14 Februari, Sebatang Coklat dan Darah Revolusi - Analisa - www.indonesiana.id
x

gambar hati

Rahmad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 Februari 2021

Selasa, 16 Februari 2021 13:03 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • 14 Februari, Sebatang Coklat dan Darah Revolusi

    keresahan Jomblo dihari Valentine yang membawa ingatan kedalam masa perjuangan.

    Dibaca : 505 kali

    Sebatang Coklat dan Darah Revolusi

    “Buket coklatnya mas?”

    Tawar seorang penjaga kasir di mini market saat saya membayar minuman dingin dan beberapa cemilan. Sontak saya tersadar sekeliling saya para muda-mudi sedang menenteng coklat batangan mulai dari seukuran pensil sampai sebesar as roda mobil Kijang Innova. Sial, ini hari Valentine. Seketika saya merasa makhluk asing yang terdampar di planet entah berantah. Begini banget nasib jomblo di era Milenial.

              “Tidak, terima kasih mas”, seketika langsung saya bayar belanjaan saya dan pergi dari tempat yang sialan itu sambal menipu diri dengan bisikan dalam hati.

              “Akan indah pada waktunya”, (Bangun, tidur mu terlalu miring)

    Pada umumnya 14 februari selalu dirayakan sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang, terkhusus muda-mudi yang sudah jauh hari menabung untuk memberi sebatang coklat atau seikat bunga untuk kekasih hatinya. Bila sedikit beruntung juga akan dilengkapi dengan boneka yang dikirim langsung dengan layanan ojek online. Namun demikian ternyata sangat banyak peristiwa dibalik tanggal 14 Februari, selain peristiwa berdarah penentangan pendeta Valentine terhadap rezim kaisar Claudius II.

    Sebenarnya fenomena ini sudah lama bersarang dikepala saya, dimana rangkaian-rangkaian peristiwa yang terikat dalam rentang waktu atau sederhananya kita kenal dengan kata sejarah begitu asing dikepala generasi muda. Sebagai contoh promo Shopee 11.11 mampu menggantikan peringatan penuh hikmat yaitu hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November. Hal ini adalah degredasi nyata bagi generasi muda saat ini.

    Ketika pemuda seusia saya sibuk merayakan hari berkasih-sayang seperti momentum inilah yang paling tepat untuk menunjukan rasa kelimpahan sayang untuk kekasih hati. Meski sering berakhir pada kegiatan-kegiatan amoral dan pelanggaran asusila. Jangan ditanya jaga jarak, sudah pasti tidak.

    Jika saya dibilang tidak open minded Ketika tidak ikut merayakan hari Valentine yang absurd itu. Maka bersama tulisan ini saya akan merayakan hari kasih sayang dengan mengenang perjuangan dan perlawanan penuh darah umat manusia untuk melahirkan generasi yang berbuburu sebatang coklat di swalayan.

    14 Februari Sebagai Hari Perlawanan

    Saya tidak akan bercerita 14 Februari dengan sebatang coklat lagi. Banyak sekali peritiwa 14 Februari yang tercatat dalam sejarah, mulai dari yang pantas dirayakan atau hening dalam peringatan. Beberapa saya uraikan peristiwa yang semestinya menjadi refleksi bagi kita semua sebelum terbawa arus ueforia valentine.

    Revolusi Abbasiyah (14 Februari 748 M)

    Pada saat itu dinasti bani Ummayah sedang mengalami kemunduran akibat kegagalan dalam menciptakan suasana yang harmonis dengan mengistimewakan bangsa Arab atas bangsa lainnya dan menganggap rendah kaum Muslim non Arab atau disebut Mawali.

    Dinasti Ummayah sudah menyadari sejak tahun 470-an kekuasaanya waktu itu sangatlah tidak aman. Terlebih bersamayam sengketa suksesi yang menimbulkan Perang Saudara Islam Ketiga di Timur Tengah berlangsung selama 2 Tahun.

    Setelah kejadian itu lahir pemberontakan dari segala penjuru negeri. Seperti pemberontakan yang dilakukan oleh al-Dahhak Ibn Qays al-Shaybani pemimpin perlawanan khawarij dan berlangsung sampai pada tahun 746 M.

    Sementara itu, di Damaskus terjadi kekacauan akibat dari keputusan yang diambil oleh Marwan II yaitu khilafah terakhir bani Ummayah. Beliau memutuskan memindahkan ibu kota Damaskus ke Harran yang berakhir dengan penghancuran Homs pada tahun 746 M. Pada tahun 747-748 M orang-orang Abbasiyah melakukan Revolusi diawali menguasai provinsi Merv lalu bersporadis hingga dinasti Bani Ummayah Tumbang.

    Pembantaian Warga Yahudi di Starsbourg (14 Februari 1349)

    Pada saat itu situasi sangat kacau, mayat-mayat bergelimpangan penuh simbah darah, rumah-rumah dibakar bersama jeritan tangis kesakitan. Penduduk Yahudi di Starsbourg tahun 1349 dipaksa mati oleh tetangganya yang beragama Kristen dengan dibakar hidup-hidup. Peristiwa ini diperkirakan memakan korban ratusan hingga lebih dari 2000 korban jiwa.

    Penyebab kejadian ini adalah anggapan bahwa orang Yahudi bertanggung jawab atas wabah Black Death yang melanda Eropa pada 1348-1350 dan membunuh dua pertiga populasi Eropa. Orang-orang Yahudi dituh mencemari sumur-sumur tetangga non Yahudi. Beberapa warga Yahudi di siksa untuk mengakui perbuatannya, hingga saat ini masih diperdebatkan kebenarannya.

    Pemberontakan Tentara PETA (14 Februari 1945).

    Sekitar 6 bulan menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonenesia atau tepat pada tanggal 14 Februari terjadi peristiwa bersejarah. Sebuah gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh sebuah Batalion PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar, Jawa Timur. Pemberontakan ini dipimpin oleh Shodancho Supriyadi terhadap pasukan jepang.

    Pemberontakan ini lahir dari keresahan Supriyadi melihat nasib rakyat Indonesia, khususnya di Blitar, Jawa Timur hidup sengsara atas kekejaman dibawah kekuasaan kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Mulai dari kerja paksa “Romusha”, perampasan harta dan hasil tani, perlakuan intimidatif, pelecehan terhadap wanita pribumi oleh tentara jepang dan tindakan rasial seperti halnya yang dilakukan rezim Fasis di Eropa.

    Berbagai macam rencana dipersiapkan Supriyadi bahkan sejak bulan September 1944 digelar pertemuan-pertemuan yang bersifat rahasia, Shodancho Supriyadi tidak hanya merancanakan pemberontakan tapi juga Revolusi. Seperti tertulis di buku Joyce J Lebra yang diterjemahkan Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1988, dalam buku itu dibeberkan persiapan Supriyadi dan Shodancho lain.

    Hingga pada tanggal 13 Februari 1945 malam, Supriyadi memutuskan pemberontakan harus dimulai sebagai pembalasan tentara PETA atas perlakuan tentara Jepang. Banyak yang menilai persipan pemberontakan itu tidak siap, bahkan Soekarno meragukan kesiapan pemberontakan itu dengan berpesan agar Supriyadi memikul tanggung jawab jika pemberontakan itu gagal.

    Akhirnya pada tanggal 14 Februari 1945 dipilih sebagai momentum pemberontakan. Pada pukul 03.00 WIB Supriyadi menembakkan mortir ke hotel Sakura yang menjadi kediaman perwira Jepang. Hingga pada akhirnya pemberontakan PETA tidak berjalan sesuai yang diharapkan, Shodancho Supriyadi gagal menggerakan satuan lain dan sudah mulai dicurigai oleh pihak Jepang.

    Dalam keadaan terdesak semua pasukan pemberontak ditaklukan dan banyak dari perwira PETA dijebloskan kedalam penjara dan yang dihukum mati di Ancol pada tanggal 16 Mei 1945. Namun Shodancho Supriyadi tidak berada dikeduanya, ia menghilang misterius hingga sampai saat ini.

    Begitu banyaknya serakan makna dari rentetan peristiwa sejarah umat manusia hingga baiknya kita tidak lagi hanya disibukan dengan sebatang coklat dan bunga. Merah tanah yang kita pijak adalah aliran darah bagain tubuh dari leluhur kita, tragedi kemanusiaan ini hendaknya sebagai peringatan besar bahwa hak manusia untuk hidup selalu berdampingan hingga mudah sekali untuk pecah. Sehingga masa kasih sayang seperti ini tidak lagi menjadi hari berkabung untuk generasi yang akan datang.

    Tulisan ini tidak berniat membangkitkan kembali dendam masa lalu terhadap golongan tertentu. Hal ini hanya manifestasi dari gerakan-gerakan Milenial walau dengan modal sebatang coklat untuk kekasih.

     

    Oleh : Rahmad Agus Suryadi

    Mahasiswa Institut Pertanian Stiper Yogyakarta dan Pegiat Literasi Kembul.id

    Telah terbit di : https://opini.id/sosial/read-16070/sebatang-coklat-dan-darah-perlawanan

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.