Kritiklah Daku, Kau Kudekap - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Aksi Mahasiswa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 15 Februari 2021 07:43 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kritiklah Daku, Kau Kudekap

    Saya, terus terang saja, terpikir diksi yang ia pakai saat mengajukan permintaan agar karyanya dikritik: sejujurnya, sekeras-kerasnya, setajam-tajamnya. Masa iya sih ia akan terima kalau saya kritik sejujurnya, apa lagi keras dan tajam? Saya justru merasa ragu untuk memenuhi permintaannya itu, kok tumben-tumbennya ia minta dikritik gitu loh.

    Dibaca : 1.052 kali

     

    Seorang teman pelukis mengajak saya mengunjungi galerinya. Ia menunjukkan beberapa lukisan terbaru yang ia buat. “Bagaimana menurutmu? Saya pingin dengar kritikmu, mas, sejujurnya, sekeras-kerasnya, setajam-tajamnya,” tutur teman saya itu. Saya menatap wajahnya seolah tak percaya. Yang terlihat wajah memohon sekaligus innocent, tapi justru itu yang membuat saya bimbang dan malah waspada. Jangan-jangan.... Ah, tapi tak baik berburuk sangka.

    Ia lalu mengajak saya berkeliling galerinya, sesekali berhenti di satu kanvas. “Ini saya lukis waktu bulan purnama, mas. Tiba-tiba saya terbangun dari tidur di tengah malam, lalu keluar rumah dan menatap langit.. Inspirasinya dari situ, mas,” ujarnya.

    Saya menatap lukisannya, satu per satu. “Wajahmu kok tanpa ekspresi to mas?” tanyanya, melihat saya diam saja. Saya memang belum berkomentar, walaupun kadang-kadang terasa dahi saya berkerut. Saya menatap wajahnya, tersenyum. Saya masih menimbang-nimbang sembari memperhatikan satu-satu kanvasnya, yang tampaknya baru saja dibingkai.

    Saya, terus terang saja, terpikir diksi yang ia pakai saat mengajukan permintaan agar karyanya dikritik: sejujurnya, sekeras-kerasnya, setajam-tajamnya. Masa iya sih ia akan terima kalau saya kritik sejujurnya, apa lagi keras dan tajam? Saya justru merasa ragu untuk memenuhi permintaannya itu, kok tumben-tumbennya ia minta dikritik gitu loh. Biasanya, ia bersikap galak kepada kritikus seni dan menganggap mereka sebagai komentator yang tidak bisa melukis tapi merasa sok lebih pintar mengerti lukisan.

    Nah, ketika itulah saya baru ingat bahwa saya kan bukan kritikus seni, apa lagi kritikus seni lukis. Tapi barangkali ia ingin mendengar komentar dari bukan-kritikus, yang mungkin ia anggap lebih jujur, tidak punya kepentingan lain, tidak mengarang argumen agar kritiknya terlihat meyakinkan. Jadi, kalau saya mengritik sejujur-jujurnya, boleh jadi ia memang tidak akan marah, hingga tak mau menegur saya lagi, kemudian tak mau menraktir saya minum kopi lagi.

    Sembari menatap lukisan-lukisannya yang lain, saya memikirkan kata-kata yang kira-kira tepat untuk saya sampaikan. Sebagai seniman, saya tahu, teman saya ini punya perasaan yang peka alias sensitif—termasuk peka terhadap kritik, eh maaf.. Karena itu, saya harus menemukan kata yang pas, diksi yang tidak nge-gas, cara mengucapkan yang menyenangkan. Pokoknya komentar yang membuat ia happy, lha sudah capek-capek melukis sekian jam sekian hari dan minggu, kok dikritik habis mlipis. Itu kan sama saja tidak menghargai jerih payahnya melukis. Itulah yang terlintas di benak sembari sesekali mengiyakan ucapan teman saya ini yang sempat-sempatnya cerita pengalamannya divaksin. Saya cuma mendengarkan saja, sebab setahu saya seniman bukan prioritas untuk divaksin saat ini.

    Sembari berjalan hingga sampai di dua lukisan terakhir, saya mendengar ia kembali mengulangi permintaannya: “Saya perlu kritik yang sejujurnya, sekeras-kerasnya, sepedas-pedasnya, dan setajam-tajamnya mas, sebelum karya baru ini saya pamerkan untuk umum.”

    “Saya perlu kritik agar saya bisa memperbaiki diri, dari segi teknik, pewarnaan, maupun tema. Tanpa kritik saya akan cepat berpuas diri. Saya takut merasa sudah maju, tapi sebenarnya masih begini-begini saja,” ujar kawan saya lagi.

    Barulah kemudian saya membuka mulut, “Bener nih, mau kritik yang jujur, keras, pedas, dan tajam?” “Iya, mas,” jawabnya dengan wajah tidak terlampau jelas bagi saya, antara sumringah karena bersemangat atau bersiap-siap mendengar jawaban yang kurang menyenangkan. “Mas kan bukan kritikus, jadi menurut saya mas akan lebih jujur menilai. Saya akan dengarkan kritik mas meskipun tajam setajam silet, pedas sepedas sambal si mbok, dan keras sekeras batu,” ucapnya lagi. Wuiiih...

    Saya terdiam sejenak dan tertangkap oleh mata saya gerak tubuhnya yang canggung saat mengatakan ucapan tadi. Saya bukan ahli psikologi, tapi gerak tubuh seperti itu katanya menandakan kegelisahan karena mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diinginkan. Saya sendiri sudah punya jawaban yang jujur, walaupun tak tahu apakah kritik saya atas lukisan barunya itu akan tajam dan keras seperti yang ia inginkan.

    “Bagaimana, mas, komentarmu? Bagus, kan?” tanyanya setelah sejurus kami terdiam.

    “Komentar yang jujur ya, boleh?” kata saya.

    “Kan memang itu yang saya minta, mas,” wajahnya terlihat agak tegang.

    “Hmmm... begini, lukisan-lukisan barumu ini memang kelihatan bagus, warnanya, temanya, tekniknya, goresannya......” Ia terlihat sumringah.

    “Tapi....,” saya mau meneruskan kalimat.

    “Tapi apa, mas?” terdengar ucapannya tidak sabar.

    “Hmmm, tapi saya tidak suka. Soalnya ...”

    Belum lagi saya selesai berbicara, saya lihat wajahnya mendadak berubah, bibirnya terkatup dan terangkat maju ke atas. Buru-buru saya menambahkan, “Tadi kan kamu minta saya jujur...”

    “Udiiin, antar tamu ini ke tempat parkir,” teriaknya. Dan ketika saya berpaling ke arahnya untuk menjelaskan komentar saya, ia sudah memunggungkan badan. Udin, pengawalnya itu, mendekap saya erat-erat hingga saya sukar bernapas dan membawa saya keluar dari galeri...>>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.