Harus Dicamkan oleh Suporter, Izin Turnamen Pramusim, Ujian untuk Mendapat Izin Kompetisi Resmi - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Kapolri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 20 Februari 2021 07:40 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Harus Dicamkan oleh Suporter, Izin Turnamen Pramusim, Ujian untuk Mendapat Izin Kompetisi Resmi

    Harus diingat oleh para suporter sepak bola di seluruh Indonesia, bahwa polisi juga akan memantau seluruh wilayah Indonesia dari perilaku suporter. Bukan hanya 4 kota yang ditunjuk menjadi tuan rumah oleh PSSI dan PT LIB. Semoga perilaku suporter di seluruh Indonesia akan lulus ujian protokol kesehatan dalam turnamen pramusim Piala Menpora, sehingga kompetisi resmi yang dituju dapat izin resmi karena suporter lulus ujian. Aamiin.

    Dibaca : 791 kali

    Banyak pihak yang sudah menduga bahwa izin kompetisi sepak bola nasional  yang terus tak dikeluarkan oleh kepolisan hanya soal waktu. Dalam artikel saya sebelumnya, bahkan agar tak bikin penasaran, sudah saya ulas tentang dua kemungkinan polisi tak memberikan izin, di luar alasan utama karena Covid-19. Kemungkinan itu pertama karena terkait iklim politik di Indonesia yang terus bergejolak. Kedua, masalah benang kusut persupoteran di Indonesia.Dan, pada akhirnya Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, Kamis (18/2/2021) dalam keterangan persnya, memberikan izin turnamen pramusim, serta meminta PSSI untuk benar-benar menjalankan turnamen pramusim dengan mematuhi protokol kesehatan.

    Bila banyak media yang mengungkap izin turnamen sepak bola pramusim dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai lampu hijau untuk PSSI  menggelar turnamen yang diberi nama Piala Menpora 2021 adalah titik terang bagi nasib sepak bola Indonesia, sebaiknya PSSI dan Klub serta seluruh stakeholder yang akan terlibat tetap wajib waspada.

    Sebab, Kapolri meminta para klub dan suporter mematuhi protokol kesehatan yang berlaku karena Piala Menpora 2021 akan menjadi acuan Polri untuk memberikan izin kompetisi resmi PSSI.

    Izin kompetisi resmi akan keluar dengan syarat Piala Menpora 2021 berjalan dengan lancar, sesuai protokol kesehatan, maka Polri akan mengizinkan Liga 1 dan Liga 2 dan turunannya kembali dapat digulirkan. Berikutnya, bila syarat itu bisa dipenuhi, tidak ada Klub dan suporter yang melanggar ketentuan,  hal ini akan menjadi evaluasi Polri hingga
     mengeluarkan izin kompetisi resmi.

    Sebelumnya, PSSI dan PT LIB sudah menyampaikan kepada media dan publik bahwa rencana Piala Menpora 2021 akan dihelat pada 20 Maret hingga 25 April 2021 dengan kontestan 18 klub dari Liga 1 dan 2 klub dari Liga 2 yang akan bentrok dalam  turnamen yang diselenggarakan di empat kota, yaituSolo, Malang, Bandung, dan Sleman.

    Ujian suporter bermartabat

    Atas izin langsung dari Kapolri untuk PSSI dan PT LIB menggelar turnamen pramusim Piala Menpora, sejatinya banyak pihak yang masih pesimis terhadap sebagian sikap suporter di Indonesia. Pasalnya, berdasarkan catatan kelam tentang perilaku dan ulah suporter sepak bola yang belum terdidik hingga tak cerdas intelegensi dan emosi, terjadi justru di luar stadion.

    Suporter suka bikin ulah dan rusuh di seputar stadion dan di jalan-jalan yang di lalui para suporter yang menuju stadion. Bahkan, saat ada laga kompetisi yang klubnya mendapat hukuman bertanding tanpa penonton, suporter fanatik tetap saja tak peduli dan merangsak masuk ke lingkungan seputar stadion demi mendukung langsung tim kebanggaannya, meski hanya di luar stadion, membuat kerumunan yang sering diakhiri dengan tindakan rusuh dan anarkis.

    Untuk itu, mengingat Polri memberikan tiket (izin) menggelar Piala Menpora yang hanya akan digelar di 4 kota, PSSI dan PT LIB jangan hanya berpikir bahwa bila di 4 Kota tersebut suporter dapat dikendalikan dan bisa tertib serta mematuhi protokol kesehatan ketat, disiplin menonton laga di rumah dari siaran langsung televisi, harus diingat, pesertanya ada 20 klub.

    Artinya di kurangi 4 klub yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan turnamen, maka masih ada 16 Kota yang rawan terjadi rusuh atau kerumunan suporter karena mau nonton bersama (nobar) dan sejenisnya demi fanatisme dan rasa memiliki.

    Percuma, 4 kota aman dan lancar menjadi tuan rumah, ternyata ada 1 atau 2 kota dari asal 16 klub lain yang suporternya melanggar protokol kesehatan, tentu hal ini akan menjadi rapor tak lulusnya ujian dari Polri untuk PSSI dan PT LIB.

    Berikutnya, betapa sia-sianya anggaran yang telah digelontorkan oleh setiap klub demi menyiapkan tim menghadapi kompetisi resmi, akibat turnamen pramusim yang dijadikan alat uji oleh polisi, dianggap tak lulus.

    Jadi, harus diingat oleh para suporter sepak bola di seluruh Indonesia, bahwa polisi juga akan memantau seluruh wilayah Indonesia dari perilaku suporter. Bukan hanya 4 kota yang ditunjuk menjadi tuan rumah oleh PSSI dan PT LIB.

    Semoga perilaku suporter di seluruh Indonesia akan lulus ujian protokol kesehatan dalam turnamen pramusim Piala Menpora, sehingga kompetisi resmi yang dituju dapat izin resmi karena suporter lulus ujian. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Supartono JW

    Sabtu, 6 Februari 2021 21:14 WIB

    Sepak Bola Akar Rumput Tak Bertuan, Orang Tua Cerdas dan Bijak Memilih Kompetisi

    Dibaca : 1.056 kali

    Bila anak Bapak dan Ibu, passionnya bukan sepak bola, terdeteksi tak memiliki Teknik, Intelegensi, Personaliti, dan Speed (TIPS) sebagai pesepak bola, jangan paksakan anak menggeluti sepak bola. Jadikan sepak bola olah raga hobi, dan biarkan anak berkembang sesuai.passion untuk kehidupannya kelak. Jangan anak di antar untuk bermimpi menjadi pemain timnas, bila di SSBnya saja tak masuk standar TIPS pemain. Jadilah orang tua yang bijak. Bila Bapak dan Ibu, menyadari bahwa anaknya ternyata passionnya di sepak bola dan memiliki TIPS yang memenuhi standar, jangan ambisi, jangan egois, jangan menyakiti SSB yang telah membina anaknya terlebih dahulu, dan penjadi petualang, masuk di berbagai tim yang mengimingi gratisan pun jumawa karena merasa anaknya hebat. Ini justru menjatuhkan kecerdasan dan personaliti anak, attitude anak. Hingga malah akan dikucilkan oleh berbagai pihak. Ingat, timnas itu hanya butuh 11 pemain, line-up 18 pemain atau didaftarkan  23 pemain atau 30 pemain dalam sebuah event. Kembali ke masalah ada operator kompetisi baru dari pihak swasta yang dihelat baik oleh pemain baru maupun dari Klub Liga 1, kepada para orang tua, lihatlah latar belakangnya, visi-misi dan tujuannya, lihat anggarannya. Kepada publik sepak bola nasional, hingga artikel ini saya tulis, inilah fakta sepak bola di Indonesia yang terus dibiarkan kusut. Menyedihkan.