Industri Nikel RI Tak Selamanya Berjalan Mulus - Analisa - www.indonesiana.id
x

sumber foto: ap31.or.id

Meri Ana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Kamis, 25 Februari 2021 17:18 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Industri Nikel RI Tak Selamanya Berjalan Mulus

    Dalam mencapai tujuannya menjadi pemain di era kendaraan listrik dunia, industri nikel Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Melimpahnya bahan baku bukan satu-satunya pertimbangan membangun pabrikan mobil listrik, melainkan juga soal kelstarian lingkungan, sosial, dan tata kelola ESG. Sayangnya, Indonesia dinilai belum siap untuk investasi berkualitas dengan ESG sebagai perhatian utamanya. Apa yang mesti dilakukan?

    Dibaca : 954 kali

    Inilah “lintasan lari” yang sedang ditempuh Indonesia. Terlihat di ujung sana terdapat pita dengan tulisan garis finish yang menjadi destinasi terakhir Sang Garuda. Akankah perjalanan yang dilalui Indonesia selalu berjalan dengan mulus?

    Gebarakan Hilirisasi, Solusi Setelah Larangan Ekspor Bijih Nikel

    Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memiliki keinginan agar Indonesia dapat mandiri dalam mengolah sumber daya alamnya bukan sekedar angin lewat saja. Larangan ekspor bijih nikel di awal tahun 2020 sudah berjalan bersamaan dengan solusinya, hilirisasi nikel. Hilirisasi berarti berkembangnya industri tambang untuk mengolah bahan mentah menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah. 

    Sebelum adanya larangan ekspor, Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian memaparkan data bahwa ekspor bijih nikel Indonesia mencapai US$1,7 miliar dengan nilai pemasukan untuk negara sebesar 25 triliun. Di tahun 2018, ekspor bijih nikel sebesar 20 juta ton, sedangkan tahun 2019 mengalami kenaikan menjadi 30,1 juta ton.

    Tidak lagi bergantung dengan kegiatan ekspor bahan mentah, dari program hilirisasi inilah dibangun pabrik pemurnian nikel atau dikenal dengan smelter. Kehadiran smelter sangat penting dikarenakan memiliki nilai tambah ekonomi 10 kali lipat dibandingkan menjual bijih nikel itu sendiri.

    Pendorong Indonesia untuk Menjadi Raja Baterai Dunia

    Seharusnya, pemikiran anti terhadap modal asing sudah hilang dari publik. Menangkap peluang terhadap modal asing sudah berlangsung lama di Indonesia. Sebab, tidak sedikit pengeluaran yang dibutuhkan untuk membangun pabrik smelter nikel jika RI ingin mencapai garis finish; menjadi raja baterai dunia.

    Dalam lintasan lari ini, pemerintah berupaya untuk menarik investor asing. Dan di tahun 2021, Bahlil Lahadalia selaku Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim sudah ada beberapa perusahaan global yang ingin berinvestasi di Tanah Air, yakni Tesla Inc, Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF), Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), dan LG Energy Solution Ltd

    Bukan hanya sebatas mineral nikel saja yang dapat membantu Indonesia untuk menjadi raja baterai dunia, peran Indonesia dalam menggaet investor asing pun termasuk di dalamnya. Peminat dari luar negeri yang ingin berinvestasi dalam negeri terbilang banyak, hal tersebut dikarenakan melimpahnya cadangan nikel sebagai komponen utama untuk kendaraan listrik, khususnya baterai. 

    Tantangan yang Kini Dihadapi Indonesia

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa di tahun 2021, pemerintah telah memproyeksikan tambahan empat smelter baru yang beroperasi, sehingga totalnya ada 23 unit smelter. Dan diharapkan, target di tahun 2024 mendatang dimana Indonesia akan memiliki 53 smelter yang sudah beroperasi dapat terwujud. Kedepannya, terdapat 4 smelter tembaga, 30 smelter nikel, 11 smelter bauksit, 4 smelter besi, 2 smelter mangan, dan 2 smelter timbal dan seng. 

    Tidak selalu berjalan dengan mulus, Indonesia juga berhadapan dengan batu-batu kerikil. Batu kerikil yang saat ini dihadapi kita adalah kabar perusahaan otomotif Tesla inc yang sebelumnya digembar-gemborkan akan membangun pabrik baterai EV di Indonesia malah berpindah haluan ke India. Apa alasannya?

    Kepala Center of Industry, Trade, and Investment (INDEF), Andry Satrio Nugroho menjelaskan bahwa melimpahnya bahan baku bukan satu-satunya yang menjadi pertimbangan dalam membuat pabrikan mobil listrik melainkan juga pada lingkungan, sosial, dan tata kelola ESG (environmental, social, and governance) serta kemampuan hilir. Sayangnya, Indonesia dinilai belum siap untuk investasi berkualitas dengan ESG sebagai perhatian utamanya. 

    Sementara Bangalore, yang disebut sebagai kota paling hijau di India menjadi alasan perusahaan besutan Elon Musk tersebut memilih India untuk membangun pabrik mobil listrik. 

    Dari kejadian ini, perlu adanya kesadaran dalam menjaga lingkungan dari dampak pabrik mobil. Kita tidak berharap investor asing asingnya menjadi ragu untuk datang ke Indonesia.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.