Seragam Sekolah Sampai Ada SKB 3 Menteri, Pendidikan Terpuruk Tak Ada SKB? - Analisa - www.indonesiana.id
x

SKB 3 menteri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 5 Februari 2021 09:41 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Seragam Sekolah Sampai Ada SKB 3 Menteri, Pendidikan Terpuruk Tak Ada SKB?

    Seharusnya, ada SKB 3 atau 4 atau 5 dan lebih menteri atau sampai Presiden ikut campur untuk membuat pendidikan di Indonesia bangkit dari keterpurukan, sebab hingga kini Kemendikbud, terlebih di bawah Nadiem, tak mampu mengentaskan keterpurukan pendidikan dan malah terus mengobok-obok nasib guru. Hingga persoalan pendidikan terus menjadi benang kusut, namun persoalan seragam sampai lahir SKB 3 menteri. Mikir?

    Dibaca : 620 kali

    Bicara seragam sekolah, rasanya miris. Kalau tidak salah, berdasarkan fakta yang ada baru kali ini, baru zaman pemerintahan ini, menyoal seragam sekolah sampai harus 3 kementerian turun tangan hingga sampai menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang isinya semacam ancaman, pun setelah ditelisik juga hanya fokus pada seragam yang bersinggungan dengan masalah agama. Jadi, bila disimpulkan, SKB ini adalah ancaman dan masalah agama. Haruskah 3 kementerian sampai harus kebakaran jenggot dan ikut mencampuri masalah ruang pendidikan dan agama? Ke mana saja selama ini mereka?

    Pendidikan Indonesia terus terpuruk. Tertinggal bahkan dari negara Asia Tenggara, apa yang dilakukan Nadiem sebelum corona hingga sekarang corona semakin betah di Indonesia? Dan, kini 2 kementerian ikut-ikutan masuk ke ranahnya Nadiem, hanya sekadar ikut campur masalah seragam.

    Entah apa yang kini ada dalam benak dan pikiran masyatakat, 3 menteri, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim; Menteri Dalam, Negeri Tito Karnavian; dan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, mengeluarkan SKB tentang penggunaan pakaian seragam dan atribut sekolah negeri di Indonesia, pada Rabu (3/2/2021).

    Keputusan ini berlaku untuk semua sekolah negeri di jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia yang diadakan oleh pemerintah tak memandang agama, ras, etnis, dan diversivitas apapun.

    Coba simak, apa kata Nadiem yang penuh percaya diri itu mengungkapkan menyoal SKB yang harus ditaati menyoal seragam sekolah. "Sekolah yang diselenggarakan pemerintah untuk semua masyarakat Indonesia dengan agama apapun, etnisitas apapun, dengan diversivitas apapun," ucap Nadiem, dikutip dari YouTube Kemendikbud RI, Rabu (3/2/2021).

    Inilah isi keputusan SKB Tiga Menteri tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Dididik, Pendidik, dan Tenaga Kependididkan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerintah Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, dikutip dari tayangan YouTube Kemendikbud RI.
    1. Keputusan Bersama ini mengatur sekolah negeri yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.
    2. Peserta didik, pendidikan, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara:
    a) Seragam dan atribut tanpa kekhusuan agama atau
    b) Seragam dan atribut dengan kekhususan agama
    3. Pemerintah Daerah dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhusuan agama.
    4. Pemerintah Daerah dan kepala sekolah wajib mencabut atau melarang seragam dan atribut dengan kekhusuan agama paling lama 30 hari kerja sejak keputusan bersama ini ditetapkan.
    5. Jika terjadi pelanggaran terhadap keputusan bersama ini, maka sanksi akan diberikan kepada pihak yang melanggar:
    a) Pemerintah Daerah memberikan sanksi kepada kepala sekolah, pendidik dan/atau tenaga kependidikan.
    b) Gubernur memberikan sanksi kepada Bupati/ Wali Kota.
    c) Kementerian Dalam Negeri memberikan sanksi kepada Gubernur.
    d)Kementerian Pendidikan dan Budaya memberikan sanksi kepada sekolah terakit BOS dan bantuan pemerintah lainnya. Tindak lanjut atas pelanggaran akan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

    Sementara itu, Kementerian Agama melakukan pendampingan praktik agama yang moderat dan dapat memberikan pertimbangan untuk pemberian dan penghentian sanksi.
    6. Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan beragama Islam di Provinsi Aceh dikecualikan dari ketentuan Keputusan Bersama ini sesuai kekhususan Aceh berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait pemerintahaan Aceh.

    Ini SKB yang luar biasa. Judulnya apa, isinya apa. Pun lebih bisa ditafsir sebagai bentuk pengekangan dan ancaman.

    Bila yang disasar menyoal seragam yang berbau agama tertentu, buat saja keputusan khusus menyoal seragam atribut agama, tidak perlu muter-muter berpanjang aturan dan sampai harus turun 3 menteri. Cukup Kemendikbud yang membuat, toh sekolah negeri di bawah kendali Nadiem. Ini aneh dan terkesan mengada-ada. Subyektif tapi dibikin seolah menjadi obyektif.

    Seharusnya, ada SKB 3 atau 4 atau 5 dan lebih menteri atau sampai Presiden ikut campur untuk membuat pendidikan di Indonesia bangkit dari keterpurukan, sebab hingga kini Kemendikbud, terlebih di bawah Nadiem, tak mampu mengentaskan keterpurukan pendidikan dan malah terus mengobok-obok nasib guru.

    Hingga persoalan pendidikan terus menjadi benang kusut, namun persoalan seragam sampai lahir SKB 3 menteri. Mikir?

    Bila menyoal seragam sampai turun SKB 3 menteri, dan tidak berlaku untuk Provinsi Aceh, khususnya Nadiem, apakah memahami bahwa seragam itu di antaranya berfungsi untuk membedakan tingkatan, penilaian kedisiplinan, tingkatkan rasa persatuan, identitas sekolah, menghindarkan kesenjangan sosial, membentuk profesionalisme, memberikan rasa nyaman saat belajar, hingga pondasi pembentukan karakter bangsa?

    Belajar dari Thailand

    Coba tengok di negara lain yang jangankan siswa, mahasiswanya pun berseragam, seperti di Thailand misalnya. Karenanya, lihatlah karakter masyarakat Thailand. Semisal lihatlah para pemain timnas berbagai cabangnya, semua sangat berkarakter saat turun gelanggang, karena terdidik berkarakter saat bersekolah dan menjadi mahasiswa, terutama karena kedisiplinan berseragam sekolah dan kampusnya.

    Di Thailand, seperti saya simak dari berbagai literasi, seragam sebagai suatu simbol nilai tertentu sengaja ditanamkan sejak awal dalam diri siswa Thailand hingga perguruan tinggi. Dengan demikian  pembentukan karakter menjadi agenda paling krusial dalam sistem pendidikan di Thailand. Meskipun profesionalitas juga menjadi salah satu agenda khususnya dalam pendidikan menengah dan tinggi, tetapi profesionalisme tidak akan bermakna tanpa kekuatan karakter.

    Karakter inilah yang membuat seseorang tetap berkarya meski tekanan datang menghantam. Sepintar apapun atau seterampil apapun seseorang jika lemah kepribadiannya, akan beresiko di kemudian hari. Untuk itu pembentukan watak harus menjadi porsi utama pendidikan bahkan tujuan pendidikan itu sendiri.

    Oleh karenanya, seragam siswa dan mahasiswa di Thailand tidak sekadar pakaian yang sama. Keseragaman tersebut menjadi salah satu strategi pembentukan karakter yakni kedisiplinan, kebersamaan, identitas, dan kebanggaan sebagai warga belajar di Thailand. Kedisiplinan yang ditanamkan terus-menerus menciptakan keteraturan dan penghormatan pada aturan main. Rasa kebersamaan memupus perbedaan serta kemajemukan antar kelompok. Identitas yang mudah dikenal membuat para pelajar dan mahasiswa menjaga nama baik almamater. Kebanggaan mendorong mereka bertekad mewujudkan harapan masyarakatnya.
    Pendidikan yang berhasil menanamkan karakter yang kuat membuat wajah Thailand pun menjadi suay ching-ching (cantik).

    Di Indonesia, selama ini juga sudah mentradisi, baik di sekolah negeri atau swasta ada hari khusus para siswa menggunakan seragam sekolah yang menjadi ciri khasnya.

    Bahwa dalam perjalanannya ada sekolah negeri dan swasta yang lantas menjadi sekolah unggulan, sekolah berprestasi, sekolah yang diidamkan oleh para siswa dan orang tua, tetap saja semua siswa akan merasa bangga dengan ciri khas seragam sekolahnya meski pada akhirnya tak belajar di sekolah pilihannya.

    Malah, banyak siswa SD yang bermimpi dapat masuk SMP yang memiliki seragam dengan ciri khas yang sudah sangat akrab di mata di suatu daerah. Begitu pun banyak siswa SMP yang sudah berangan dapat masuk SMA/SMK yang seragamnya berciri ini dan itu di setiap daerah Indonesia.

    Para siswa SMA/SMK pun juga bermimpi dapat masuk Perguruan Tinggi yang jaket almamaternya warna ini dan warna itu.

    Ini semua hingga kini masih terjadi pada siswa di Indonesia karena seragam benar-benar telah menjadi identitas dan kebanggaan tersendiri, sehingga lahirlah para alumni yang tetap mencintai alamaternya yang telah mendidiknya menjadi orang yang berhasil karena saat belajar, seragam yang dikenakan justru menjadi penyemangat dan motivasinya untuk berjuang dan berhasil.

    Sebab sudah banyak alumni yang berhasil, dulunya menyandang seragam dan atribut sekolah yang dibanggakan, maka para siswa.penerusnya pun dilecut dan dipicu agar jangan lembek dan harus mengikuti contoh para pendahulunya. Dan, selalu diingatkan bahwa para siswa yang telah berhasil, dulunya berseragam sama seperti yang sekarang dikenakan para siswa.

    Tanpa disadari, kondisi ini melahirkan rasa cinta, rasa memiliki, rasa menghargai, empati, simpati, peduli, hingga rendah hati.

    Kembali ke Thailand, kendati Thailand memiliki arti tanah yang merdeka (bebas), tidak berarti mereka menghilangkan nilai-nilai budaya negerinya.

    Selain itu, walau alam demokrasi dan globalisasi masuk deras ke dalam sendi kehidupan masyarakat Thailand, kecintaan mereka pada Sang Raja terpatri kuat, lho.

    Faktanya, poster dan foto raja dan ratu dapat dijumpai bertengger di pingir jalan, sudut kota, dinding gedung megah, sekolah. Pedagang kaki lima pun memasang gambar raja. Tulisan besar Live King, Long Live King (Hidup Raja, Panjang Umur Raja) juga ada yang tertera di mobil dan berbagai tempat.

    Intinya, meski sama seperti negara lain diserbu globalisasi dan modernisasi, sebab pembentukan karakter yang dimulai dari seragam sekolah dan mahasiswa, melahirkan masyarakat yang terus memahami artinya toleransi dan menghargai. Hingga raja pun terus dicintai.

    Sebab dari itu, rasanya mustahil, bila menyoal seragam, pemerintah Thailand sampai membikin SKB 3 menteri. Tidak seperti di +62, yang bisa jadi akan lahir SKB-SKB para menteri bukan hanya menyoal seragam sekolah karena ada suatu hal.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.