Pertumbuhan dan Perkembangan Covid-19 secara Eksponensial - Analisis - www.indonesiana.id
x

Pemerintah perlu bertindak mengantisipasi kamar rumah sakit penuh dikarenakan penumpukan pasien Covid-19

Sherianne Mulyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Februari 2021

Rabu, 10 Februari 2021 11:30 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pertumbuhan dan Perkembangan Covid-19 secara Eksponensial

    Wabah COVID - 19 sedang menyebar di seluruh dunia. Terdapat peneliti yang memberikan model matematika sederhana yang dapat kita mengerti bagaimana perkembangannya.

    Dibaca : 1.031 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada akhir tahun 2019, penyakit paru-paru yang sekarang dikenal dengan Covid-19 muncul pertama kali di kota Wuhan, China. Kabar mengenai penyakit paru-paru yang viral di kota Wuhan diterima oleh WHO (World Health Organization) pertama kali pada tanggal 31 Desember 2019. Kemudian di bulan Januari, WHO mencari informasi lebih lanjut mengenai wabah penyakit tersebut dan menyebarkan informasi mengenai wabah penyakit serta tindakan pencegahan yang dapat dilakukan. Otoritas China sudah memastikan wabah tersebut disebabkan oleh virus corona jenis baru. Penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis baru ini diumumkan disebut sebagai Covid - 19 pada 11 Februari oleh WHO.

    Covid-19 yang telah dibuktikan oleh WHO menular dari orang ke orang berdasarkan analisis WHO dan informasi yang diterima menyebar dengan sangat cepat ke seluruh dunia. Covid-19 dinyatakan menjadi pandemi global. Eropa menjadi pusat penyebaran virus di tanggal 13 Maret tahun 2020. Bahkan, tanggal 4 April 2020 WHO melaporkan total kasus Covid-19 baru sudah lebih dari 1 juta kasus di seluruh dunia. Peningkatan kasus Covid-19 di dunia yang sangat cepat mulai dianalisis dan dikembangkan model matematikanya oleh beberapa peneliti dan mahasiswa-mahasiswa dari jurusan matematika dengan menggunakan bentuk fungsi eksponensial.

    Fungsi eksponensial adalah fungsi yang bentuknya ditulis dengan menggunakan notasi exp(x) atau bilangan berpangkat. Fungsi eksponensial sebagai penyebaran Covid-19 dapat dijelaskan sebagai berikut. Misalkan ada satu orang yang terinfeksi Covid-19 bertemu dengan temannya dan temannya ikut tertular. Kemudian dua orang tersebut pulang ke rumah dan masing-masing menularkan virus kepada satu orang keluarganya maka akan didapat empat orang yang terinfeksi. Empat orang tersebut bepergian keesokan harinya dan menularkan virus tersebut kepada orang lain lagi, maka akan terdapat delapan orang yang tertular. Jika orang-orang yang tertular tersebut bertemu orang lain dan menularkannya lagi, maka jumlah orang yang tertular akan bertambah dengan sangat cepat. Grafik fungsi eksponensial memiliki bentuk yang lengkung dan akan selalu bertambah untuk setiap nilai variabel yang positif. Dalam kasus Covid-19, variabel yang digunakan adalah hari sejak pasien Covid-19 ditemukan dan grafik total kasus Covid-19 memang menyerupai grafik eksponensial.

    Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo menuliskan model matematikanya yaitu N(h+x)=(1+R.P)x.Nh dengan

    N(h+x) menyatakan jumlah orang yang tertular di hari ke-x,
    R menyatakan jumlah rata-rata orang yang bertemu pasien Covid-19,
    P menyatakan peluang tertular orang yang bertemu pasien Covid- 19, dan
    Nh menyatakan jumlah kasus positif Covid-19 per hari.

    Berdasarkan model matematika tersebut dapat kita lihat semakin banyak orang yang bertemu pasien Covid-19, maka semakin banyak pula jumlah orang yang tertular di hari tersebut. Namun, jika orang-orang mengikuti saran WHO dan kebijakan pemerintah yang mengharuskan setiap orang untuk memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan serta mengurangi kegiatan yang mengharuskan bertemu orang banyak maka jumlah orang yang tertular juga akan berkurang.

    Alumni matematika UI membuat tiga skenario berdasarkan fungsi perkembangan Covid-19 yang telah mereka teliti. Skenario pertama adalah tidak ada kebijakan signifikan dan tegas dalam mengurangi interaksi antar manusia, skenario kedua adalah ada kebijakan tetapi kurang tegas dan strategis dalam mengurangi interaksi antar manusia serta masyarakat yang tidak disiplin dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah, dan skenario ketiga adalah ada kebijakan yang tegas dan strategis dalam mengurangi interaksi antar manusia serta masyarakat disiplin dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah.
     
    Menurut alumni matematika UI, jumlah kasus positif paling banyak dan waktu pandemi paling lama ketika skenario pertama yang terjadi sementara jumlah kasus positif paling sedikit dan waktu pandemi paling cepat ketika skenario ketiga yang terjadi. Kenyataannya, skenario-skenario tersebut memiliki beberapa bagian yang benar-benar terjadi, misalnya Taiwan menerapkan skenario ketiga memiliki total kasus Covid-19 kurang dari 1000 kasus di bulan Januari 2021, Indonesia menerapkan skenario kedua memiliki total kasus Covid-19 lebih dari 1 juta kasus di bulan Januari 2021, dan di Amerika menerapkan skenario pertama memiliki total kasus Covid-19 lebih dari 26 juta kasus di bulan Januari 2021. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah yang tegas dan strategis dalam mengurangi interaksi antarmanusia serta masyarakat yang disiplin dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh dan dapat mengurangi bahkan memberhentikan rantai penyebaran kasus Covid-19 di dunia.

    Covid-19 berkembang secara eksponensial sehingga Covid-19 menyebar ke seluruh dunia dengan sangat cepat. Faktor yang sangat memengaruhi adalah banyaknya orang yang bertemu dengan pasien Covid-19. Semakin banyak orang yang bertemu dengan pasien, penambahan kasus Covid-19 akan membesar dengan cepat dan semakin lama pandemi ini bertahan. Sebaliknya, semakin sedikit orang yang bertemu dengan pasien, penambahan kasus Covid-19 akan mengecil dengan cepat dan pandemi akan berakhir lebih cepat. Oleh karena itu, kita perlu mengurangi kegiatan yang mengharuskan kita bertemu dengan orang-orang agar kasus Covid-19 tidak bertambah dengan cepat dan dapat segera berakhir. Namun, pengurangan dari kegiatan-kegiatan tersebut memberikan dampak yang negatif bagi segala bidang penyokong kehidupan salah satunya adalah bidang industri.

     

    Ikuti tulisan menarik Sherianne Mulyadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.