Kita Perlu Partai Politik yang Sehat - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 19 Februari 2021 13:33 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kita Perlu Partai Politik yang Sehat

    Rakyat berkepentingan agar partai politik hidup secara sehat dan mendorong jalannya demokrasi yang sehat, bukan malah menyokong oligarki politik dan konglomerasi ekonomi. Partai yang sehat akan mendorong institusi-institusi negara lainnya untuk bersikap mandiri dalam menjalankan fungsinya sesuai amanat konstitusi dan bukan mengintervensi institusi tersebut.

    Dibaca : 1.113 kali

     

    Mengapa negara/rakyat ikut berkontribusi membiayai partai politik? Tidak lain karena diasumsikan bahwa partai politik merupakan alat untuk memperjuangan kepentingan rakyat banyak. Kontribusi rakyat, melalui negara, diperlukan agar partai dapat menjalankan roda organisasi, walaupun kontribusi ini bukan satu-satunya sumber pendanaan organisasi partai politik.

    Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, partai-partai yang berjuang menghadapi kekuatan kolonial sangat bertumpu pada anggota—iuran serta para pedagang yang kesadaran politiknya tinggi. Para pedagang ini, di antaranya pedagang batik kalau di Jawa, menganggap partai sebagai alat perjuangan politik untuk meraih kemerdekaan. Mereka tidak memakai partai sebagai alat untuk memperbesar usaha pribadi. Mereka tidak mencari penghidupan di dalam partai ataupun melalui partai, melainkan di luarnya.

    Di masa modern, spirit sepertinya berubah. Pada umumnya, partai seperti menjadi jalan untuk mendekati akses kepada sumber-sumber daya ekonomi. Ini karena kapital menjadi unsur penting untuk membangun pengaruh politik, baik di dalam partai maupun di luar. Sejak lama sudah ada dugaan bahwa pejabat-pejabat publik yang berasal dari partai dan kemudian terbelit kasus korupsi bukan hanya menghimpun uang untuk dirinya sendiri, tapi diduga juga untuk kepentingan partai. Meskipun, dugaan ini tidak mudah dibuktikan.

    Kapital bukan hanya menjadi unsur penting untuk mendirikan perusahaan, tapi juga untuk mendirikan partai politik. Kapital sangat menentukan apakah seseorang memiliki pengaruh di dalam partai atau tidak. Seseorang yang memiliki kapital yang kuat berpotensi besar untuk menghimpun kekuatan ekonomi dan politik, bahkan jika perlu kekuatan informasi—melalui kepemilikan media.

    Di masa sekarang, situasi ini menjadikan partai politik pada umumnya sangat bertumpu pada seseorang yang menguasai sumber daya ekonomi yang memungkinkannya menggerakkan roda partai. Kekuatan kapital menjadikan seseorang mampu menjadi orang paling menentukan dalam partai, atau setidaknya ia orang yang memiliki akses kepada sumber-sumber daya ekonomi dan pelakunya.

    Kontribusi rakyat melalui anggaran negara dalam bentuk bantuan keuangan kepada partai mungkin tidak terlampau memengaruhi sepak terjang partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Elite, yang menjadi figur sentral, boleh jadi lebih memengaruhi kemana partai politik melangkah. Terdapat lima tujuan pemberian bantuan keuangan itu, yang terkait dengan volume dan mutu kaderisasi, desentralisasi kewenangan internal partai, revitalisasi pola rekrutmen dan promosi kader partai, menghilang praktik politik transaksional dalam tubuh partai, dan pendidikan politik agar partisipasi masyarakat meningkat. Kelima tujuan itu boleh jadi tidak tercapai sepenuhnya.

    Harapan agar partai politik membangun sistem dan bukan bertumpu pada ketokohan elite, khususnya yang memiliki sumber daya ekonomi berlimpah, tidak mudah dicapai. Padahal, dengan membangun sistem internal, partai berpotensi tumbuh sehat, sedangkan partai yang bertumpu pada elite tertentu akan lebih rentan begitu figur sentral ini tidak ada lagi. Tapi, sistem sirkulasi kepemimpinan yang sehat berbasis merit system hanyalah salah satu syarat bagi tumbuhnya partai yang sehat.

    Partai politik yang sehat membuka peluang bagi perkembangan demokrasi yang sehat, sebab prinsip dan etika politik yang sehat telah bersemai lebih dulu di dalam internal partai. Di dalam partai ditumbuhkan semangat keragaman di dalam upaya menemukan kesepakatan, bukan jenis pemaksaan untuk keseragaman. Sebab, demokrasi yang sehat harus memberi ruang bagi suara-suara yang beragam.

    Dalam ruang demokrasi, partai-partai yang berkuasa mestinya juga memberi ruang bagi partai oposisi, bukan malah membungkamnya. Partai oposisi dipandang sebagai sparring-partner agar demokrasi berjalan secara sehat, sebab fungsi-fungsi pemberian masukan, kritik, maupun kontrol memang diperlukan. Begitu pula di dalam internal partai, masukan, kritik, maupun kontrol diperlukan tanpa perlu menimbulkan perpecahan.

    Rakyat berkepentingan agar partai politik hidup secara sehat dan mendorong jalannya demokrasi yang sehat, bukan malah menyokong oligarki politik dan konglomerasi ekonomi. Peran sentral elite-terbatas di dalam sebuah partai akan mendorong terciptanya oligarki politik. Para elitenya cenderung mempertahankan dominasi mereka ketimbang membangun sistem kepemimpinan yang sirkulatif, sehingga lahir pemimpin-pemimpin baru secara periodik. Terlalu besarnya peran dan wewenang elite partai juga memperbesar peluang praktik-praktik nepotisme dalam politik, sehingga seseorang yang memiliki relasi tertentu dengan kekuasaan akan mudah melejit karier politiknya dibandingkan dengan kader yang telah bertahun-tahun mengabdi kepada partai.

    Begitu pula, partai yang sehat akan mendorong institusi-institusi negara lainnya untuk bersikap mandiri dalam menjalankan fungsinya sesuai amanat konstitusi. Bila partai politik sehat dan elitenya memahami benar pentingnya demokrasi yang sehat, institusi negara tidak akan mereka intervensi, sebab mereka menyadari bahwa independensi institusi tersebut penting bagi tegaknya demokrasi yang sehat. Bila elite lebih mengedepankan kepentingan politiknya sendiri, mereka tidak akan segan-segan mengintervensi institusi negara demi menjaga kepentingannya.

    Akankah partai yang sehat hanya sekedar harapan yang naif mengingat bagaimana realitas politik bekerja? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.