Mungkin, Ini Faktor Polisi Tak Izinkan Kompetisi Sepak Bola di Indonesia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Izin polisi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 15 Februari 2021 07:49 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Mungkin, Ini Faktor Polisi Tak Izinkan Kompetisi Sepak Bola di Indonesia

    Saat Pilkada Desember 2020, meski polisi tak memberi izin kompetisi, faktanya, ada beberapa daerah di Indonesia yang melaksanakan Pilkada, tetap memberikan izin turnamen sepak bola digelar di daerahnya, bahkan didukung oleh para petahana yang kembali mencalonkan diri atau calon baru demi memperoleh dukungan suara dari publik sepak bola. Sebab itu, turnamen sepak bola pun tetap berjalan karena ada kepentingan. Begitu Pilkada usai, turnamen pun usai, bila masih ada yang menggelar, tentu tak mengantongi izin. Nah, sepertinya bila polisi hingga sekarang masih belum memberikan izin PSSI menggelar kompetisi, selain karena faktor virus corona, kemungkinan ada 2 faktor yang menjadi pertimbangan lagi.

    Dibaca : 757 kali

    Kompetisi sepak bola nasional, hingga detik ini belum ada kepastian menyoal izin dari Kepolisian, meski berbagai pertemuan yang bahkan sampai diinisiasi oleh Menpora, tetap tak membuat dampak polisi nampak akan mengeluarkan izin. Namun, PSSI dan PT LIB, tetap berupaya menggagas memutar Turnamen Pramusim di Maret 2021, demi menunjukkan kepada polisi, bila turnamen lancar dan aman tanpa dihadiri penonton, pun dengan protokol Covid-19 ketat, maka bisa jadi surat izin dari polisi bisa ke luar.

    Sayangnya, rencana turnamen pra musim yang akan diikuti oleh 18 Klub Liga 1 dan 2 Klub Liga 2, malah ada penolakan dari kontestan. Pasalnya, ada Klub yang menganggap percuma dan sia-sia melakukan persiapan turnamen pra musim, namun ternyata pelaksanaannya tetap tak diizinkan oleh polisi. Sehingga, gagasan turnamen atau kompetisi, yang paling utama adalah ada izin dulu dari polisi. Bila di depan tidak ada kepastian izin dari polisi, maka akan percuma dan sia-sia persiapan yang pasti menggelontorkan dana tidak sedikit.

    Kompetisi di manca negara sudah bergulir

    Kendati corona terus mendera seluruh dunia, namun faktanya Piala Dunia antar Klub sudah usai digelar pada Jumat (12/2/2021) di Stadion Education City, Qatar. Bayern Muenchen berhasil mengalahkan Tigres UANL selaku jawara Liga Champions CONCACAF pada final Piala Dunia Antarklub FIFA 2020 dengan skor 1-0 berkat gol semata wayang dari Benjamin Pavard (59').

    Hasil ini, membawa Bayern Muenchen asuhan Hansi Flick menjadi juara Piala Dunia Antarklub FIFA 2020, melengkapi capaian mereka sepanjang 2020. Sebelumnya, Die Roten itu lebih dulu mengemas lima trofi lain, yakni Piala Super Jerman, DFB Pokal, Bundesliga, Liga Champions, dan Piala Super Eropa.
    Artinya, ini merupakan trofi kelima yang berhasil direngkuh Bayern pada 2020, meski trofi Juara Piala Dunia antarKlub baru digelar di 2021.

    Sebelum ini, bahkan di tahun 2020, berbagai negara di Eropa, Amerika, dan Asia, malah terus memutar kompetisi domestik. Ada yang tanpa penonton, ada juga yang sudah dihadiri penonton. Semuanya berjalan lancar dan juga tak terdengar ada masalah rusuh suporter karena dilarang masuk stadion, juga tak ada klaster-klaster corona dari kompetisi mereka.

    Sepak bola sudah tak signifikan untuk politik

    Fakta bahwa di manca negara kompetisi sepak bola sudah bergulir meski pandemi Covid-19 masih berlangsung, ternyata tak membuka mata dan hati stakeholder sepak bola di Indonesia, sebab polisi masih tak bergeming untuk mengeluarkan izin.

    Publik sepak bola nasional pun lantas banyak yang berpikir bahwa, karena sekarang sedang tak musim politik untuk memperebutkan kursi Gubernur hingga Presiden, maka sepak bola yang massanya paling banyak sedang tidak dibutuhkan untuk mendulang suara.

    Saat Pilkada Desember 2020, meski polisi tak memberi izin kompetisi, faktanya, ada beberapa daerah di Indonesia yang melaksanakan Pilkada, tetap memberikan izin turnamen sepak bola digelar di daerahnya, bahkan didukung oleh para petahana yang kembali mencalonkan diri atau calon baru demi memperoleh dukungan suara dari publik sepak bola. Sebab itu, turnamen sepak bola pun tetap berjalan karena ada kepentingan. Begitu Pilkada usai, turnamen pun usai, bila masih ada yang menggelar, tentu tak mengantongi izin.

    Nah, sepertinya bila polisi hingga sekarang masih belum memberikan izin PSSI menggelar kompetisi, selain karena faktor virus corona, kemungkinan ada 2 faktor yang menjadi pertimbangan lagi.

    Faktor pertama, digelarnya kompetisi sepak bola tak ada signifikasinya dengan iklim politik, sebab tahun ini tidak ada Pilkada maupun Pilpres, jadi pihak yang berkepentingan sedang tak butuh kendaraan sepak bola demi meraup suara pendukung untuk memenangi kursi dan tahta jabatan.

    Faktor kedua, kemungkinan polisi tetap melihat bahwa suporter sepak bola di Indonesia belum dapat bersikap seperti suporter di manca negara. Meski, kompetisi digelar tanpa penonton, masih sangat memungkinkan suporter akan ke luar dari rumah. Bisa jadi tetap akan ada kerumunan yang bisa menimbilkan bentrok suporter di luar stadion karena suporter tetap ingin hadir ke stadion meski laga ditayangkan di televisi.

    Memang, menyoal suporter sepak bola Indonesia, seharusnya menjadi pekerjaan rumah paling utama yang sewajibnya di garap oleh PSSI, agar suporter cerdas, terdidik, dan berkarakter berbudi pekerti luhur baik di luar saat menuju stadion maupun saat di dalam stadion, hingga pulang meninggalkan stadion dengan tertib.

    Jadi, semestinya, bila suporter sepak bola Indonesia sudah digaransi oleh PSSI dapat bersikap dan berperilaku seperti suporter sepak bola di manca negara, maka polisi tak akan berpikir dua kali untuk memberikan izin kompetisi di gelar meski masih pandemi corona.

    Yang sekarang terjadi, dalam hal antisipasi dan pencegahan corona saja, sudah berbagai kebijakan pemerintah di gelontorkan hingga terbaru Program PPKM Mikro, masyarakat tetap saja masih banyak yang tak patuh dan tak disiplin, masih tetap banyak yang abai dan antipati.

    Inilah problematika masyarakat Indonesia. Susah untuk disiplin dan tertib meski untuk dirinya sendiri. Sehingga, saat polisi bicara sepak bola, kemungkinan polisi sudah berpikir terukur karena budaya dan sejarah kelam tentang perilaku suporter sepak bola Indonesia. Dan, sampai kapan para pelaku dan pekerja di sepak bola akan menjadi korban dari sikap suporter yang membuat polisi tak meluncurkan izin kompetisi.

    Sampai kapan persoalan sepak bola Indonesia terus menjadi benang kusut di negerinya sendiri, tak sebanding dengan melimpahnya publik yang mencintai sepak bola.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Supartono JW

    Sabtu, 6 Februari 2021 21:14 WIB

    Sepak Bola Akar Rumput Tak Bertuan, Orang Tua Cerdas dan Bijak Memilih Kompetisi

    Dibaca : 1.056 kali

    Bila anak Bapak dan Ibu, passionnya bukan sepak bola, terdeteksi tak memiliki Teknik, Intelegensi, Personaliti, dan Speed (TIPS) sebagai pesepak bola, jangan paksakan anak menggeluti sepak bola. Jadikan sepak bola olah raga hobi, dan biarkan anak berkembang sesuai.passion untuk kehidupannya kelak. Jangan anak di antar untuk bermimpi menjadi pemain timnas, bila di SSBnya saja tak masuk standar TIPS pemain. Jadilah orang tua yang bijak. Bila Bapak dan Ibu, menyadari bahwa anaknya ternyata passionnya di sepak bola dan memiliki TIPS yang memenuhi standar, jangan ambisi, jangan egois, jangan menyakiti SSB yang telah membina anaknya terlebih dahulu, dan penjadi petualang, masuk di berbagai tim yang mengimingi gratisan pun jumawa karena merasa anaknya hebat. Ini justru menjatuhkan kecerdasan dan personaliti anak, attitude anak. Hingga malah akan dikucilkan oleh berbagai pihak. Ingat, timnas itu hanya butuh 11 pemain, line-up 18 pemain atau didaftarkan  23 pemain atau 30 pemain dalam sebuah event. Kembali ke masalah ada operator kompetisi baru dari pihak swasta yang dihelat baik oleh pemain baru maupun dari Klub Liga 1, kepada para orang tua, lihatlah latar belakangnya, visi-misi dan tujuannya, lihat anggarannya. Kepada publik sepak bola nasional, hingga artikel ini saya tulis, inilah fakta sepak bola di Indonesia yang terus dibiarkan kusut. Menyedihkan.