Paceklik Investasi Asing di Indonesia, Mengapa Kalah dari Vietnam? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Septi Yadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Januari 2021

2 hari lalu

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Paceklik Investasi Asing di Indonesia, Mengapa Kalah dari Vietnam?

    Salah satu penyebab investor asing enggan menanamkan modal ke Indonesia adalah angka FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi asing langsung yang kurang ciamik. Dari hal ini Indonesia kalah dibanding Vietnam. Hhanya soal itu ataukah masih ada faktor lain?

    Dibaca : 522 kali

    Kabar mengenai hengkangnya Tesla Inc untuk menanamkan modalnya ke Indonesia cukup bikin publik kecewa. Sebab, perusahaan kawakan milik Elon Musk tersebut lebih memilih negara lain. Kegagalan Indonesia menarik investor asing ini bukan untuk pertama kalinya, Indonesia juga sempat gagal ketika Apple memilih investasi ke Vietnam. Lantas, mengapa Indonesia nampak masih molor ketika investasi Vietnam berlari?

    Salah satu penyebab investor enggan menanamkan modal ke Indonesia adalah angka FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi asing langsung yang kurang ciamik. Angka FDI merupakan indikator dari kepercayaan investor asing dalam berkomitmen untuk investasi jangka panjang pada sebuah negara. FDI diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja, menyerap kelebihan pasokan tenaga kerja, dan menutup kesenjangan keuangan. 

    Menurut CEIC Data, hingga September 2020, proyek penanaman modal asing di Vietnam sudah mengucurkan USD 13.76 miliar atau sekitar 194 miliar. Sedangkan Indonesia hanya memperoleh USD 7.92 miliar atau sekitar 7 miliar dari FDI. 

    Selain FDI, investasi Vietnam berlari karena adanya kemudahan berinvestasi yang hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk perizinan. Sejak reformasi atau Doi Moi Vietnam pada tahun 1986, keberhasilan ekonomi Vietnam dalam ekonomi pasar Vietnam berorientasi sosialis tetapi tanpa pengawasan yang terlalu ketat. Berkat Doi Moi, swasta mendapat tempat dalam memajukan perekonomian nasional. Mereka diantaranya memperoleh izin mengelola lahan. Sebelumnya lahan dikelola secara bersama-sama. 

    Kemudian, pemerintah melakukan deregulasi yang membuka pintu lebar bagi investasi asing yang membuat Vietnam menarik bagi investasi asing. Berdasarkan data resmi laju pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu tahun 2008-2018 termasuk yang tercepat. Berada pada 5,03 pada 2012, mencapai 6,81 pada tahun 2017 serta 7,1 pada tahun 2018. Sejak tahun 2008, pertumbuhan ekonomi Vietnam tak pernah di bawah 5%. 

    Ketertinggalan FDI bukan satu-satunya faktor Indonesia dibalap oleh Vietnam. ICOR atau Incremental Capital Output Ratio atau rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi (output) dianggap terlalu tinggi dibandingkan dengan negara Asia lainnya. 

    ICOR adalah tolak ukur bagi seberapa besar investasi yang diperlukan untuk meningkatkan satu unit output atau Produk Domestik Bruto (PDB). 

    Menurut Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM, Yuliot, ICOR atau rasio modal tambahan Indonesia pada tahun 2020 mencapai 6,8% alias lebih tinggi dibandingkan Malaysia 5,4 persen, Filipina 4,1 atau bahkan Vietnam yang 3,7 persen. Semakin tinggi ICOR suatu negara, maka diperkirakan biaya ekonominya juga semakin tinggi dan hal ini menggerus modal pelaku usaha.

    Oleh karena itu dibutuhkan strategi untuk menurunkan persentase ICOR melalui penurunan suku bunga riil, optimalisasi investasi yang memberikan return cepat dan berorientasi ekspor, efisiensi produksi melalui pengembangan sumber energi murah, pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) dan reformasi pasar ketenagakerjaan, serta digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi underutilized assets bahkan resources.

    Jika pada akhirnya investasi Vietnam berlari, begitu juga dengan negara Asia lainnya, mengapa Indonesia masih molor dan minim aksi? Kepada seluruh elemen masyarakat dan jajarannya, apakah Anda tidak menginginkan Indonesia terlihat gemilang dan menjadi yang terdepan? Sepertinya, sudah saatnya kita merombak, untuk masa depan. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.