Obesitas dan Covid-19, Pandemi Kembar yang Saling Berkaitan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Obesitas meningkatkan risiko kematian terkait Covid-19, sementara penanganan Covid-19 menyebabkan prevalensi obesitas meningkat

CISDI ID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 September 2020

Selasa, 16 Februari 2021 13:19 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Obesitas dan Covid-19, Pandemi Kembar yang Saling Berkaitan

    Obesitas disebut sebagai pandemi karena telah menyebar ke sekitar 30 persen penduduk dunia. Dalam konteks pandemi Covid-19, obesitas meningkatkan risiko keparahan gejala serta kematian. Selain itu, obesitas juga Mmeicu Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi yang sering disebut komorbid. Kita mengerti bagaimana pengaruh obesitas pada orang yang terinveksi Covid-19. Namun, bagaimana penanganan Covid-19 dapat berpengaruh pula pada obesitas?

    Dibaca : 889 kali

    Obesitas meningkatkan risiko kematian terkait Covid-19, sementara penanganan Covid-19 menyebabkan prevalensi obesitas meningkat. (Sumber gambar: Freepik.com)

     

    Obesitas adalah pandemi yang sudah menyebar sejak beberapa dekade lalu, jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia pada 2020. Sebuah studi yang dipublikasikan New England Journal of Medicine menyebutkan dua miliar atau sekitar 30 persen penduduk dunia menderita gemuk atau obesitas. Temuan ini sejalan dengan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang menyatakan jumlah penderita obesitas di dunia meningkat tiga kali lipat sejak 1975. Situasi ini perlu menjadi perhatian mengingat orang dengan obesitas memiliki resiko lebih tinggi untuk tertular Covid-19.

     

    Obesitas dan Risiko Kematian di Masa Pandemi

    Definisi kegemukan atau obesitas menurut WHO adalah akumulasi lemak yang berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Indeks Massa Tubuh (body mass index/BMI) adalah indeks yang dugunakan untuk mengukur kegemukan seseorang dengan membandingkan antara berat dengan tinggi badan seseorang. Orang dewasa termasuk kategori gemuk bila BMI-nya di antara 25 dan 30, dan termasuk kategori obesitas bila melebihi 30. 

    Meskipun gaya hidup tidak sehat sering digadang sebagai penyebab utama obesitas, namun permasalahan sebenarnya adalah tidak seimbangnya kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Konsumsi makanan yang tinggi lemak, garam, dan gula diiringi dengan menurunnya aktivitas fisik juga menjadi pemicu obesitas.

    Pandemi Covid-19 mengancam orang dengan obesitas karena mereka memiliki risiko lebih tinggi tertular Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for DIsease Control and Prevention / CDC) Amerika menemukan ketika orang dengan obesitas terinveksi Covid-19, kemungkinan mereka dirawat di ruang ICU 74 persen lebih tinggi daripada orang yang tidak obesitas. Risiko meninggal juga meningkat 48 persen dibanding orang normal.

    Implikasi kesehatan yang muncul pada orang dengan obesitas juga memperkeruh keadaan. Penyakit Tidak Menular (PTM) yang timbul karena obesitas, atau biasa disebut komorbid, juga meningkatkan resiko kematian pada infeksi Covid-19. Pasien dengan riwayat penyakit jantung, diabetes mellitus, dan hipertensi masing-masing memiliki risiko kematian 9 kali lipat, 8,3 kali lipat, dan 6 kali lipat lebih tinggi daripada pasien tanpa penyakit tersebut.

    Dengan masifnya program vaksinasi di seluruh dunia, para ahli kini khawatir obesitas akan mengurangi keefektifan vaksin. Hal ini didasari beberapa penelitian  vaksin flu, hepatitis B, dan rabies yang menunjukkan respons imunitas lebih rendah pada orang dengan obesitas dibandingkan dengan yang tidak.

     

    Angka Obesitas Meningkat

    Di sisi lain, sejumlah studi melaporkan pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah kasus obesitas meningkat. Krisis ekonomi yang disebabkan pembatasan mobilitas terutama merugikan kelompok masyarakat termiskin. Mereka akan memiliki jumlah pemasukan yang terbatas jika tidak lebih sedikit dari sebelumnya sehingga kelompok masyarakat ini hanya mampu membeli makanan yang murah, mudah didapat, dan tinggi kalori, tanpa memperhatikan keseimbangan gizi.

    Di samping itu, pembatasan sosial juga dikaitkan dengan menurunnya kesehatan mental masyarakat. Beberapa faktor pemicunya adalah tingginya stres akibat perubahan pola hidup, perasaan khawatir karena misinformasi dan hoaks yang beredar, serta perasaan kesepian akibat isolasi mandiri. Faktor-faktor psikologis tersebut dapat menyebabkan depresi, rasa cemas, dan gangguan pola makan seperti makan terlalu banyak tanpa memperhatikan jumlah kalori yang masuk dan yang keluar. Pada akhirnya kondisi ini berujung pada penambahan berat badan.

    Lalu, masyarakat juga kesulitan menerapkan gaya hidup aktif karena fasilitas olahraga publik dan gym ditutup. Pembatasan mobilitas pun mengurangi kesempatan masyarakat melakukan aktivitas fisik dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya, orang yang biasa berjalan kaki setiap hari untuk mengakses transportasi umum menuju kantornya kini tidak lagi melakukannya karena bekerja dari rumah.

    Pandemi Covid-19 menampilkan wajah kesehatan yang sebenar-benarnya termasuk di Indonesia.  Sebenarnya, Indonesia memiliki modal besar untuk mengatasi pandemi ini melalui layanan kesehatan primer yang kuat dan mampu memenuhi layanan kesehatan esensial. Karena itu, Jawa Barat berkomitmen untuk memperkuat layanan kesehatan esensial di 100 puskesmas yang tersebar di 12 kota/kabupaten melalui program Puskesmas Terpadu dan Juara (PUSPA). Tidak hanya membantu penanganan Covid-19 di wilayah penempatan, anggota PUSPA juga akan meningkatkan akses kesehatan esensial pada masa pandemi melalui pemanfaatan teknologi.

     

    Tentang CISDI

    Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong kebijakan kesehatan berbasis bukti untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, sehat dan sejahtera dengan menerapkan paradigma sehat. CISDI melaksanakan riset dan manajemen program serta advokasi kebijakan untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

     

    Penulis

    Ardiani Hanifa Audwina



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.