Memahami Berbagai Kritik Ilmu Tasawuf Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin - Analisa - www.indonesiana.id
x

Tarian Sufi

maulida arifatul munawaroh

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Februari 2021

Senin, 22 Februari 2021 06:26 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Memahami Berbagai Kritik Ilmu Tasawuf Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin

    Pemikiran mengenai Ilmu Tasawuf oleh Imam Al-Ghazali yang tertuang dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah mendapatkan banyak pujian dan apresiasi berbagai kalangan. Banyak yang mempelajari dan mengembangkan pemikirannya hingga saat ini. Namun tak bisa dipungkiri pemikirannya mengenai ilmu tasawuf juga mendapatkan beberapa kritikan dari para tokoh maupun ulama. Selain itu metodologi yang ia gunakan terkait dengan aliran mistisisme karena tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.

    Dibaca : 610 kali

    Kitab Ihya’ Ulumuddin mempunyai peranan dan pengaruh sangat besar dalam membendung serangan materialisme dan ateisme, yang bertujuan meruntuhkan agama dari fondasinya. Serangan terhadap ajaran-ajaran agama Islam sedemikian gencar dan berbagai macam cara. Bahkan sinar keagamaan nyaris dimatikan. Oleh karena itu pula, Imam Al-Ghazali memberi judul bukunya dengan Ihya’ Ulumuddin, dalam bahasa Inggris disebut Revival of Religious Sciences yang berarti “Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama”.(Fathiyana 2011)Intisari Kitab Ihya' Ulumuddin
    Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin ini, Al-Ghazali menyusun menjadi empat bab utama dan masing-masing bab utama dibagi kedalam sepuluh pasal. Keempat bab utama itu adalah bab utama tentang ibadah (rubu’ al ibadah), bab utama kedua adalah berkenaan dengan adat istiadat (rubu’ al ’adat), bab utama ketiga adalah berkenaan dengan hal-hal yang mencelakakan (rubu’ al-muhlikat) dan bab utama keempat berkenaan dengan maqamat dan ahwal (rubu’ al-munjiyat). (Fathiyana 2011)

    Ilustrasi Kitab Ihya Ulumuddin
    Tasawuf pada substansinya adalah sebuah upaya seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT. (taqarrub ilallah) dalam rangka mencapai ridha-Nya dengan mujahadah melalui latihan (riyadah) spiritual dan pembersihan jiwa, atau hati (tazkiyah al-nafs). Jiwa dan tubuh saling berhubungan, sehingga apabila jiwa sempurna dan suci, maka akan termanifestasi pada perbuatan tubuh yakni perbuatan baik yang dihiasi akhlak dan budi pekerti yang luhur. Praktisi tasawuf (para sufi) merasa hidupnya lebih bermakna, indah, dan penuh kesederhanaan, karena segala sesuatunya dijalani dengan ikhlas, syukr, sabr, qana’ah, dan tawakal atas segala ketentuan Allah.(Said 2014)

    Pemikirannya mengenai tasawuf pada kitab ini menurut hemat penulis memiliki kaitan dengan mistisisme. Menurut KBBI, mistik adalah subsistem yang ada dalam hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan; tasawuf; suluk. Sedangkan mistisisme merupakan ajaran yang menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

    Mistisisme dalam Islam disebut dengan Tasawuf. Lebih spesifik lagi, kaum Orientalis Barat menyebut Sufisme untuk menjelaskan tentang mistisisme Islam yang tidak digunakan oleh agama lainnya.

    Sufisme merupakan sebuah jalan kebenaran dan petunjuk yang asal-usulnya adalah pemusatan diri dalam ibadah, penghadapan diri sepenuhnya kepada Allah, penghindaran dari hiasan dan pesona dunia, penjauhan diri dari kelezatan, harta, dan pangkat yang dikejar-kejar banyak orang dan pemisahan diri dari orang lain untuk bersendiri dan beribadah. Maka, orang-orang yang lebih mengkonsentrasikan diri pada ibadah itu digelari Sufi. (JUNEDIN 2018).

    Hal tersebut tercermin dalam pemikiran Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Salah satunya pada memahami dan menjelaskan mengenai sifat Tuhan wujud. Al- Ghozali katakan dalam bukunya Ihya’ulum ad-din:
    Barang siapa yang memandang dunia karena itu karya Tuhan, dan mengenalnya karena itu karya Tuhan, dan mencintai karena itu karya Tuhan, tidak memandang kepada apapun selain Tuhan, dan tidak mengetahui apapun selain Tuhan dan tidak mencinta apapun selain Tuhan. Ia adalah penyatu (muwahhid) sejati, yang tidak memandang apapun selain Tuhan, bahkan tidak memandang kepada dirinya untuk dirinya sendiri, melainkan karena ia hamba Tuhan. Orang itu dinamakan sirna dalam penyatuan dan disebut sebagai sirna dari dirinya sendiri.

    Ilustrasi Tarian Sufi yang sering dikaitkan dengan keberserahan diri pada Tuhan
    Dengan adanya sifat-sifat Tuhan, baik yang negatif (salbiyah) maupun yang positif (ma'ani). Telah memberikan petunjuk bahwa Tuhan sebagai Dzat yang berkodrat, beriradat. Maka untuk mendekatkan diri dengan amal sholeh, menurutnya semua yang kita lakukan harus karena Tuhan semata, agar kita selalu di ridhoi untuk menuju kejalanNya yang lurus. dan beraf‟al, dan secara aktif mengusai alam semesta.

    Pada sebagian pemikir tentunya akan sulit menerima cara berpikir dengan tasawuf atau sufisme ini. Seperti para rasionalis misalnya, mereka mengedepankan akal sebagai sumber pengetahuannya yang benar.(Sudarminta and Gallagher 2002, 49–51) Sedangkan cara berpikir Al-Ghazali akan sulit diterima oleh akal manusia karena perlu didasari akan keyakinan atau dalam Islam disebut dengan iman.

    Pembuktian akan adanya Tuhan saja masih memiliki banyak pertentangan, apalagi memiliki kedekatan hingga menyatu seperti yang dikatakan Al-Ghazali. Selain itu, tak bisa dipungkiri untuk menuju sampai menjadi sufi pun menurut sejarah Al-Ghazali sempat mengalami skeptis juga hingga akhirnya mampu meninggalkan hiruk pikuk dunia yang pernah ia genggam untuk akhirnya berserah padaNya.(Rahman 2017, 70–72)

    Meninggalkan kehidupan keduniawian dari pikiran dan tidak peduli lagi pada masalah harta akan sangat bertentangan dengan kaum kapitalis. Bagaimana bisa kehidupan bisa dilepas begitu saja dari dunia dan segalanya yang telah dimiliki. Terlebih kepopuleran dan jabatan yang dimiliki Al-Ghazali sebelum mendalami ilmu tasawuf ini tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Dalam kitabnya, alam dan seisinya memiliki pemilik yang sesungguhnya yakni Allah. Maka seharusnya kita tak seharusnya bersikap angkuh pada hal-hal yang dititipkan. Sedangkan bagi para ateis yang tidak percaya akan adanya Tuhan, mungkin akan menentang segala pemikirannya yang mistik dalam kitab Ihya’ Ulumuddin ini karena semua berdasar kepada Tuhan yang akan sulit diterima oleh ilmu pengetahuan (science).

    Pemikiran Al-Ghazali dalam kitab ini tentunya tak lepas dari berbagai kritik dan komentar negatif dari berbagai ulama. Beberapa dari mereka mengganggap hadis yang terkandung di dalamnya terdapat hadis maudhu’. Ibnul Jauzi dan Al-Albani merupakan salah satu diantaranya. Hal ini karena ada perawi bernama Muhammad bin Ubaidillh bin Abu Rafi’ Al Hasyimi Al-Kufi yang dinilai Munkarul hadits oleh sebagian ulama jarh.

    Tak hanya itu, terdapat juga hadits palsu yang tidak terdapat sanadnya seperti pada hadits yang artinya “Sedikit taufiq lebih banak dari Ilmu yang banyak”. Terdapat juga hadits yang dinilai palsu karena sanadnya perawi Umar bin Subh alKhurasani. Dalam Ibnu Hajar ia merupakan perawi matruk atau ditinggalkan periwayatannya karena sangat lemah. Seperti pada hadits yang artinya “Agama Islam dibangun di atas kebersihan”.

    Imam Tajuddin as-Subkhi, Ulama’ dari Mesir juga melakukan takhrij hadis yang menelusuri periwayatan hadis dalam kitab ini dari segi sanadnya. Hasilnya ditemukan sekitar 900 hadis yang tidak ditemukan sanadnya. Selain itu beberapa komentar negatif juga dilontarkan oleh Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid, Al-Hafidz Inul Jauzi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Adz-Dzahabi, dan Ibnu Katsir yang mana memiliki pembahasan yang sama mengenai kekurangan dari kitab ini berupa hadits-hadits yang batil, riwayat-riwayat yang lemah, palsu, gharib, munkar bahkan maudhu’. (Afzainizam 2018)

    Meski banyak ulama yang mengkritisi hadits-hadits dalam kitab tersebut, tetapi terdapat pula pembelaan pada kitab Ihya’ Ulumuddin ini. terdapat pendapat bahwa metode tahrij hdits oleh Imam Ghazali tidak jauh berbeda dengan yang dipakai as-Subkhi, al-Iraqi, hanya saja mungkin rujukan hadits yang digunakan berbeda dengan yang lainnya. seperti contoh kritik oleh Imam Al-Albani dan Ibnu Jauzi terhadap hadits yang dianggap maudhu’ karena perawi yang dianggap Munkarul hadits. Al-Iraqi juga mengatakan bahwa hadits tersebut memiliki sanad yang dhoif. Namun, Az-Zabidi memiki pandangan berbeda yang menguatkan hadits tersebut dalam Ithaf as-Sadah al Muttaqin(Murtaḍā az-Zabīdī 1433).

    Selain itu pemahaman Imam Ghazali dalam Ilmu Hadits seharusnya tak perlu diragukan lagi karena ia juga telah membuktikan dalam karyanya yang membahas mengenai ilmu tersebut dan konsep serta perdebatan mengenai dinamika hadis dalam kitab Al-Mustashfa. Beberapa ulama lain juga berusaha membuktikan keontetikan hadis dalam kitab Ihya’ Ulumuddin ini. Imam Al-Hafidz Zainuddin melakukan takhrij hadist menyeluruh dan mengkaji 4500 hadis dalam kitab itu. Hasilnya menunjukkan bahwa kebanyakan hadits didalamnya memiliki sanad yang bersambung. Hanya sedikit yang belum ditemukan sanadnya tetapi bukan berarti maudhu’.

    Maka, dari segi kuantitas hadits Imam Gghazali hampir bisa disandingkan dengan Sunan Abu Dawud dan an Nasa’I, bahkan melebihi yang terdapat pada Sunan Ibnu Majah. Selanjutnya, Ulama’ dari Zabid Yaman yaitu Muhammad bin Muhammad bin Murtadlo az-Zabidi juga melakukan penulusuran riwayat hadits dengan mendalam khususnya dari sanad-nya, termasuk yang belum ditemukan oleh Al-Iraqi. Hasilnya ia menemukan seluruh sanad hadits yang ada pada kitab Ihya’ Ulumuddin. (Afzainizam 2018)

    Melihat dari jejak perjalanan takhrij hadits yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu dapat disimpulkan bahwa otenstas hadits yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin tak bisa diragukan lagi. Menentukan derajat hadits dengan cepat tidaklah dianjurkan, karena bisa saja yang dirasakan tidak ditemukan sanad-nya adalah karena keterbatasan sumber yang dimiliki. Sehingga bisa disempurnakan pencarian periwayatan dan sanad-nya oleh ulama’ berikutnya di masa mendatang seperti yang dilakukan oleh Az-Zabidi.

    Pada pembahasan selanjutnya yaitu mengenai memahami tafsir sufi yang juga sering disebut dengan tafsir isyari, yang mana pengertiannya menurut versi al-Zarqani adalah “menafsirkan Alquran tidak dengan makna zahir, melainkan dengan makna batin, karena ada isyarat yang tersembunyi yang terlihat oleh para sufi. Isyarat-isyarat itulah yang direnungkan oleh para sufi, sehingga mereka sampai pada makna batin Alquran. Maka dari itu urutan isi dari kitabnya Ihya’sengaja diatur sedemikian rupa untuk menggambarkan bahwa perjalanan menuju Allah harus dimulai dari yang bersifat zahiriyah, baru kemudian meningkat kepada aspek-aspek yang bersifat batiniyah.

    Sebelumnya al-Ghazali membagi pengetahuan kepada tiga tingkat, yaitu pengetahuan orang awam (menerima berita tanpa penyelidikan), pengetahuan kaum intelektual (menyelidiki kebenaran berita dan menganalisis kemudian menyimpulkan), dan pengetahuan kaum sufi (mendengar berita, langsung mendatangi dan meyaksikan) yang berbasis intuitif. Pengetahuan yang ketiga inilah yang paling valid menurut al-Ghazali, pengetahuan seperti inilah yang disebut dengan makrifat. Makrifat dalam pengertian al-Ghazali adalah seperti pengetahuan yang dijalani para sufi.

    Dalam bidang tasawuf ini terdapat beberapa ulama yang sangat kritis terhadap hasil pemikiran dan penafsiran al-Ghazali ini terhadap teks-teks agama yang menggunakan epistemologi intuitif yang dianggap bersifat subyektif. Salah satinya Al-Tartusyi yang menuduh Imam Ghazali telah meninggalkan ilmu pengetauan sebab ia telah beralih ke dunia ilmu-ilmu khawatir (rahasia hati) yang mana diartikan terperosok ke dalam ilmu was-was setan kemudian dijadikan sumber pengetahuan yang paling benar. Lalu Al-Tartisyi ini menyimpulkan bahwa Al-Ghazali tidak paham mengenai hakekat ilmu tasawuf. (Said 2014)

    Abdullah al-Mazari juga mengomentari pernyataan al-Ghazali tentang ilmu makna (batin) sebagai ilmu yang tidak semua orang bisa memperolehnya, dianggapnya sebagai bias dari ilmu filsafat yang pernah ia pelajari. Selain itu Ibn Al-Jauzi juga banyak mengkritik pemikran Al-Ghazali ke dalam kitab berjudul "Talbis Al-Iblis" (AL-JAWZI 2012). Selain mengenai otentitas, ia juga mengecam kehidupan sufi (zuhud) yang dijalani Al-Ghazali dianggap irrasional bahkan ia menganggap itu merupakan penyiksaan jiwa dengan melepaskan semua kehidupan dunia. Padahal menurutnya Nabi Muhammad SAW saja tidak melakukan hal tersebut. Selain itu ia menyatakan pula "alangkah murahnya Al-Ghazali menjual fikih dengan tasawuf". (Said 2014)

    Dari pemaparan di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa pemikiran Al-Ghazali dapat dilihat dari kacamata mistisme yang mana dalam Islam disebut Tasawuf atau Sufisme. Pemikirannya tak lepas dari kritikan yang cukup pedas pada konsep tasawuf dalam kitab Ihya’Ulumuddin yang juga berbasis intuitif. Hal tersebut karena dianggap keluar dari epistimoogi tafsir yang mana sering digunakan oleh para ulama salaf. Selain itu juga mungkin terdapat anggapan tak masuk akal terlebih bagi para rasionalis dan ateis.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.