Digital Skill Education Concept: Kolaborasi Matematika dan Teknologi Guna Mencapai Pembangunan Berkelanjutan Indonesia 2030

Sabtu, 6 Februari 2021 08:00 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan Matematika kerap kali dipandang sebelah mata. Namun pada faktanya, pendidikan matematika memegan andil besar dalam perkembangan pembangunan, khususnya dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dalam praktiknya, matematika didukung oleh teknologi dengan Digital Skill Education Concept. Namun, apa itu Digital Skill Edcuation Concept?

Perkembangan teknologi di era disrupsi tidak terlepas dari matematika. Matematika merupakan sebuah ilmu yang mempelajari besaran, struktur, ruang, dan perubahan yang dapat diimplementasikan pada aspek-aspek dalam peradaban manusia melalui pengembangan penalaran logika dan abstraksi. Pengembangan ini dapat diwujudkan dalam bentuk penerapan algoritma dan logika matematika secara intensif sebagai dasar bahasa pemrograman, struktur data, kecerdasan buatan, sistem digital, basis data, teori komputasi, rekayasa perangkat lunak, dan lainnya. Era disrupsi menuntut kecakapan terhadap teori dan keilmuan yang perlu diimbangi dengan penguasaan teknologi dan informasi yang mumpuni. Campur tangan matematika dalam perkembangan teknologi inilah yang menjadi patron dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing sebagai langkah awal untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan dalam SDGs di tahun 2030.

Kontribusi pendidikan matematika, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan teknologi di Indonesia, diharapkan dapat memenuhi tuntutan era disrupsi. Dengan berfokus pada pendidikan matematika, generasi penerus diharapkan mampu menjadikannya landasan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan mereka untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan bantuan teknologi.

Kemajuan tersebut juga semakin mempermudah dalam memenuhi kebutuhan pengetahuan dengan mencari, mengevaluasi, mengatur, dan mengakomodasikan informasi yang diperoleh. Namun, dengan memperhatikan pencapaian kompetensi matematika pada beberapa negara lain, kompetensi matematika di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi matematika di Indonesia perlu diprioritaskan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sejak tahun 2000, sebuah program studi internasional, Programme for International Student Assessment (PISA), memberi indeks prestasi literasi, numerasi, dan sains bagi siswa berusia 15 tahun yang diselenggarakan setiap 3 tahun sekali. Berdasarkan data PISA tahun 2018, tingkat kompetensi matematika siswa di Indonesia berada pada urutan ke-72 dari 78 negara dengan perolehan nilai sebesar 379 dari rata-rata perolehan nilai seluruh negara sebesar 458,6. Perolehan nilai ini mengalami regresi dari penilaian PISA di tahun 2015.

Regresi ini juga terlihat melalui penilaian dari hasil studi internasional mengenai prestasi matematika siswa Indonesia yang dilakukan oleh Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Pada tahun 2015, TIMSS menyatakan Indonesia berada di peringkat ke-44 dari 49 negara dengan rata-rata 397 dari skor rata-rata Internasional, yaitu 500. Peringkat ini mengalami penurunan dari hasil TIMSS pada tahun 2011 yang menyatakan Indonesia berada di peringkat ke-38 dari 42 negara. Kedua data ini menjadi bukti bahwa kompetensi matematika di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Salah satu faktor penyebab rendahnya hasil PISA dan TIMSS adalah mayoritas siswa tidak terbiasa memecahkan masalah matematika yang menuntut keterampilan berpikir kritis.

Kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika yang menekankan pada keterampilan merumuskan dan menafsirkan suatu permasalahan untuk mendapatkan strategi pemecahan masalah matematika yang tepat menjadi salah satu faktor penghambat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Maka dari itu, Indonesia perlu menerapkan suatu konsep pembelajaran baru yang efektif untuk meningkatkan kompetensi pendidikan matematika siswa di Indonesia, salah satunya adalah konsep Digital Skills Education Concept.

Digital Skills Education Concept merupakan suatu konsep pendidikan yang memberikan kesempatan kepada pelajar dan masyarakat lulusan perguruan tinggi untuk mampu memahami aspek-aspek dalam lingkup teknologi dan informasi, khususnya dalam penguasaan komputer serta pengoperasian dan penyediaan sistem layanan. Secara umum, Digital Skill Education Concept melatih potensi individu dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi. Perubahan perilaku dan pola yang terus berkembang mengharapkan para generasi penerus dapat mempersiapkan diri untuk menjadi sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dan berkualitas. Konsep ini merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam pemanfaatan dan pendidikan melalui sistem digitalisasi, serta teknologi dan informasi, sehingga Indonesia dapat merealisasikan visi dan misi yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Konsep Pendidikan Kemampuan Digital memberikan kesempatan kepada masyarakat agar mampu memahami dan menguasai keilmuan dalam penguasaan komputer, pengoperasian, dan penyediaan sistem layanan dalam lingkup teknologi dan informatika yang berbasis pengembangan algoritma dan logika matematika. Terdapat beberapa faktor kemampuan yang perlu dikuasai dalam penerapan Digital Skill Education Concept, antara lain:

   1. Analisis data

Pengolahahan data menjadi informasi baru agar karakteristik data menjadi lebih mudah dipahami merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan. Dengan menganalisis data, masyarakat diharapkan mampu mengekstraksi, menganalisis, dan menerjemahkan informasi secara visual, sehingga data dapat diinformasikan secara komunikatif untuk membantu dalam mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

   2. Digital skill pendukung

Secara umum, Digital Skill Education Concept memberikan setiap individu kemampuan dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi. Perubahan perilaku dan pola yang terus berkembang, menghendaki sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dan memiliki kemampuan digital sebagai pendukung. Digital skill pendukung itu meliputi pemasaran konten, dasar-dasar penggunaan komputer dan seperangkat teknologi informasi, pembentukan dan pemanfaatan start-up, keamanan sistem, dan jaringan infomasi.

   3. Literasi digital

Menurut Hague (2010:2), literasi digital mencakup proses kemampuan untuk berbagi, berkolaborasi, berkomunikasi, dan saling memahami teknologi digital dengan baik. Secara umum, literasi digital dapat diartikan sebagai keterampilan kognitif dan teknikal dalam memanfaatkan media digital dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara bijak dan bertanggung jawab. Tujuan adanya penerapan literasi digital ini adalah mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital dan alat-alat komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelola, dan membuat informasi secara bijak dan kreatif.

Di zaman serba digital ini, kemampuan berpikir kritis matematis merupakan hal yang harus dimiliki peserta didik sebagai modal dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Kemampuan ini dapat diartikan sebagai aktivitas mental yang melibatkan abstraksi dan perluasan ide-ide matematis. Hal itu berarti kemampuan berpikir kritis matematis merupakan proses memperoleh pengetahuan yang digunakan untuk mempelajari konsep atau ide-ide matematis yang bersifat abstrak. Pengembangan berpikir kritis dalam pendidikan matematika dapat berupa aktivitas membandingkan, membuat kontradiksi, induksi, perluasan, menyusun, mengelompokkan, membuktikan, menganalisis, mengevaluasi, dan membentuk pola untuk dirangkai secara berkesinambungan. Kemampuan berpikir kritis secara matematis diperlukan karena matematika merupakan ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain yang berperan dalam pengembangan sumber daya manusia, contohnya dalam upaya penguasaan teknologi. Maka dari itu, penguasaan matematika sejak dini perlu dikembangkan untuk mengelaborasi teknologi di era ini.

Kontribusi pendidikan matematika melalui penerapan algoritma dan logika matematika secara intensif merupakan dasar perkembangan teknologi untuk mencapai visi misi pembangunan berkelanjutan tahun 2030. Penerapan Digital Skills Education Concept di Indonesia dapat menjadi sarana untuk melatih masyarakat agar mampu berpikir kritis matematis yang melibatkan abstraksi dan perluasan ide-ide matematis. Hal ini tentu berperan besar dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Dengan demikian, kontribusi matematika dapat menjadi dasar perkembangan teknologi dan pintu pertama dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan SDGs 2030.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua