Pimpinan KBRI Tiongkok Bertemu dengan Pimpinan Grup Delong

Jumat, 5 Februari 2021 13:14 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Lewat unggahan foto di akun Instagram resmi KBRI Beijing pada 1 Februari lalu, terlihat Dubes Djauhari melakukan pertemuan dengan Ding Liguo selaku General Chairman of China Delong Group and New Tianjin Steel Group. Apa yang sedang keduanya rencanakan?

Pimpinan KBRI di Beijing, Tiongkok bertemu dengan pimpinan grup usaha Delong asal Tiongkok. Hal itu diketahui dari unggahan foto akun Instagram @kbribeijing pada hari Senin, 1/2, lalu.

Dihadiri oleh Dubes Djauhari, Wakil Dubes Dino Kusnadi, Ibu Wiwik, beserta staf, pertemuan tersebut diawali dengan makan siang bersama Ding Liguo selaku General Chairman of China Delong Group and New Tianjin Steel Group yang merupakan perusahaan baja terkenal asal Tiongkok, yang berinvestasi di PT. Dexin Steel Indonesia Co., Ltd (PT.DSI), Morowali, Sulawesi Tengah. 

Ding Liguo hadir didampingi sang istri yang diketahui Chairman of Beijing Cihong Charity Foundation, serta General Manager PT. DSI, dan beberapa pimpinan perusahaan.

Tidak hanya makan siang bersama, pertemuan ini rupanya membahas rencana investasi Delong di masa mendatang. Dalam kurun waktu 5 tahun mendatang, Delong akan menjadikan Indonesia sebagai fokus pengembangan investasi luar negerinya. Dan, menurut tulisan akun @kbribeijing, untuk meningkatkan investasi Delong di Indonesia, perusahaan tersebut telah menggandeng perusahaan dari Jepang, Korea, dan beberapa dari Tiongkok. 

Indonesia nampaknya tidak bisa lepas dari Delong. Hal tersebut dikarenakan produksi baja Delong yang pabriknya berlokasi di Morowali telah diekspor ke berbagai negara dunia, termasuk ASEAN. Kepuasan Delong belum cukup sampai di situ, setelah kehadiran Delong Group and New Tianjin Steel Group, mereka akan membuka grup perusahaan ketiga di Indonesia. Dan rencananya, antara Delong dan Dubes akan segera berkunjung ke Indonesia untuk melaksanakan rencana tersebut. 

Indonesia bukan pertama kalinya bekerja sama dengan negara tirai bambu. Tentu saja kerja sama ini menimbulkan pro dan kontra dari publik, mengingat investor maupun tenaga kerja asing mendapatkan konsepsi negatif di mata publik. Padahal, banyak peluang baik yang didapatkan Indonesia jika melakukan kerja sama dengan pihak asing, salah satunya yang bisa dirasakan oleh publik yaitu terciptanya peluang kerja. 

Dubes Djauhari berharap rencana tersebut dapat terlaksana di tahun ini. Kerja sama tersebut juga menjadi wujud penguatan kerja sama Indonesia dengan Tiongkok dalam kerangka sinergi BRI-GMF. 

Dari kejadian ini, apakah apakah kamu termasuk yang mendukung Indonesia bekerja sama dengan asing atau ada pendapat lain mengenai solusi untuk meningkatkan perekonomian negeri?

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua