Tidak Aneh Bila Kepercayaan Rakyat kepada DPR dan Parpol Rendah - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 25 Februari 2021 12:05 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Tidak Aneh Bila Kepercayaan Rakyat kepada DPR dan Parpol Rendah

    Anggota DPR lebih kerap bertindak sebagai ‘penyambung lidah’ partai ketimbang ‘pelantang’ suara rakyat yang memilih mereka melalui pemilihan legislatif. Kata ‘Perwakilan Rakyat’ dalam institusi DPR telah mengalami erosi makna, sebab kenyataannya kehendak rakyat jarang diadopsi oleh pimpinan dan anggota DPR.

    Dibaca : 989 kali

     

    Dua hasil survei baru-baru ini dirilis oleh dua lembaga, yaitu Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia. Salah satu temuan penting dari survei tersebut ialah bahwa kepercayaan publik kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan partai politik berada di urutan paling bawah dibandingkan dengan kepercayaan publik kepada institusi publik lainnya.

    Hasil survei LSI pada 25-31 Januari 2021 itu menunjukkan bahwa sebanyak 71% responden menyatakan percaya kepada DPR dan 65% mempercayai partai politik. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kepercayaan masyarakat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pemerintah pusat, Presiden, bupati/walikota, gubernur, hingga TNI yang tertinggi. Hasil serupa diperlihatkan oleh survei Indikator Politik Indonesia. Tingkat kepercayaan masyarakat kepada DPR dan partai politik juga berada di urutan buncit, bahkan dengan angka yang lebih kecil, masing-masing 52,6% dan 47%.

    Mengapa begitu? DPR dan partai politik seyogyanya becermin diri, mengapa rakyat kurang memercayai mereka dibandingkan kepada institusi lain?

    DPR dan partai politik sesungguhnya bukan dua institusi yang terpisah sama sekali, sebab para anggota DPR adalah politisi anggota partai politik. Hubungan keduanya demikian erat, sebab anggota fraksi-fraksi di DPR disusun oleh partai dan menyuarakan kebijakan partai. Sepanjang yang kita saksikan, hubungan DPR dengan partai jauh lebih erat dibandingkan hubungan DPR dengan rakyat, walaupun dari namanya DPR adalah institusi yang mewakili rakyat.

    Para pimpinan dan anggota DPR lebih tepat disebut sebagai ‘petugas partai’, sebab partailah yang mengendalikan fraksi-fraksi di DPR. Lagi pula, anggota DPR lebih kerap bertindak sebagai ‘penyambung lidah’ partai ketimbang ‘pelantang’ suara rakyat yang memilih mereka melalui pemilihan legislatif. Kata ‘Perwakilan Rakyat’ dalam institusi DPR telah mengalami erosi makna, sebab kenyataannya kehendak rakyat jarang diadopsi oleh pimpinan dan anggota DPR.

    Contoh konkret hal itu terlihat dalam penyusunan UU KPK revisi, UU Minerba, hingga UU Cipta Kerja. Betapa rakyat telah menyuarakan aspirasinya kepada pemerintah dan DPR, mahasiswa dan pekerja turun ke jalan, para akademisi menyampaikan pandangannya, namun para pimpinan dan anggota DPR seolah-olah menutup telinga. Mereka lebih mendengarkan kehendak dan kemauan para elite politik, khususnya yang menjadi pimpinan partai politik.

    Menyaksikan realitas seperti itu, apakah hasil survei LSI dan Indikator merupakan keanehan? Rasanya tidak. Dalam relasi politik dengan pemerintah/eksekutif maupun institusi lainnya, hubungan DPR juga lebih erat ketimbang relasi dengan rakyat. Terlebih lagi karena sejumlah elite partai, di antaranya menjabat ketua umum partai, merupakan anggota kabinet pemerintah. Pimpinan DPR dan anggotanya relatif jauh dari jangkauan rakyat yang semestinya mereka wakili. Konsultasi DPR dengan rakyat jarang dilakukan dibandingkan dengan konsultasi dengan pemerintah.

    Sudah waktunya para anggota DPR merenungkan kembali posisinya selama ini, apakah akan tetap menjaga jarak dengan rakyat yang seharusnya mereka wakili atau kembali kepada perannya sejati sebagai wakil rakyat. Bila mereka memilih untuk sepenuhnya setia kepada partai dan elitenya serta kurang bersemangat menyerap aspirasi rakyat, maka tidaklah mengherankan bila kepercayaan rakyat kepada DPR akan semakin merosot. Begitu pula, kepercayaan rakyat kepada partai politik dan elitenya. Ini konsekuensi yang terang benderang. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.