Teddy Rusdy dalam Pusaran De-Beni-isasi (Oleh Kemala Atmojo) - Analisa - www.indonesiana.id
x

Marsekal Muda (Purn) Teddy Rusdy

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 18 Februari 2021 05:57 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Teddy Rusdy dalam Pusaran De-Beni-isasi (Oleh Kemala Atmojo)

    Isu Debenisasi memang sudah populer, namun banyak generasi muda kurang jelas latar belakangnya. Cerita ini memberi sedikit gambaran soal itu, dan Teddy memang menjadi salah satu sasarannya.

    Dibaca : 35.360 kali

    Tulisan saya untuk mengenang 1000 hari wafatnya Teddy Rusdy yang akan diselenggarakan pada akhir Februari 2021 ternyata mendapat tanggapan dari beberapa pihak. Intinya, beberapa yang membaca tulisan itu ingin agar saya menulis lagi hal-hal lain yang berkaitan dengan Benny Moerdani dan Teddy Rusdy. Kali ini, saya pilihkan topik yang sebenarnya sudah sangat populer, namun kurang jelas bagi beberapa pihak.        

    Salah satu ungkapan yang sering dikaitkan dengan L.B. Moerdani dan Teddy Rusdy adalah “De-Beni-isasi”. Ini semacam ‘proyek’ pembatasan  ruang gerak orang-orang yang ditengarai dekat dengan  Benny Moerdani. Salah satunya adalah Teddy sendiri.

    Untuk sedikit memahami Debenisasi ini, tampaknya kita harus kembali ke tahun 1987-1988. Selain buku Think Ahead, yang ditulis Servas Pandur, saya juga membaca Bintang Sakti Maha Wira buat Mas Teddy, yang ditulis oleh istrinya, Sri Teddy Rusdy. Rupanya ada beberapa peristiwa berkelidan di tahun-tahun itu. Salah satu peristiwa “besar”, misalnya, menjelang Pemilu 1987, Mensesneg Sudharmono diangkat menjadi Ketua Golkar. Ia sangat ingin agar Golkar meraih kemenangan mutlak (70 persen) pada Pemilu 1987. Beberapa pengusaha muda dilobi masuk Golkar. Sebagai ‘imbalan’, mereka nantinya akan mendapat proyek-proyek dari pemerintah.

    Tampaknya, Jenderal Benni Moerdani, selaku Panglima ABRI,  khawatir dengan tekad Sudharmono untuk meraih kemenangan Golkar sebanyak 70 persen dalam Pemilu. Sedangkan sisa suara yang 30 persen menjadi ‘jatah’ PPP dan PDI. Benny Moerdani  khawatir jajaran ABRI akan dijadikan mesin pemenangan suara Golkar yang bisa berakibat adanya tindakan-tindakan otoriter di lapangan. Hal ini, dalam pikiran Benny, akan membuat pemerintahan Orde Baru/Golkar akan semakin tidak terkontrol, tidak dapat diawasi, dan berpotensi menuju otoritarian. Padahal kesadaran politik rakyat Indonesia semakin baik, semakin tinggi. Selain itu, proyek pemenangan 70 persen suara untuk Golkar ini akan menjadi beban berat bagi jajaran ABRI dan aparat pemerintah yang ditugasi.

    Di sisi lain, pembangunan ekonomi dinilai bertumbuh baik. Pemerintah melalui program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), mulai Repelita Peratama (1969-1974); Repelita Kedua (1974-1988); Repelita Ketiga (1979-1984), dianggap berhasil membangun ekonomi bangsa. Dan sepanjang 1984-1988 ini adalah masa Repelita Keempat. Posisi Presiden Soeharto semakin kuat. Muncul kelompok-kelompok bisnis baru yang menggurita.

    Di level masyarakat, tuntutan demokratisasi semakin santer terdengar. Beberapa tindakan pemerintah dianggap semakin otoriter. Maka, pada saat itulah, Jenderal L.B. Moerdani dan jajaran intelijen menilai bahwa pencalonan Soeharto menjadi Presiden pada 1989-1995 sebaiknya menjadi yang terakhir. Dalam berbagai pertemuan intelijen yang sangat terbatas, analisa dan kesiapan intelijen menghadapi era pasca-Soeharto pada 1995 ternyata dibocorkan kepada Presiden Soeharto. Akibatnya, Benny Moerdani dan Teddy dianggap tidak loyal. Padahal, Benny dan Teddy sebenarnya bermaksud mencarikan jalan mundur yang elegan untuk Pak Harto pada 1995.

    Dua pelan menjelang Sidang Umum MPR pada 10 Maret 1988, Presiden Soeharto menyetujui penggantian Panglima ABRI dari Jenderal L.B. Moerdani kepada Jenderal Try Soetrisno. Benny Moerdani kemudian diangkat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Proses penggantian Benny Moerdani oleh Try Soetrino inilah yang dianggap sebagai titik awal ‘proyek’ Debenisasi. Mulailah berlangsung pergeseran-pergeseran kewenangan, hak, dan tanggung jawab di lingkungan ABRI. Orang-orang yang ditengarai dekat dengan Benny dilepas atau digeser. Salah satu sasarannya, tentu saja Teddy Rusdy sendiri, yang saat itu berpangkat Marsekal Muda TNI dan menjabat sebagai Asisten Perencanaan Umum (Asrenum) ABRI.  Jabatan Asrenum sangat strategis. Di masa itu (akhir 1980 sampai awal 1990-an), Asrenum ini bagaikan “otak” Mabes ABRI. Teddy menduduki jabatan itu. Maka ia sangat mahir menyusun kebijakan strategis ABRI. Maka pantas pula jika Teddy juga harus diganti dalam proyek Debenisasi.

    Selama menjadi Asrenum di masa Benny Moerdani, tugas Teddy adalah membantu merumuskan kebijakan strategis penyelenggaraaan Pertahanan Negara. Misalnya, merumuskan kebijakan perencanaan pembinaan kemampuan personil dan organisasi ABRI dalam rangka pertahanan negara; merumuskan dan mengembangakn sistem, metode, pengolahan data ABRI; merumuskan kebijakan penelitian dan pengembangan doktrin, sarana, dan prasarana ABRI; merumuskan rancana program dan anggaran; dan lain-lain.

    Pada saat Try Soegtrisno menjabat sebagai Panglima ABRI, Teddy masih menduduki jabatan Asrenum. Namun, pada bulan-bulan pertama Tedy sudah mulai merasakan bahwa dirinya akan tergusur karena tekanan dari beberapa pihak. Apalagi Teddy juga mendengar bahwa Pak Harto kurang menyukai Benny Moerdani lagi. Maka, setelah dua tahun menjadi Asrenum Pangab di masa Benny Moerdani dan empat tahun menjadi Asrenum di masa Pangab Try Soetrisno, Teddy merasa suasana di lingkungan ABRI sudah berbeda. Maka, dengan berbagai pertimbangan, pada 1992, Teddy Rusdy mengajukan diri untuk pensiun dini dari dinas militer, yang telah dijalaninya selama 30 tahun. Saat itu usia Teddy masih 52 tahun. Usia yang masih cukup produktif.

    Belakangan, ketika banyak personil ABRI memasuki masa pensiun, anatomi isu “Debenisasi” ini menemukan bentuknya.  Menurut Teddy Rusdy, Pak Try Soetrisno pernah mengisahkan bahwa beliau sempat tiga kali diminta oleh beberapa perwira Angkatan Darat dan pak Harto untuk mengganti Teddy Rusdy dari jabatannya sebagai Asrenum Pangab. Namun Pak Try menolak permintaan itu. Alasannya, saat itu Teddy masih sangat dibutuhkan. Selama beberapa bulan memimpin Mabes ABRI, beliau menyadari betapa kompleks tugas seorang panglima ABRI, sehingga ia masih memerlukan Teddy Rusdy.  Cerita itu mengonfirmasi bahwa Debenisasi memang pernah.

    Akhir kata, di masa pensiun, Teddy banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, berolah raga, dan menjalankan beberapa perusahaan yang ia dirikan bersama beberapa koleganya.

     

                                                                                ###

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.