Ke mana IDI Saat Pilkada, Kok Kini Bikin Polemik Turnamen Sepak Bola? - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Turnamen pramusim

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 5 Maret 2021 06:51 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Ke mana IDI Saat Pilkada, Kok Kini Bikin Polemik Turnamen Sepak Bola?

    Ke mana IDI saat itu? Kok kini repot memperkeruh suasana dan mencoba menyakiti hati rakyat Indonesia yang notabene-nya menjadi salah satu negara dengan publik pecinta sepak bola terbesar di dunia, dan menggantungkan hidup dari sepak bola. Jadi, IDI seharusnya tidak bikin polemik, hargai dan hormati usaha PSSI dan Kemenpora, hargai Polri, harga publik sepak bola nasional. Turnamen pramusim dijadikan ajang ujian. Jadi, meski turnamen baru dibuka dan baru terjadi satu pertandingan, dan ternyata suporter ada yang melanggar, tentu turnamen bisa langsung disetop. Tidak seperti Pilkada, terus jalan meski sudah banyak korban berjatuhan. Bagi para suporter, ayo patuhi aturan yang telah disepakati agar turnamen pramusim lancar, tidak ada pelanggaran protokol kesehatan, hingga tiket izin kompetisi resmi dapat dikantongi, karena turnamen pramusim lulus. Aamiin.

    Dibaca : 867 kali

    Sepak bola Indonesia sudah menjadi gantungan hidup para pelakunya, oleh karena itu, saat Polri sudah memberikan izin bergulirnya turnamen pramusim sebagai ujian sebelum kompetisi resmi digelar, wajib di hormati oleh semua pihak.Ingat, para pelaku sepak bola Indonesia sudah cukup berbesar hati dan terus mematuhi aturan, terutama kompetisi tertingginya harus menepi, meski ribuan orang menaruh gantungan hidup pada sepak bola. Dan, sangat kontradiksi dengan sektor lain yang masih boleh bergulir demi perekonomian dan perut rakyat.

    Sementara kompetisi domestik dan kompetisi internasional di negara lain sudah bergulir tanpa penonton, bahkan sudah ada yang dihadiri suporter ke stadion.

    Saat akhirnya perjuangan PSSI yang didukung oleh Kemenpora dan stakeholder terkait membuahkan hasil dengan meyakinkan polisi bahwa kompetisi akan aman tanpa penonton, semestinya patut dihargai dan patut diuji pelaksanaannya.

    Jangan ada yang mencoba mempengaruhi apalagi membikin polemik di tengah Indonesia yang terus berpandemi masalah tak sekadar pandemi Covid-19.

    Sehingga saat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengkritik Piala Menpora 2021, maka ada pemain yang bersuara lantang dan bertanya, "Kalian Ke mana Saat Pilkada?"

    Meski IDI beralasan dan menganggap bila Piala Menpora 2021 tidak sejalan dengan program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah angka penularan virus corona, hingga impelementasinya tidak sesuai dengan tujuan kebijakan, IDI harus melihat dengan obyektif.

    Ingat ya, IDI, polisi berani memberikan izin itu sebagai ujian untuk PSSI dan PT LIB bisa mendapatkan tiket izin kompetisi resmi Liga 1, 2, 3, dan turunannya. Artinya, bila turnamen pramusim lulus ujian, maka dipastikan karena turnamen berjalan sesuai ketentuan dan protokol yang ditentukan.

    Namun, bila ternyata turnamen pramusim melanggar peraturan protokol kesehatan, tentunya, turnamen bisa dihentikan. Meski, baru tersaji satu atau dua laga. Tidak mungkin dibiarkan berlanjut oleh polisi, karena melanggar aturan.

    Jadi, IDI tidak perlu kebakaran jenggot dulu, pakai acara mengkritik. Apa coba jawaban IDI ketika ada pemain bola yang bertanya ke mana kalian saat Pilkada? Mengapa saat itu IDI tak bersuara, tak mengkritik, dan tak mencegah pelaksanaan Pilkada?

    Ingat, petugas KPPS terpapar corona?

    Pasalnya, akhirnya terbukti bahwa sesuai laporan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) didapati adanya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang terpapar Covid-19 namun tetap bertugas pada saat pencoblosan Pilkada 2020, Rabu (9/12/2020).

    Bahkan, mereka yang terpapar virus corona, tersebar di ribuan tempat pemungutan suara (TPS). Namun, tidak diketahui secara pasti berapa jumlah petugas yang terpapar Covid-19 namun tetap bertugas.

    Mirisnya, terdapat petugas KPPS terpapar Covid-19 yang masih hadir di TPS dan terdeteksi terjadi di 1.172 (TPS). Hal ini bahkan diungkap oleh anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin dalam Live Streaming Hasil Pengawasan Proses Pemungutan Suara di channel Youtube Bawaslu RI, Rabu (9/12/2020).

    Dari seluruh petugas KPPS yang terpapar corona, kira-kira betapa ribu rakyat yang akhirnya ikut tertular? Namun, tidak ada berita yang mengungkap. Semua dibikin seperti ditelan bumi.

    Seharusnya, sebelum kejadian itu, IDI keras bersuara. Sebab, masyarakat dan berbagai pihak pun sudah berbuih-buih bersuara, tetapi yang punya kuasa saat itu tetap mengganggap angin lalu, karena yang dipikiran dan hatinya, Pilkada tak boleh diganggu, karena ada kepentingan dan kontrak yang mustahil dibatalkan dengan para cukong yang telah menggelontorkan dana untuk Pilkada.

    Gelontoran dana itu pun diungkap oleh salah satu menteri, ada lebih dari 93 persen calon kepala daerah di seluruh Indonesia didanai cukong.

    Ke mana IDI saat itu? Kok kini repot memperkeruh suasana dan mencoba menyakiti hati rakyat Indonesia yang notabene-nya menjadi salah satu negara dengan publik pecinta sepak bola terbesar di dunia, dan menggantungkan hidup dari sepak bola.

    Jadi, IDI seharusnya tidak bikin polemik, hargai dan hormati usaha PSSI dan Kemenpora, hargai Polri, harga publik sepak bola nasional. Turnamen pramusim dijadikan ajang ujian. Jadi, meski turnamen baru dibuka dan baru terjadi satu pertandingan, dan ternyata suporter ada yang melanggar, tentu turnamen bisa langsung disetop. Tidak seperti Pilkada, terus jalan meski sudah banyak korban berjatuhan.

    Bagi para suporter, ayo patuhi aturan yang telah disepakati agar turnamen pramusim lancar, tidak ada pelanggaran protokol kesehatan, hingga tiket izin kompetisi resmi dapat dikantongi, karena turnamen pramusim lulus. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.