Membangun Komunikasi Yang Baik, Melalui Teori Psikoanalisis

Rabu, 3 Februari 2021 06:35 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, kita perlu memahami karakteristik manusia sebagai komunikan. dalam teori psikoanalisis ini, kita dapat mengetahui bagaimana ragam karakteristik pada manusia dapat terbentuk.

Manusia sebagai pemeran utama dalam komunikasi tentu saja memiliki ragam karakteristik dan keunikan yang tercermin dari tingkah lakunya. Sedangkan dalam Ilmu Psikologi, manusia merupakan pemeran utama dalam proses komunikasi. Untuk membentuk komunikasi yang baik, tentunya kita perlu mengetahui dan memahami karakteristik manusia komunikan.

Hakikat manusia terletak pada hidup kejiwaannya (rohaniahnya) juga didukung oleh hidup jasmaniahnya agar terwujud kesehatan lahir dan batin. Oleh karena itu, secara psikologi pendekatan yang dilakukan ialah secara interdiciplinary approach (pendekatan antar ilmu), di mana manusia dilihat dari segala aspeknya kemudian dipadukan menjadi satu ilmu pengetahuan yang padu dan lengkap. (Faizah, Lalu Muchsin Effendi,2006:42)

Ada 4 pendekatan yang paling dominan, salah satunya adalah konsep Psikoanalisis. Konsep Psikoanalisis ini sendiri menjelaskan bahwa manusia digerakkan berdasarkan keinginan-keinginan terpendam. Psikoanalisis cukup menarik untuk dipelajari dan dipahami, karena dalam teori ini juga dijelaskan bagaimana kepribadian manusia terbentuk menjadi karakteristik atau kebiasaan sehingga mampu tercermin dalam proses komunikasinya.

Psikoanalisis ( Homo Valens )

Tokoh pada teori ini adalah Sigmun Freed. Dalam teori ini dijelaskan bahwa ada tiga subsistem yang mempengaruhi kepribadian manusia. Ketiga subsistem tersebut adalah :

  1. Id, adalah bagian dari kepribadian yang berisikan dorongan-dorongan biologis. Id merupakan pusat insting dan hawa nafsu. Menurut Freed, ada dua hal yang dominan pada insting, yaiitu Libido dan Thanos
  2. Ego, adalah bagian dari kepribadian yang menjembatani antara ego dan realita. Ego menjadi penengah antara keinginan atau dorongan-dorongan yang bersifat hewani dengan pemikiran yang rasional atau realistis
  3. Superego, adalah bagian dari kepribadian yang menyerap moral dan norma-norma yang tertanam pada masyarakat. Superego dapat disebut dengan hati nurani dan pengawas kepribadian.

Selain itu, ada faktor-faktor personal yang mempengaruhi perilaku manusia, salah satunya adalah Faktor Biologis yang didalamnya mencakup 2 kebutuhan, yaitu kebutuhan makan, minum, istirahat dan juga kebutuhan seksual. Lalu Mengapa biologis? Karena motif biogolis sangat dominan dalam mempengaruhi tingkah laku manusia sebagai komunikan. Apalagi jika kita lihat dalam konsep psikoanalisis yang dikemukakan oleh Freed. Selanjutnya ada Faktor Sosiopsikologis, faktor ini bersifat afektif, kognitif dan konatif (kebiasaan). Faktor afektif berkaitan dengan emosional, kognitif berkaitan dengan aspek intelektual dan konatif adalah aspek vilisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

Sebagai pemeran utama dalam proses komunikasi, tentu saja kita tau bahwa manusia memiliki banyak keunikan dan karakteristik yang sulit untuk dipahami. Keefektifan komunikasi bergantung dengan bagaimana penyampaian sang komunikator dan komunikan. Kita dapat mengetahui karakter komunikan jika melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku tersebut, sehingga komunikasi berjalan lancar dan tidak ada hambatan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Wulan Septiani

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua