lain alias tak mau diberikan masukan, kritikan, saran, dan nasihat, menolak kebenaran dengan berbagai cara, bersikap kasar, kejam, arogan, dilindungi hukum, maunya dipuji dan disanjung, dan akan sangat sulit menjaga hubungan baik, hubungan kekeluargaan, persaudaraan, hingga persatuan dan kesatuan, sebab lebih mementingkan kepentingan dan tujuan hidupnya sendiri, sekalipun sedang bertugas menjalankan amanah dan harusnya menjadi panutan-teladan. Siapa mereka itu, yang senantiasa mengabaikan ilmu padi?

    Dibaca : 873 kali

    Kendati di tengah pandemi corona yang terus mengganas, ternyata sikap rendah hati di negeri ini semakin menjadi barang mahal dan langka .Padahal, rendah hati artinya tidak sombong, tidak angkuh, bersikap sederhana terhadap peran diri sendiri, tidak melebih-lebihkan dan menganggap lebih hebat dari orang lain.

    Siapa di Republik ini golongan orang-orang yang tak rendah hati alias sombong dan angkuh? Bila masyarakat semakin cerdas memahami apa itu rendah hati dan apa itu sombong, akan dengan mudah sekali mengidentifikasi siapa yang sombong dan angkuh di negeri ini, mulai dari para pihak yang memimpin bangsa dan negara hingga rakyat jelatanya.

    Meski sifat dan sikap sombong sangat dibenci oleh Allah dan semua makhluk, karena banyak orang-orang bersahabat dan bergaul serta lebih mendengar bisikan setan yang terkutuk, maka orang sombong dan angkuh terus tumbuh subur dari generasi ke generasi.

    Secara kasat mata dan umum, orang yang sombong biasanya memiliki hobi merendahkan orang lain, karena dirinya lebih berharta, berkuasa, ada dipihak yang kuat sehingga memanfaatkan posisi dan kedudukan dirinya. Secara fisik, karena merasa cantik, tampan, hebat, berprestasi, dan merasa memiliki berbagai kelebihan lainnya, maka perilakunya jadi angkuh dan sombong.

    Dalam agama Islam, sesuai Q.S. Al Isra: 37) menyebutkan,
    “…dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

    Berdasarkan ayat tersebut, dari berbagai pengalaman nyata serta dari berbagai literasi, dapat diidentifikasi, orang-orang yang tak rendah hati alias sombong dan angkuh, memiliki tabiat menghargai diri sendiri secara berlebihan, tidak mau mendengar dan menanggapi saran orang lain alias tak mau diberikan masukan, kritikan, saran, dan nasihat, menolak kebenaran dengan berbagai cara, bersikap kasar, maunya dipuji dan disanjung, dan akan sangat sulit menjaga hubungan baik, hubungan kekeluargaan, persaudaraan, hingga persatuan dan kesatuan, sebab lebih mementingkan kepentingan dan tujuan hidupnya sendiri, sekalipun sedang bertugas menjalankan amanah dan harusnya menjadi panutan-teladan.

    Siapa yang tabiatnya seperti demikian di negeri ini? Apakah tabiat seperti itu melekat pada rakyat jelata, rakyat miskin, rakyat marginal yang terpinggirkan?

    Sesuai ciri-ciri dari orang yang tak rendah hati alias sombong dan angkuh, sangat mudah dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini, dan sombong serta angkuh itu melekat pada orang-orang yang memiliki kedudukan dan kekuasaan meski didapat dari suara rakyat yang seharusnya amanah. Lalu, orang-orang yang kaya harta dengan cara mudah hingga tak pernah kaya hati.

    Ada juga orang yang tak berkedudukan dan tak sedang berkuasa, juga sedang tak kaya harta, tetapi juga miskin hati, maka mereka juga tetap berperilaku sombong dan angkuh, walau tak ada yang dibanggakan. Maka, untuk golongan orang seperti ini sering ada sebutan " miskin saja sombong, jelek saja belagu" dan lain sebagainya karena meniru dan mencontoh perilaku orang-orang sombong yang sedang berkuasa atau orang sombong yang hanya kaya harta, atau hanya cantik dan tampan, serta lainnya.

    Baru berkabung dan mengajak merenung?

    Tengok, di tengah pandemi corona yang bisa disebut tak dapat dikendalikan, ada pihak yang baru menyatakan berkabung dan mengajak pihak lain merenung, setelah sang corona mencapai lebih dari 1 juta kasus di +62.

    Ke mana saja selama ini pihak yang baru mengucapkan berkabung dan mengajak merenung? Apa artinya ratusan ribu nyawa sebelum mencapai angka melebihi 1 juta kasus? 1 nyawa saja melayang, kita wajib berkabung, turut berduka. Ini kok ucapan berkabung harus menunggu 1 juta lebih nyawa terenggut di tanah nusantara dari virus corona?

    Malah, di saat bersamaan juga ada yang tetap meresmikan proyek infrastruktur dengan bangganya. Untuk siapa pula proyek infrastruktur ngotot dibangun sementara rakyat jelata juga tidak bisa menikmatinya. Pun ditengah badai musibah dan bencana melanda Indonesia di tengah penderitaan rakyat yang tak ada habisnya. Di saat hutang Indonesia melangit dan tetap rakyat agunannya.

    Semua sangat mudah dibaca, sebab hanya sebuah permainan kepentingan dan kepentingan, sementara rakyat jelata tetap saja terus menjadi korban dan dikorbankan dari ketidak-adilan, kesejahteraan, hingga hukum yang tebang pilih.

    Sementara ada pihak yang terus memupuk korupsi, oligarki, politik dinasti, hingga tunduk dan bertekuk lutut kepada taipan atau lebih kerennya disebut cukong hanya demi kepentingan mereka sendiri dan rakyat hanya dipinjam untuk atas nama.

    Di sisi lain, juga ada pihak yang terus pongah dan sombong, karena merasa ada di pihak yang sedang menjadi nakoda, hingga berkata-kata apa saja yang menyakiti, berbau SARA, hingga bertindak rasisme, terus dilakukan "seenak udel sendiri" tanpa batas-batas kemanusiaan di media sosial dan media massa tanpa rasa malu, sebab mencari muka dengan cara menghina dan menyakiti lawan politik dan rakyat pada umumnya.

    Semua orkestra yang kini terus berlangsung di tanah pertiwi, benar-benar jauh dari sikap dan karakter rendah hati para oknum dan pelakunya, yang notabene-nya, sewajibnya menjadi teladan.

    Rendah hati kian menjadi barang langka. Apalagi di zaman modern, era digital dan media sosial yang semakin menyuburkan dan membentuk perilaku para pemimpin bangsa khususnya dan umumnya masyarakat yang ingin unjuk segala hal dengan polesan dan sandiwara serta skenario yang tidak sesuai kenyataan.

    Abaikan ilmu padi

    Sekali lagi, perhatikan dan catat, siapa orang-orang di negeri ini yang tak pernah mendidik dan mengedukasi rakyat untuk menjadi rendah hati yang muaranya menjadi manusia Indonesia berkarakter karena berbudi pekerti luhur, sopan, santun, menjunjung etika, peduli, simpati, dan empati.

    Ciri-ciri itu adalah mereka-mereka yang menghargai diri sendiri secara berlebihan, tidak mau mendengar dan menanggapi saran orang lain alias tak mau diberikan masukan, kritikan, saran, dan nasihat, menolak kebenaran dengan berbagai cara, bersikap kasar, kejam, arogan, dilindungi hukum, maunya dipuji dan disanjung, dan akan sangat sulit menjaga hubungan baik, hubungan kekeluargaan, persaudaraan, hingga persatuan dan kesatuan, sebab lebih mementingkan kepentingan dan tujuan hidupnya sendiri, sekalipun sedang bertugas menjalankan amanah dan harusnya menjadi panutan-teladan. Siapa mereka itu, yang senantiasa mengabaikan ilmu padi?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.