Mengapa Kesenjangan Sosial Makin Terlihat - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Melva Dian Nurani 2001111627

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Februari 2021

Kamis, 25 Februari 2021 08:24 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Mengapa Kesenjangan Sosial Makin Terlihat

    Assallammualaikum waramahmatullahi wabarakatuh, Perkenalkan nama saya: Melva Dian Nurani, Saya berasal dari: Universitas yang ada di Indonesia, tepatnya pada Pulau Sumatra yaitu Universitas Riau. Saya membuat judul ini, karena ingin menceritakan pengalaman saya sehingga saya ingin menulis sebuah karya disini.

    Dibaca : 430 kali

              Kenapa Kesenjangan Sosial Makin Terlihat


    1. Gejala Kesenjangan Sosial


        Menurut pengalaman hidup saya kesenjangan sosial ini benar adanya. Fenomena  kesenjangan sosial ini dapat terjadi didalam ruang lingkup keluarga besar  seseorang. Contohnya: keluarga besar ayah saya pribadi. Kesenjangan ini muncul akibat didalam sebuah keluarga besar saya ada yang memiliki harta yang melimpah, rumah yang megah. Sedangkan  di dalam keluarga besar ayah saya ada yang tidak memiliki kekayaan. Mereka tinggal disebuah tanah fasilitas desa dengan rumah papan sederhana. Dengan begitu sangat terlihat kesenjangan sosial di dalamnya.


         Fenomena ini membuat keluarga yang memiliki harta yang melimpah tersebut berlaku semena- mena terhadap anggota keluarganya yang terbilang miskin.  Pada suatu ketika disaat masa-masa paceklik di desa ayah saya tersebut tiba.  Keluarga ayah saya yang terbilang miskin tersebut tidak mempunyai mata pencaharian yang lain, karena pada saat itu mencari pekerjaan sangatlah susah. Sehingga akibat tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga keluarganya tersebut, ia dan keluarganya pernah tidak memiliki ketersediaan bahan pangan untuk dimasak. Pada akhirnya mereka hanya makan menggunakan nasi hangat dan garam saja. Sebab keluarga ayah saya yang memiliki harta melimpah tersebut dan kebetulan juga memiliki sebuah warung sembako itu tidak pernah mau membantu keluarga ayah saya yang terbilang miskin ini. 


         Sehigga pada akhirnya keluarga ayah saya yang terbilang kurang mampu ini, mencari cara lain agar bisa memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan pangannya, yaitu dengan mencari ikan belut. Keesokan harinya keluarga ayah saya yang terbilang kurang mampu  ini merasa bahwa dirinya dibeda-bedakan dengan anggota keluarga yang kaya tersebut. Sebab disaat dirinya mengalami kesulitan tidak ada yang membantunya, sedangkan kepada anggota keluarga yang lainnya si orang kaya ini mau membantu mereka. Betapa sedihnya hati sebuah keluarga ayah saya yang kurang mampu  ini, sebab ia merasa sangat di asingkan sebagai anggota keluarga si kaya tersebut. Pada akhirnya setelah berhari hari keluarga ayah saya yang kurang mampu ini mencari ikan belut tersebut membuahkan banyak hasil. 


        Sehingga hasil tangkapan belutnya tersebut dijual kepada agen penampung ikan belut di daerah keluarga  ayah saya tinggal. Meski  hasilnya tidak seberapa namun itu sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena jika mereka tidak usaha sendiri maka tidak akan ada orang lain yang mau membantunya justru makin senang jika keluarga si kaya melihat adiknya yang kesulitan bahkan merasa sangat angkuh sebab ia merasa bahwa dirinyalah yang mampu menjadi orang kaya didesa tersebut.

    Suatu saat, ketika si anak keluarga kurang mampu  ini ingin membeli jajanan diwarung yang dimiliki oleh keluarga si kaya tersebut, anak ini ditolak untuk membeli jajan diwarung tersebut lalu diusir dan didorong hingga terjatuh. Saat itu anak ini sangat merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Lalu setibanya dirumah, anak ini bercerita kepada ibu dan ayahnya. Kemudian hal itu menjadi pengalaman buruk untuk keluarga si miskin tersebut, karena merasa sangat dibedakan dengan anggota keluarga yang lain.

    Pada suatu hari keluarga ayah saya yang kurang mampu ini mendapat telepon dari anggota keluarga yang tinggal di luar daerah. Pada saat itu abang dari keluarga ayah saya menawarkan kepada keluarga ayah saya yang kurang mampu itu untuk ikut tinggal bersamanya dan untuk membantu mengelola perkebunan kelapa sawit yang ia miliki. Ia menawarkan jika keluarga si  kurang mampu  tadi mau ikut tinggal bersamanya ia akan memberikan 1 hektare kebun kelapa sawit untuk keluarga si kurang mampu ini. Kemudian keluarga si kurang mampu tadi  memutuskan untuk menyetujui penawaran abangnya tersebut. Sehingga sejak 2009 keluarga kurang mampu  itu pindah dan ikut tinggal dengan abangnya tersebut.

    Kehidupannya pun, kini semakin lebih baik dibandingkan tinggal didesanya dulu bersama dengan orang yang angkuh dengan kekayaan yang ia miliki dan yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan keluarga kaya yang lain. Hingga saat ini keluarga kurang mampu ini sudah mulai memperbaiki kehidupannya agar bisa membuktikan bahwa dirinya bisa seperti mereka yang selalu mengasingkannya didalam keluarga tersebut. Sungguh miris fenomena kesenjangan sosial ini ternyata tidak hanya ada didalam masyarakat saja namun didalam lingkup sebuah keluarga besar juga dapat terjadi dan sangat nampak kesenjangan sosial tersebut. 
           

            Sejak keluarga si kurang mampu ini pindah ke sebuah daerah yang abangnya tinggal tersebut, mereka mulai merintis kehidupan pertama mereka setelah meninggalkan kehidupannya di daerah sebelumnya. Saat mereka pertama datang didaerah abangnya tersebut ia dan keluarga memutuskan tinggal disebuah rumah kontrakan kecil, sebab mereka merasa tidak enak dengan abang dan keluarga abangnya tersebut jika berlama-lama tinggal dirumah abangnya tersebut. Pada saat mereka pindah anak mereka saat ini sudah kelas 3 sekolah dasar. Maka pada saat mereka pindah tersebut mereka lansung mengurus surat pindah sekolah untuk anaknya, dan langsung mendaftarkan anaknya ke sekolah yang baru ditempat tinggal mereka yang baru saat ini.

    Namun pada saat sang ibu mendaftarkan anaknya disekolah yang baru dan ditempat tinggal baru mereka, ada sebuah hambatan yakni anak dari keluarga yang kurang mampu ini tidak diterima oleh pihak sekolah tersebut dengan alasan kuota sekolahnya sudah penuh.  Jadi karena hal itu sang ibu dari keluarga orang miskin tadi beralih ke sebuah sekolah yayasan swasta dan berniat untuk mendaftarkan anaknya tersebut ke sekolah yayasan swasta itu. Ketika sudah sampai dan mencoba untuk mendaftarkan anaknya tersebut dengan penuh rasa syukur, akhirnya anaknya dapat diterima disekolah yayasan tersebut,. Saat itu anak keluarga si kurang mampu ini kini memasuki  kelas 3 di sekolah yayasan swasta tersebut.

          Setelah itu suatu hari sang ayah dari keluarga kurang mampu ini mulai merintis pekerjaannya untuk mengelola perkebunan sawit milik abangnya tersebut. Tidak hanya itu sang ayah tersebut juga mencari pekerjaan sampingan yakni sebagai tukang cari pakan sapi. Pada saat itu hanya dengan gaji 400 ribu perbulan. Ayah dari keluarga kurang mampu ini hari demi hari banyak mempelajari tentang bagaimana cara pengolahan perkebunan kelapa sawit tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal didaerah sang abang tersebut, keluarga kurang mampu ini sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan.

    Meski saat itu adalah masa-masa sulit bagi mereka karena mereka memulai kehidupan rumah tangganya dari nol kembali jadi banyak juga suka duka yang mereka alami. Beda halnya dengan keluarga yang tinggal didaerah sebelumnya, mereka selalu hidup enak dengan harta kekayaan yang mereka punya serta harta dari hasil sepeninggalan orang tua. Sedangkan sang keluarga kurang mampu ini tidak pernah diberi pekerjaan saat hidup disana, bahkan untuk makan saja mereka kesulitan.  Entah hal apa yang membuat mereka membedakan keluarga si kurang mampu ini, hingga akhirnya keluarga sing kurang mampu ini berusaha dengan jerih payahnya sendiri untuk memperbaiki kehidupannya. 

       Saat sudah tinggal didaerah abangnya, iapun masih belum merasakan kemudahan dalam mencari rezeki. Hingga pada saat sang anak yang masih bersekolah membutuhkan biaya untuk sekolah itupun terkadang sering terlambat membayar uang sekolahnya sebab sekolahnya saat itu adalah swasta. Pada saat sekolah sang anak dari keluarga si kurang mampu inipun tidak pernah membawa uang saku saat ke sekolah beda halnya dengan anak-anak keluarga yang lain, yang saat itu mereka bersekolah dengan membawa uang saku diatas Rp5000 rupiah. Pada saat itu uang Rp 5000 rupiah sudah terbilang sangat besar untuk ukuran uang saku anak kelas 3 sekolah dasar. Namun hal itu tidak dapat dirasakan oleh sang anak si kurang mampu ini.

    Begitupun dengan sang istri yang terkadang saat tiba tidak memiliki ketersediaan uang dan bahan pangan di rumahnya, iapun pergi ke warung sembako dan sayuran terdekat yang dekat dari rumahnya untuk berhutang. Tujuannya, agar dapat memasakkan makanan untuk sang suami yang sedang susah mencari rezeki, dan untuk anak mereka. Nanti jika sudah menerima gaji dari hasil usaha suaminya hutang tersebut akan dibayar olehnya.

    Kehidupan mereka pun terus berjalan seperti itu selama lebih kurang  2 tahun. Tiba pada suatu saat setelah selama ini bekerja beberapa bulan dan mengelola perkebunan kelapa sawit sang abang, sang ayah dari keluarga si kurang mampu ini diberi gaji dan diberi satu hektare kebun kelapa sawit untuk  mereka sesuai janji yang mereka tawarkan seperti saat sebelum pindah kedaerah sang abang ini. Sejak saat itu keluarga si kurang mampu inipun dengan telaten merawat dan mengelola perkebunan kelapa sawit milik abang nya tersebut dan mengelola kebun kelapa sawit miliknya tersebut yang masih membutuhkan banyak perawatan agar tumbuh dengan subur agar dapat berbuah yang banyak serta menjadi kebun yang terawat.

    Saat itu sang keluarga kurang mampu ini selalu merawat dan mengelola perkebunan kelapa sawit tersebut dengan telaten bahkan anaknya yang masih sekolah kelas 3 sd pun ikut serta dalam mmerawat kebun sawit milik abangnya sang ayah kurang mampu dan kebun sawit yang baru diberikan kepada keluarga si kurang mampu ini. Susah senang mereka lalui bersama selama dipercayai oleh abangnya untuk mengelola perkebunan kelapa sawit tersebut.

    Selang beberapa tahun setelah bersusah payah mengelola perkebunan kelapa sawit tersebut, kehidupan sang keluarga kurang mampu ini sudah mulai lebih membaik dari sebelumnya, karena kebun yang mereka miliki sudah mulai berbuah banyak sehingga bisa untuk memnuhi kebutuhan hidup mereka yang sederhana itu. Suatu hati ketika ada pembagian warisan sang orang tua mereka, si keluarga kurang mampu ini mendapatkan sedikit hasil warisan tersebut yang mereka manfaatkan untuk membeli sebidang tanah pekarangan yang tak begitu luas dan juga mereka membangun sebuah rumah sederhana untuk mereka tinggali nanntinya sehingga mereka tidak perlu lagi hidup dirumah kontrakan seperti kemarin saat baru merintis tinggal didaerah tempat abangnya tinggal.  Dan saat itu anaknya sudah beranjak dewasa saat itu, kehidupan si kurang miskin inipun kini semakin membaik. Dan keluarga yang dahulu bersenang-senang menikmati harta orang tua kini mereka yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

         Meskipun didalam sebuah keluarga besar ada sedikit perbedaan dalam segi ekonomi sebaiknya jangan terlalu membeda- bedakannya antara si kaya dan si miskin tersebut. Sebab sangat tidak etis bahwa didalam hubungan darah saja bisa terdapat kesenjangan sosial yang sangat menajam. Seharusnya didalam sebuah keluarga jika terdapat perbedaan dalam segi ekonomi bisa saling membantu dan menutupi kekurangan anggota keluarga yang terbilang miskin tersebut, bukan malah mengasingkannya dan membeda bedakannya seperti itu.

    Serta sebaiknya kita harus selalu bekerja keras dan pantang menyerah walaupun terdapat banyak kesenjangan didalam lingkup keluarga tersebut. kemudian meski terdapat ikatan darah didalamnya tidak menutup kemungkinan akan terjadi kesenjangan. Maka dari itu bekerja keraslah demi kehidupan mu yang lebih baik jangan berpangku tangan kepada anggota keluarga yang lain. sebab hanya dirimulah yang mampu mengubah kehidupan mu agar dapat menjadi lebih maju hingga kesenjangan tersebut tak terlihat lagi. Terima kasih dari penulis.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.